Harga Minyak Brent Tembus US$100 per Barel

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam setelah gangguan pasokan besar terjadi di kawasan Teluk Persia. Minyak mentah acuan global Brent Crude Oil menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022 pada penutupan perdagangan Kamis waktu Amerika (Jumat, 13/3/2026 di Indonesia). Kenaikan ini dipicu oleh jutaan barel minyak yang masih terperangkap di jalur pelayaran utama kawasan tersebut sehingga memicu salah satu gangguan pasar minyak terbesar dalam sejarah.

Mengutip Bloomberg, harga minyak Brent bertengger pada level US$100,46 per barel. Sedangkan minyak yang produksi terbesarnya di Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) dijual dengan harga lebih rendah yakni US$95,73 per barel. Meski demikian, harga WTI menjadi yang tertinggi saat penutupan dalam 4 tahun terakhir.   

Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan di Teluk Persia setelah sejumlah serangan terhadap kapal tanker. Kondisi ini menandakan meluasnya hambatan pelayaran oleh Iran di luar jalur vital Selat Hormuz. Dalam perdagangan yang sama, minyak mentah acuan Amerika Serikat.

Baca Juga

  • Arah Harga Emas Setelah Inflasi Tersulut Harga Minyak dari Teluk Persia
  • Biaya Pengiriman Minyak Amerika ke Asia Melonjak Tajam
  • Ramalan Harga Minyak dari Goldman Hingga JPMorgan Setelah Perang Iran Vs AS-Israel Meluas

Lonjakan harga Brent di atas US$100 dinilai sebagai ambang psikologis penting bagi pasar energi global. Sejumlah pelaku pasar menilai tekanan politik untuk meredakan konflik dan menahan lonjakan biaya energi dapat meningkat terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa Iran tanpa senjata nuklir 'jauh lebih menarik dan penting' dibandingkan dengan pergerakan harga minyak.

Meski demikian, tanda-tanda normalisasi pasokan masih belum jelas. Harga sempat terkoreksi dalam perdagangan reguler setelah laporan kantor berita Agence France-Presse menyebutkan bahwa Iran mengizinkan sejumlah kapal melintasi jalur pelayaran tersebut dan tidak memasang ranjau. Namun sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran yang baru menyatakan jalur air itu seharusnya tetap ditutup.

Sementara itu, International Energy Agency memperingatkan bahwa gangguan pasokan yang terjadi saat ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Volatilitas harga juga semakin tajam karena perpindahan aliran dana dari pasar opsi ke instrumen investasi berbasis bursa seperti exchange traded fund (ETF), yang memperbesar pergerakan harga di pasar energi dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rumah Warga Cirebon Ludes Terbakar Gara-Gara Anak Main Petasan di Ruang Tamu
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jadwal Buka Puasa Hari Ini: 12 Maret 2026 di Bandung
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Konflik Energi: Asia Terjepit Krisis Selat Hormuz
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
Drama "Yumi’s Cells" musim ketiga akan tayang pada April 
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Polda Sumbar Gerebek Tambang Emas Ilegal di Sawahlunto, Sarana Tambang Dibakar
• 8 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.