Ekspor Minyak Iran Tetap Mengalir di Selat Hormuz Meski Serangan Memanas

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ekspor minyak mentah Iran tetap berjalan melalui Selat Hormuz dengan laju yang hampir normal, meskipun konflik di kawasan Timur Tengah memicu gangguan besar terhadap pengiriman minyak negara-negara Teluk lainnya.

Berdasarkan penelusuran data pelacakan kapal tanker oleh Reuters, minyak Iran masih terus dikirim melalui jalur pelayaran strategis tersebut meski serangan yang terkait dengan Teheran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz telah merusak aktivitas ekspor negara-negara di kawasan Teluk.

Analisis dari TankerTrackers.com menunjukkan Iran telah mengekspor sekitar 13,7 juta barel minyak mentah sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke negara tersebut pada 28 Februari.

Perusahaan intelijen maritim itu dikenal memantau jaringan kapal yang disebut 'armada bayangan', yang digunakan untuk mengangkut minyak dan gas dari negara-negara yang terkena sanksi Barat.

Sementara itu, layanan pelacakan kapal Kpler memperkirakan volume ekspor Iran pada 11 hari pertama Maret bahkan lebih besar, yakni sekitar 16,5 juta barel.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran membalas serangan Israel dan AS dengan menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz serta infrastruktur energi di berbagai wilayah Timur Tengah.

Dampaknya, jalur pelayaran bagi kapal non-Iran di rute utama ekspor minyak kawasan tersebut hampir terhenti sehingga produsen energi di wilayah itu terpaksa memangkas produksi.

Di tengah situasi tersebut, ekspor minyak Iran tetap berjalan tanpa adanya laporan upaya pencegahan dari pihak luar.

Kondisi ini berbeda dengan pendekatan yang pernah dilakukan AS terhadap Venezuela, ketika Washington menerapkan blokade laut dan menyita kapal yang mencoba keluar masuk perairan negara tersebut.

"Saya terkejut, mengingat keberhasilan penyitaan kapal-kapal terkait Venezuela pada Desember lalu, bahwa AS tidak memulai kampanye serupa sebelum konflik ini dimulai, atau belum melakukannya hingga saat ini," kata David Tannenbaum, Direktur di Perusahaan Konsultan Blackstone Compliance Services.

Di sisi lain, analis menilai langkah AS untuk menghentikan kapal tanker yang terkait dengan Iran berpotensi memperburuk ketegangan di jalur pelayaran tersebut.

Analis minyak dan perkapalan dari Next Barrel, Matias Togni, menilai upaya tersebut bisa memicu lebih banyak serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pakar pembiayaan perkapalan sekaligus pendiri Cavalier Shipping, James Lightbourn, mengatakan selama Iran masih mengoperasikan kapalnya di wilayah itu, Teheran memiliki kepentingan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setidaknya dalam batas tertentu.

"Jika AS menyita kapal tanker, hal itu akan mengurangi kerugian bagi Iran jika selat tersebut ditutup sepenuhnya (misalnya dengan ranjau)," kata Lightbourn.

Gedung Putih di bawah Presiden AS Donald Trump belum memberikan tanggapan terkait kemungkinan langkah Washington terhadap ekspor minyak Iran.

Ekspor Mendekati Pola Tahun Lalu

Data TankerTrackers.com dan Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Iran sejak 28 Februari hingga 11 Maret berada di kisaran 1,1 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Angka tersebut mendekati rata-rata ekspor Iran pada tahun lalu yang mencapai 1,69 juta barel per hari menurut catatan Kpler.

Dalam beberapa hari ke depan, laju pengiriman diperkirakan masih dapat meningkat. Sejumlah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar masih melakukan proses pemuatan di pusat ekspor Pulau Kharg, Iran, berdasarkan citra satelit yang dianalisis TankerTrackers.com.

Sebelum serangan pada 28 Februari, Iran bahkan sempat meningkatkan ekspor minyak hingga sekitar 2,17 juta barel per hari pada Februari sebagai antisipasi terhadap potensi aksi militer Israel dan AS. Menurut data Kpler, ekspor minyak Iran juga sempat mencapai rekor sekitar 3,79 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 16 Februari.

Sejak 28 Februari, setidaknya enam kapal tanker minyak mentah telah meninggalkan Iran, termasuk kapal Cuma yang dikenai sanksi AS. Selain itu, dua kapal tanker gas petroleum cair yang juga terkena sanksi AS dilaporkan berlayar keluar dari Iran pada Jumat setelah memuat kargo.

Analisis terpisah menunjukkan sedikitnya 11 juta barel minyak mentah telah dikirim dari Iran. Empat kapal tanker super yang membawa sekitar 8 juta barel di antaranya telah tiba di perairan sekitar Singapura.

Data pelayaran menunjukkan kapal-kapal tersebut mengikuti pola perjalanan yang sama di dalam zona ekonomi eksklusif Iran yang membentang hingga 24 mil laut, atau melampaui batas teritorial sejauh 12 mil laut.

Sumber dari industri pelayaran menilai pola tersebut kemungkinan dimaksudkan untuk memberikan perlindungan bagi kapal tanker dengan tetap menjaga mereka berada di wilayah perairan Iran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Momentum Ramadhan, IHGMA Jawa Timur Ajak Ngabuburit dan Bukber Anak Panti Asuhan
• 10 jam laluerabaru.net
thumb
Kerja Sama BUMI-RMKE Buka Cuan Logistik Batu Bara di Sumatera Selatan
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rekap Hasil Liga Champions Dini Hari Tadi: PSG Bantai Chelsea, Real Madrid Hantam Man City
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
LPDB Koperasi Ajak Generasi Muda Bangun Ekonomi Bersama Lewat Koperasi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Ucapan Aktor China Zhang Linghe Dianggap Rasis, Fans Asia Tenggara Marah
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.