Pengamat: Potongan Aplikator 20 Persen Bisa Bikin Driver Enggan Ambil Order

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Potongan biaya dari perusahaan aplikasi yang mencapai sekitar 20 persen dinilai dapat memengaruhi minat pengemudi ojek online (ojol) dalam menerima pesanan.

Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai potongan tersebut berpotensi membuat sebagian pengemudi menjadi lebih selektif dalam mengambil order.

“Mungkin potongan dari aplikator yang sekitar 20 persen itu tidak menarik bagi driver ojol,” kata Deddy saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/3/2026).

Baca juga: Soal Fenomena Krisis Ojol, Pengamat Sebut Driver Kini Selektif Ambil Order

Menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan pengemudi di lapangan pada waktu-waktu tertentu.

Di media sosial, keluhan mengenai sulitnya mendapatkan ojol memang tengah ramai dibicarakan warganet. Sebagian pengguna bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “krisis ojol”.

Dari berbagai informasi yang beredar di media sosial maupun komunitas pengemudi, muncul dugaan bahwa fenomena ini berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan yang diterima pengemudi dan biaya operasional yang mereka keluarkan.

Sejumlah pengemudi disebut memilih off bid atau tidak mengambil pesanan pada jam-jam tertentu, terutama saat lalu lintas sangat macet.

Baca juga: Susah Dapat Ojol Saat Jam Sibuk? Ini Dugaan Penyebabnya

Mereka menilai waktu tempuh perjalanan yang panjang tidak sebanding dengan tarif yang diterima.

Deddy menjelaskan, fenomena tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari posisi ojek online dalam sistem transportasi perkotaan.

Menurut dia, ojol pada dasarnya bukan bagian dari sistem transportasi nasional, melainkan transportasi privat atau paratransit yang bersifat layanan antar-jemput langsung (door to door service).

Karena itu, ia menilai yang lebih penting bagi kota-kota besar adalah penguatan sistem transportasi umum yang terintegrasi antar moda.

Baca juga: Fenomena “Krisis Ojol”, Pengamat: Mobilitas Warga Tak Hanya Ditopang Ojol

“Transportasi perkotaan yang mutlak dibutuhkan adalah sistem integrasi antar moda. Di negara-negara yang transportasinya maju, sebenarnya tidak ada ojol, karena sejatinya ojol itu fenomena sosial, bukan kebutuhan transportasi semata,” ujar Deddy.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sebagai solusi, ia mengusulkan adanya pembatasan jumlah pengemudi ojek online agar keseimbangan antara tarif dan jumlah pengemudi dapat terjaga.

“Solusinya adalah ada batasan kuota ojol sehingga tarif ideal bisa dinikmati oleh driver ojol,” kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perang di Timur Tengah Meluas! Harga Minyak dan Rantai Industri Kimia di Tiongkok Tertekan Seperti Lonjakan Bahan Baku Plastik
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
KPK: Ada Upaya Yaqut Sogok Pansus Haji USD 1 Juta Tapi Ditolak
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Bareskrim Polri Geledah Perusahaan di Sidoarjo Terkait Penambangan Emas Ilegal dan TPPU
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Urus KTP, KK, dan Akta di Dukcapil Gratis, Kemendagri: Jangan Mau Dipungut Biaya
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Serangan Drone Menyasar Pelabuhan Hingga Penyimpanan Minyak di Oman | SAPA MALAM
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.