Nestapa Para Pengais Rezeki di Gunungan Sampah Bantargebang

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Selama 10 tahun terakhir, Surya (42) menjadi pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Setiap ada truk yang akan membuang sampahnya, dia bersiaga menunggu untuk berburu sampah.

Ketika sampah telah diturunkan, ia segera mencari gelas plastik, besi, dan kaleng untuk diambil dan dijual kembali. "Kalau orang kota tidak mau memilahnya, biar kami yang pilah," kata Surya, Kamis (11/3/2026).

Setiap hari, Surya berburu sampah mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Tentu saja dia tidak sendiri karena banyak pemulung lain di TPST Bantargebang. "Kantor kami ya Bantargebang ini," tutur warga Indramayu, Jawa Barat, itu sambil tersenyum.

Surya menyadari, saat memungut sampah, ada bahaya yang mengintai, seperti potensi longsoran sampah. Untuk meminimalisir risiko, terkadang dia mengurangi jam kerja saat hujan mengguyur. "Kalau sampah baru, pasti rawan longsor. Berbeda jika sampah lama yang lebih kokoh walau sudah menggunung," ucapnya.

Sebelumnya, gunungan sampah di TPST Bantargebang mengalami longsor pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB. Akibat kejadian ini, sebanyak 7 orang tewas.

Tragedi longsoran sampah di zona 4 itu menjadi alarm bagi Surya untuk lebih waspada. "Peristiwa itu sangat mengerikan, ya tapi kami tetap harus bekerja," ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan Jaka (58) yang sejak 1990 telah memulung sampah di Bantargebang. Barang yang ia buru pun tak berbeda dengan Surya. Dia menyebut, pendapatannya dari mengumpulkan sampah tidaklah tentu.

Jaka menuturkan, dalam 10 hari terakhir dirinya telah mengumpulkan sampah dengan nilai sekitar Rp 1 juta-Rp 1,5 juta. Namun, bencana longsoran sampah yang terjadi pada Minggu lalu telah menyapu semua hasil jerih payahnya itu. "Sekarang saya mulai lagi dari awal," ujarnya.

Tidak hanya, sampah pilahannya, longsoran sampah juga telah merusak sepeda motor dan gerobak sampah miliknya. Total kerugiannya akibat bencana itu mencapai Rp 5 juta. Setelah kejadian itu, dia pun memutuskan untuk tidak bekerja sementara waktu karena masih merasa trauma.

Baca JugaPenolong Itu Pergi Tergilas Sampah

Murni Sinambela (47) juga bekerja di sekitar TPST Bantargebang, tetapi bukan sebagai pencari sampah. Sejak 20 tahun lalu, dia membuka warung makan di sekitar gunungan sampah TPST Bantargebang. Selain pemulung, pelanggan warung itu antara lain operator, pengawas, dan sopir truk sampah.

Dari usaha itu, Murni memperoleh pendapatan sekitar Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per hari. "Kalau keuntungan ya sekitar Rp 100.000-Rp 150.000 per hari. Tapi tidak tentu juga tergantung dari ramainya orang yang datang," ujar ibu satu anak itu.

Murni juga menjadi salah seorang saksi mata tragedi longsoran sampah pada Minggu (8/3) lalu. "Saya lihat tetangga warung saya, Sumini, dan menantunya, Enda Widayanti (25), ikut menjadi korban," katanya.

Bahkan, saudara Murni, Jussova Situmorang (38), turut menjadi korban saat sedang mengumpulkan baju bekas yang dibuang. "Dia terbiasa mengambil baju bekas dari Jakarta, lalu dijual lagi ke Tanah Abang dan Senen," kata Murni.

Bagi Jaka, Surya, dan Murni, gunungan sampah di TPST Bantargebang merupakan ladang rezeki sekaligus ancaman bagi mereka. "Kami mencari uang di sini (gunungan sampah), namun juga bisa mati di tempat yang sama," kata Murni.

Baca JugaBantargebang, Sampah Bukan soal TPA

Namun, desakan ekonomi mengharuskan mereka mempertaruhkan nyawa demi mengisi perut dirinya dan keluarga. Untuk menghindari bahaya, Murni memilih membuka warung di tempat yang jauh dari lokasi yang pernah longsor atau bukan di lokasi sampah baru. Itulah kenapa, dia memilih membangun warung di Zona 5 TPST Bantargebang, bukan di Zona 4.

Alasannya, karena gunungan sampah Zona 4 TPST Bantargebang sudah pernah longsor dan merupakan area buangan sampah baru. Sebelum kejadian pada Minggu lalu, di Zona 4 juga pernah terjadi longsor pada dua bulan lalu. Saat itu, tiga truk ikut tergulung longsoran sampah, tetapi tidak ada korban.

"Saya juga tidak pernah mendirikan warung di tempat pembuangan, namun lebih memilih di area antrean," tutur Murni.

Tragedi kemanusian

Ketua Koalisi Persampahan Nasional Bagong Suyoto menuturkan, di balik gunungan sampah, ada orang yang mencari rezeki, seperti pemulung, sopir truk sampah, pedagang kecil, operator, dan pengawas.

"Pemulung dan pedagang kecil itu hanya mencari sesuap nasi untuk bisa makan sehari. Jika besok tidak bekerja, belum tentu bisa makan, kecuali cari pinjaman," katanya.

