Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor finance yang mayoritas dihuni saham perbankan sangat dinanti-nanti kebangkitan-nya oleh pelaku pasar. Akankah tahun ini bisa terjadi?
Merujuk data NeoBDM sampai penutupan kemarin Kamis (12/3/2026), dalam periode delapan harian, ternyata sektor finance sudah mulai masuk ke fase awal outperformed.
Siklus saham
Menurut pantauan kami, jika fase outperformed mulai dilewati, hal ini biasanya menjadi sinyal bahwa sebagian besar saham yang masuk dalam konstituen sektor finance mulai terdeteksi memasuki fase akumulasi atau bergerak sideways setelah melewati periode downtrend yang cukup panjang.
Fase akumulasi ini umumnya menjadi tahap awal sebelum terbentuknya tren kenaikan baru, karena pada fase tersebut pelaku pasar mulai melakukan penyerapan saham secara bertahap.
Fase akumulasi ini juga membuka harapan baru bahwa sektor perbankan dapat menyusul sektor lain yang sudah bergerak lebih dahulu.
Dalam beberapa siklus sebelumnya di pasar saham Indonesia, saham bank sering kali bergerak sedikit lebih lambat di awal, namun kemudian menjadi motor penggerak indeks ketika likuiditas pasar mulai kembali.
Kami berharap gerak saham bank akan lebih lincah setelah bulan Mei nanti ketika drama teknis MSCI sudah semakin mereda diikuti transparansi bursa terkait free float semakin membaik.
Dari sisi makro, sejumlah faktor juga perlahan mulai mengarah lebih positif bagi sektor keuangan, khususnya perbankan.
Sejak tahun lalu, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan beberapa kali dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat transmisi likuiditas ke sektor riil.
Meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan kredit dan harga saham bank belum terlihat signifikan dalam jangka pendek, pelonggaran kebijakan moneter ini biasanya membutuhkan waktu sebelum benar-benar tercermin pada peningkatan permintaan kredit dan profitabilitas bank.
Selain itu, prospek pertumbuhan kredit juga masih cukup solid. Bank Indonesia sendiri memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2026 berada di kisaran 8-12% secara tahunan, yang menunjukkan aktivitas pembiayaan di sektor riil masih memiliki ruang ekspansi.
Kondisi ini menjadi salah satu katalis yang berpotensi mendukung kinerja fundamental bank, terutama jika pemulihan konsumsi dan investasi domestik terus berlanjut.
Faktor lain yang juga dapat meningkatkan daya tarik sektor perbankan adalah musim dividen yang mulai bergulir.
Salah satunya datang dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang menawarkan potensi dividend yield hingga sekitar delapan persen, menjadikannya salah satu saham bank dengan imbal hasil dividen paling menarik di periode ini.
Dividen yang relatif tinggi sering kali menjadi magnet bagi investor, terutama bagi mereka yang mencari kombinasi antara capital gain dan pendapatan dividen.
Tidak hanya itu, sentimen positif juga datang dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Dalam RUPS yang digelar pada Kamis kemarin, di mana pemegang saham telah merestui pembagian dividen serta program buyback saham senilai Rp5 triliun yang akan dijalankan dalam jangka waktu 12 bulan ke depan.
Program buyback ini biasanya dipandang sebagai sinyal bahwa manajemen melihat valuasi saham berada pada level yang menarik, sekaligus menjadi upaya untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae) Add as a preferredsource on Google




