JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) pada jam-jam sibuk belakangan ini disebut berkaitan dengan keputusan sebagian driver yang memilih mematikan aplikasi atau mengabaikan pesanan.
Langkah itu dilakukan ketika tarif perjalanan dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus mereka keluarkan.
Fajar (39), salah seorang pengemudi ojek online, mengatakan tarif yang diterima driver kerap dianggap terlalu kecil. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengemudi memilih melewatkan pesanan atau mematikan aplikasi pada waktu-waktu tertentu.
Baca juga: Restoran Online Ikut Terdampak “Krisis Ojol”: Pesanan Lama Diantar, Pelanggan Komplain
"Ya, kami ngerasa itu argonya tidak sesuai. Jadi mending kita lewatin atau kita matiin aplikasi," ujarnya saat ditemui Kompas.com di kawasan Ancol pada Kamis (12/3/2026).
Fajar menjelaskan, dalam aplikasi ojek online terdapat fitur yang memungkinkan pengemudi menerima pesanan secara otomatis atau memilih pesanan secara manual.
Sebagian pengemudi memilih mematikan fitur otomatis tersebut agar dapat menyaring pesanan yang masuk tanpa harus langsung menerimanya.
"Ada yang autobid itu berarti lu dapet orderan langsung harus diterima. Ada juga yang autobid-nya dimatiin. Jadi, begitu orderan masuk terserah kami nih mau diambil apa kami abaikan," ujarnya.
Menurut Fajar, tarif yang diterima driver saat ini sering kali berada di bawah angka yang dianggap layak oleh pengemudi. Kondisi lalu lintas yang macet juga menjadi pertimbangan driver dalam memutuskan apakah akan menerima pesanan atau tidak.
"Kadang-kadang jauh di bawah itu, kadang sampai Rp 1.000 perak per kilometer," ungkapnya.
Ia mengaku terkadang mematikan aplikasi pada jam-jam sibuk. Biasanya hal itu dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB serta sore hingga malam hari sekitar pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.
Baca juga: Drama “Krisis Ojol” di Jabodetabek: Cari Driver Lama, Pesan Makanan Online sampai Dingin
"Selebihnya sih ya biarin aja nyangkut gitu," katanya.
Fajar menambahkan, pendapatan pengemudi ojek online saat ini dinilai jauh berbeda dibandingkan saat layanan tersebut baru mulai berkembang beberapa tahun lalu.
"Beda banget. Kalau zaman dulu mah, ya bisalah lu dapet Rp 300.000 atau Rp 400.000 cuma tiujuh jam sampai delapan jam kerja ya. Sekarang, nyari Rp. 100.000 bersih aja, bisa 12 jam juga belum tentu ketemu kadang-kadang," tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




