Bisakah smartphone dan smartwatch membantu mendeteksi tanda-tanda awal penyakit neurologis atau mental? Para peneliti di Universitas Jenewa (UNIGE) memantau sekelompok peserta yang mengenakan perangkat terhubung, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis data seperti detak jantung, aktivitas fisik, tidur, dan polusi udara.
Temuan mereka menunjukkan bahwa device terhubung dapat secara akurat memprediksi fluktuasi emosional dan kognitif. Tentu ini dapat membuka jalan baru untuk deteksi dini perubahan kesehatan otak. Studi ini telah dipublikasikan di Natural Partner Journal Digital Medicine.
Tim mengumpulkan 88 sukarelawan berusia antara 45 dan 77 tahun. Masing-masing dilengkapi dengan aplikasi smartphone khusus dan satu buah smartwatch.
Penelitian selama sepuluh bulan ini mengumpulkan data "pasif" tanpa intervensi atau perubahan apa pun dalam kebiasaan sehari-hari peserta. Indikatornya termasuk detak jantung, aktivitas fisik, pola tidur, serta kondisi cuaca dan tingkat polusi udara. Secara total, ada 21 indikator dianalisis.
Setiap tiga bulan, peserta juga memberikan data “aktif” dengan mengisi kuesioner tentang keadaan emosional mereka dan menjalani tes kinerja kognitif.
Data Dianalisis Pakai AISetelah pengumpulan data selesai, data pasif dianalisis menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). “Tujuannya adalah untuk menentukan apakah AI dapat memprediksi fluktuasi kesehatan kognitif dan emosional peserta berdasarkan data ini,” jelas Igor Matias, asisten doktoral di Institut Penelitian Statistik dan Ilmu Informasi di Sekolah Ekonomi dan Manajemen Jenewa (GSEM) di UNIGE dan penulis utama studi.
Prediksi berbasis AI ini lalu dibandingkan dengan hasil kuesioner dan tes. “Rata-rata, tingkat kesalahannya hanya 12,5%, membuka kemungkinan baru untuk penggunaan perangkat terhubung dalam deteksi dini kelainan atau perubahan kesehatan otak,” tambah peneliti.
Kondisi Emosional Paling Mudah DiprediksiKeadaan emosional diprediksi paling akurat oleh kecerdasan buatan, dengan tingkat kesalahan umumnya berkisar antara 5% hingga 10%. Sebaliknya, keadaan kognitif diprediksi kurang tepat, dengan tingkat kesalahan berkisar antara 10% hingga 20%. Dengan kata lain, AI bekerja lebih baik dalam memprediksi respons terhadap kuesioner emosional daripada tes kognitif.
Mengenai relevansi indikator pasif, polusi udara, kondisi cuaca, detak jantung harian, dan variabilitas tidur muncul sebagai faktor yang paling informatif untuk kognisi. Untuk keadaan emosional, faktor yang paling berpengaruh terutama adalah cuaca, variabilitas tidur, dan detak jantung selama tidur.
Penelitian ini, diawasi oleh Prof. Katarzyna Wac dari Institut Penelitian Statistik dan Ilmu Informasi di GSEM dan Prof. Matthias Kliegel dari Laboratorium Penuaan Kognitif di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, merupakan bagian dari proyek fakultas bersama yakni Providemus alz.
Kesehatan otak (fungsi kognitif dan emosional) merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat di abad ke-21. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu dari tiga orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan neurologis seperti stroke, epilepsi, atau penyakit Parkinson.
Lebih dari satu dari dua individu akan mengalami gangguan mental — termasuk depresi, gangguan kecemasan, atau skizofrenia — pada suatu saat dalam hidup mereka. Seiring bertambahnya usia populasi, angka-angka ini terus meningkat.
Bahkan pada orang dewasa yang sehat, kesehatan otak berfluktuasi dari waktu ke waktu, mencerminkan interaksi antara berbagai faktor, termasuk pengaruh lingkungan dan kebiasaan gaya hidup individu. Menganalisis perubahan fungsi kognitif dan emosional dari hari ke hari atau dari minggu ke minggu sangat penting untuk memungkinkan strategi pencegahan yang proaktif dan menghasilkan pembacaan yang lebih personal.





