Pemerintah berencana memperluas pasar ekspor beras Indonesia ke Malaysia, Filipina, hingga Papua Nugini. Langkah ini dilakukan setelah Indonesia ekspor perdana beras ke Arab Saudi untuk keperluan jemaah haji.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengatakan ekspor beras ke berbagai negara lain juga dipertimbangkan seiring meningkatnya produktivitas beras dalam negeri.
Menurut dia, produksi beras nasional yang meningkat membuat Indonesia memiliki peluang untuk menyalurkan kelebihan pasokan ke pasar internasional.
“(Selain ke Arab) ada, ya negara tetangga, Papua Nugini terus, Malaysia, Filipina. Kita kan lagi ini kita bahas, karena produktivitas kita kan tinggi, jadi mau gak mau kita memang mesti ekspornya,” kata Sudaryono di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (12/3).
Dia menjelaskan, pemerintah saat ini masih membahas detail rencana ekspor tersebut, termasuk kebutuhan beras dari masing-masing negara tujuan. Hal ini diperlukan agar volume ekspor yang dikirim bisa sesuai dengan permintaan pasar.
“Namanya kita kita mau jualan kan, dia (negara tujuan) butuh berapa kita mesti tau dulu ya,” imbuhnya.
Banyak Negara yang Mau Urea RI
Selain beras, Sudaryono juga menyebutkan banyak negara yang menginginkan urea asal Indonesia. Sehingga Indonesia akan mengekspor urea ke berbagai negara salah satunya Australia.
Terlebih menurut dia Indonesia merupakan salah satu negara produsen urea terbesar di dunia.
“Ada beberapa lah negara, ada Australia ada mana-mana gitu, banyak lah yang juga minta, karena kita kan salah satu produksi urea terbesar di dunia ya,” katanya.
Meski demikian, Sudaryono mengatakan pemerintah tidak akan menerapkan kebijakan kewajiban pasok dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) khusus untuk pupuk urea yang diekspor.
Menurut dia, pemenuhan kebutuhan domestik memang sudah menjadi kewajiban utama sebelum ekspor dilakukan.
Dia menjelaskan, peluang ekspor pupuk urea akan dimanfaatkan dengan mengoptimalkan pabrik-pabrik lama yang sebelumnya direncanakan untuk dihentikan operasinya. Pemerintah berencana menghidupkan kembali pabrik tersebut agar kapasitas produksi dapat meningkat.
“Nah ada potensi ekspor, nah potensi ekspor itu kita genjot dari pabrik-pabrik tua kita yang tadinya mau kita suntik mati kita hidupin lagi,” tuturnya.