Kami mencari uang di sini (gunungan sampah), namun juga bisa mati di tempat yang sama

Itulah sebabnya, saat terjadi bencana di TPST Bantargebang, mereka akan terdampak lebih dulu. Saat musibah longsoran sampah terjadi pada Minggu lalu, kebanyakan korban adalah pemulung, pemilik warung, dan sopir truk yang memang sehari-hari mencari rezeki di sana.  

"Korban mati tertimbun sampah merupakan tragedi kemanusian yang menyayat hati," ujar Bagong.

Tragedi itu juga mengungkap kondisi pengelolaan sampah yang sangat miris di TPST Bantargebang. Berbagai jenis sampah terus-menerus dibuang ke TPST itu. Padahal, sampah makanan, sampah organik, serta sampah hotel, restoran, apartemen, gedung perkantoran, dan mal, harusnya dikelola secara mandiri. Sampah-sampah itu tidak boleh dibuang ke TPST, kecuali residunya.

"Terus terang, kita tidak boleh menyepelekan masalah sampah. Selayaknya pengelolaan sampah harus diprioritaskan dalam pembangunan tingkat nasional maupun daerah. Kita tidak bisa lagi memandang sampah dengan sebelah mata," ujar Bagong.

Timbulan sampah yang sudah mencapai ribuan ton itu pun harus ditangani secara serius, berkelanjutan dan profesional. Pengelolaan sampah harus melaksanakan mandat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Baca JugaApa yang Memicu Bencana Longsor di TPST Bantargebang?

Pengelolaan sampah juga mesti mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga serta Peraturan Daerah DKI Jakarta tentang Pengelolaan Sampah.

Pengelolaan sampah harus dilakukan dari sumber sesuai hierarkinya. Aktivitas itu melibatkan berbagai pihak secara kolaboratif dengan dukungan teknologi ramah lingkungan. Jika semua bergerak, tidak akan muncul gunung-gunung sampah.

"Kasus gunung sampah longsor di TPST Bantargebang hendaknya jadi pelajaran berharga. Berhati-hatilah mengelola gunung-gunung sampah, potensi malapetaka sampah menanti," ungkap Bagong.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan, TPST Bantargebang sudah berdiri sejak 37 tahun lalu. Di sana, ada lebih dari 80 juta ton sampah menumpuk.

Gunungan sampah dengan tinggi berkisar 50-73 meter itu pun menjadi ancaman besar bagi semua orang yang bekerja di sekitarnya. Tragedi kemanusian yang menelan tujuh korban jiwa pada Minggu lalu membuktikan betapa berbahayanya gunungan sampah.

Baca JugaLongsor Sampah Bantargebang Buka Memori Kelam Ledakan di Leuwigajah, Cimahi

"Ada tujuh warga negara kita yang terenggut nyawanya. Mereka tidak sepatutnya meninggal di tempat sampah," ujar Hanif. Oleh karena itu, tragedi ini harus menjadi pelajaran berharga buat semua pihak, khususnya masyarakat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Langkah-langkah penanganan lebih lanjut harus benar-benar kita lakukan. Secara sistematik dan secara terstruktur, kita wajib akhiri kegiatan open dumping (pembuangan terbuka) di TPST Bantargebang yang telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat besar," tegas Hanif.

Hanif menuturkan, total sampah di Jakarta kini berjumlah sekitar 8.000 ton per hari, Sampah itu diproduksi oleh warga Jakarta yang saat ini berpopulasi sekitar 11 juta orang. 

Dari 8.000 ton per hari tersebut, sekitar 1.000 ton di antaranya berasal dari pasar, hotel, restoran, kafe, tempat wisata, stasiun, terminal, dan lainnya. Para pengelola tempat-tempat itu pun diharapkan bisa mengelola sampahnya sendiri. "Dengan begitu, diharapkan 50 persen sampah akan tereduksi di rumah tangga kita masing-masing," katanya.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta dengan dukungan DPRD DKI Jakarta wajib mengalokasikan ruang, waktu, anggaran, dan tenaga untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Segera lakukan aktivasi pada segala fasilitas penanganan sampah yang sudah terbangun.

Beberapa di antaranya adalah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan dengan kapasitas 2.500 ton per hari, RDF di Bantargebang dengan kapasitas 2.000 ton per hari, serta pembangkit listrik tenaga sampah dengan kapasitas 100 ton per hari. "Semua harus difungsikan dengan optimal,” ungkap Hanif.

Tragedi longsornya gunungan sampah ini harus menjadi titik balik penanganan sampah di Jakarta. Mari kita jaga Surya, Jaka, Murni, dan orang-orang lain yang bekerja di TPST Bantargebang dari ancaman tumpukan sampah yang semakin menggunung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Berikan Relaksasi KUR untuk UMKM Terdampak Bencana di Sumatera
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menhan Banyak Urusan, Gian Kasogi: Isu Keamanan Jangan Jadi Instrumen Politik Menuju 2029
• 23 jam lalusuara.com
thumb
Armada Kapal Hantu Ditemukan di Selat Hormuz, 1.100 Kapal Tanker Minyak Dilanda Kerusakan Navigasi
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
BPH Migas Pastikan Pasokan LPG Nasional Aman Selama Ramadan dan Idulfitri
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Modus Borong Belanjaan, Wanita di Tambora Curi Rp 2,6 Juta dari Kasir Minimarket
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.