Ora Mung Kudu Bener, Nanging Kudu Pener: Hikmah Kebijaksanaan dalam Pendidikan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dalam filosofi Jawa terdapat ungkapan sederhana namun sarat makna: Ora mung kudu bener, nanging kudu pener. Secara harfiah, ungkapan ini berarti tidak hanya harus benar, tetapi juga harus tepat. Kebenaran saja belum tentu cukup; ia perlu disampaikan dengan cara, waktu, dan sikap yang tepat agar benar-benar membawa kebaikan.

Filosofi ini mengajarkan bahwa kebenaran bukan sekadar soal isi, tetapi juga soal kebijaksanaan dalam menyampaikan dan menerapkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja benar dalam argumen atau pendapatnya, tetapi jika disampaikan dengan cara yang menyakitkan, merendahkan, atau tidak pada tempatnya, maka kebenaran itu justru dapat melukai orang lain.

Dalam dunia pendidikan, prinsip bener lan pener menjadi sangat relevan. Guru, kepala sekolah, dan seluruh tenaga pendidik setiap hari berhadapan dengan berbagai situasi yang menuntut keputusan dan sikap yang bijaksana. Seorang guru mungkin benar ketika menegur siswa yang melanggar aturan. Namun, jika teguran itu disampaikan dengan nada marah di depan banyak orang, tanpa mempertimbangkan perasaan siswa, maka kebenaran tersebut belum tentu menjadi tindakan yang pener.

Sebaliknya, ketika seorang guru menegur dengan cara yang mendidik—memilih waktu yang tepat, menggunakan bahasa yang bijak, serta mengedepankan tujuan pembinaan—maka kebenaran itu menjadi pener. Dalam situasi seperti ini, siswa tidak hanya mengetahui bahwa ia salah, tetapi juga merasa dihargai sebagai pribadi yang sedang belajar menjadi lebih baik.

Hal yang sama juga berlaku dalam kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah sering dihadapkan pada keputusan-keputusan penting: menegakkan disiplin, mengevaluasi kinerja guru, atau menentukan kebijakan bagi sekolah. Keputusan yang benar secara aturan belum tentu diterima dengan baik jika tidak dikomunikasikan dengan empati dan kebijaksanaan. Di sinilah makna pener menjadi penting—bagaimana kebenaran diterapkan dengan mempertimbangkan konteks, situasi, dan kemanusiaan.

Filosofi ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kebijaksanaan hidup. Sekolah bukan hanya tempat belajar mana yang benar dan salah, tetapi juga tempat belajar bagaimana bersikap tepat terhadap kebenaran tersebut. Peserta didik perlu belajar bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan kecerdasan moral dan sosial.

Dalam praktiknya, guru dapat menanamkan nilai ini melalui berbagai cara: membangun dialog yang menghargai pendapat, memberikan umpan balik yang membangun, serta menunjukkan teladan dalam bersikap. Ketika siswa melihat bahwa gurunya tidak hanya benar tetapi juga bijaksana dalam bertindak, mereka belajar bahwa kebenaran sejati selalu berjalan bersama kebijaksanaan.

Pada akhirnya, filosofi ora mung kudu bener, nanging kudu pener mengingatkan kita bahwa pendidikan yang baik tidak hanya melahirkan orang-orang yang pandai berargumen, tetapi juga pribadi yang bijaksana dalam bertindak. Sebab dalam kehidupan, yang dibutuhkan bukan hanya orang yang benar, melainkan orang yang mampu menempatkan kebenaran pada tempat yang tepat.

Dengan demikian, dunia pendidikan memiliki peran penting untuk menumbuhkan generasi yang tidak hanya bener, tetapi juga pener: benar dalam nilai, tepat dalam sikap, dan bijaksana dalam tindakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Saham Top Gainer Perdagangan Kamis 12 Maret 2026, KUAS Pimpin Kenaikan
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Naik Lagi, Intip Update Harga Terbaru Emas di Pegadaian pada 12 Maret 2026
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026, Kapolri: Wujudkan Mudik Aman, Keluarga Bahagia
• 12 jam laludetik.com
thumb
Lowongan Kerja BCA MT Program 2026 Dibuka: Fresh Graduate Bisa Daftar, Ini Syarat dan Jadwalnya
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 12 Maret 2026, Cek Lokasi dan Persyaratan
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.