Cerita Diaspora RI dari Kota Dekat Selat Hormuz saat Perang Iran-AS Memanas

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Perang antara Iran dan Amerika Serikat–Israel yang kini memasuki pekan kedua belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan rudal dan drone masih terjadi di berbagai titik kawasan Timur Tengah, termasuk di sekitar wilayah Teluk.

Namun, kehidupan warga Uni Emirat Arab (UEA) tetap berjalan relatif normal meski dalam mode waspada. Annisa Gultom, warga negara Indonesia yang tinggal di Ras Al Khaimah, mengatakan, masyarakat tetap menjalani rutinitas sehari-hari dengan sejumlah penyesuaian.

Letak Ras Al Khaimah yang berada di bagian paling utara UEA juga membuat wilayah ini relatif dekat dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Setiap eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan ini kerap memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi global.

Meski demikian, warga setempat tampaknya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan dinamika geopolitik kawasan. Ras Al Khaimah sendiri memiliki sejarah panjang ketegangan dengan Iran, termasuk sengketa wilayah di Kepulauan Tunb sejak awal 1970-an.

Di tengah situasi saat ini, sekolah mengaktifkan pembelajaran jarak jauh, pekerja luar ruangan sementara diistirahatkan, dan pemerintah secara berkala mengirim pengumuman serta peringatan melalui sirine untuk mengingatkan warga.

"Setiap ada situasi yang mengharuskan kami untuk take shelter, pengumuman dan sirine berbunyi dari gawai pribadi," ujar Annisa saat dihubungi Katadata.co.id melalui surat elektronik pada pekan ini.

Meski situasi memanas, Annisa menilai warga lokal relatif tenang menghadapi kondisi tersebut. Ia tidak melihat adanya aksi memborong barang atau panic buying di Ras Al Khaimah maupun wilayah UEA secara umum.

"Saya lihat memang ada konten seperti itu di Dubai, tapi di Spinneys, jaringan supermarket Inggris yang sebagian besar menjual barang impor. Sepertinya yang lebih panik dengan situasi ini di media sosial adalah para ekspatriat," kata dia.

Menurut Annisa, ketenangan itu juga dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pangan lokal. Sejak era 1960-an, UEA telah mengembangkan sumber sayuran dan ternak di wilayah yang memiliki mata air, seperti Ras Al Khaimah, Al Ain, Masafi, dan Fujairah.

Hal tersebut membuatnya yakin tidak akan terjadi kelangkaan pangan meski situasi geopolitik memanas.

Selain itu, berbagai program bank makanan juga tersedia di sejumlah wilayah UEA, terutama selama Ramadan. Program ini tidak hanya menyediakan takjil atau makanan ringan untuk berbuka puasa, tetapi juga makanan utama lengkap bagi para pekerja dengan penghasilan rendah.

Bank makanan tersebut diselenggarakan oleh Palang Merah, instansi publik, maupun inisiatif pribadi. Warga yang membutuhkan cukup mengantre tanpa perlu menunjukkan dokumen identitas.

"Biasanya mereka mendirikan tenda-tenda temporer berwarna putih di titik-titik strategis," kata dia.

Annisa juga mengapresiasi kesiapsiagaan pemerintah UEA dalam menjaga kepercayaan publik selama situasi memanas. Menurut dia, pemerintah cukup aktif memberikan informasi dan pembaruan situasi kepada masyarakat.

"Informasi dan update yang diberikan cukup memuaskan. Bahkan ada panduan untuk menjelaskan situasi yang terjadi kepada anak-anak," ujarnya.

Pemerintah UEA juga berulang kali mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial, termasuk tidak menyebarkan dokumentasi visual yang dapat membahayakan posisi atau keselamatan warga.

Annisa, yang menjabat sebagai Direktur di Museum Nasional Ras Al Khaimah, mengatakan dirinya selalu memastikan akurasi informasi ketika muncul kabar mengenai jatuhan pecahan drone atau misil di sekitar wilayah tersebut. Setelah itu, ia memberikan pengarahan terbatas kepada staf yang tinggal di area dekat lokasi insiden.

"Supaya semua bisa mengambil langkah yang terukur tanpa menimbulkan kepanikan," kata dia.

Menurut Annisa, warga negara Indonesia yang tinggal di UEA juga relatif tenang menghadapi situasi ini. Sejauh pengamatannya, belum ada rencana kepulangan besar-besaran dari diaspora Indonesia.

Ia sendiri belum berencana kembali ke Indonesia dalam waktu dekat karena memiliki agenda keluarga yang sudah direncanakan tahun ini.

"Bapak yang produksi tempe rumahan pun masih adem ayem saja, karena kami memang memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah UEA," kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolri Siapkan Rute Alternatif Antisipasi Cuaca Buruk dan Potensi Bencana Selama Arus Mudik 2026
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Asa Para Pedagang di Bandung di Balik Warna-Warni Busana Lebaran
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Berhamburan Keluar Rumah Saat Gempa M 5,4 Guncang Sukabumi
• 2 jam laludetik.com
thumb
Puluhan Ribu Jamaah Umrah RI Tertahan di Arab Saudi, Pemerintah Perpanjang Visa
• 18 jam laludisway.id
thumb
Ada Lagi Polisi Berkasus Narkoba Dapat Jatah Bandar, Proses Pidana Dinanti
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.