Gapki Cemas Pasokan CPO Makin Ketat, Produksi 2026 Diproyeksi Hanya Naik 2%

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan pertumbuhan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2026 hanya berkisar 1%—2% di tengah potensi El Nino serta meningkatnya konsumsi domestik untuk program bauran biodiesel 50% (B50).

Sekretaris Jenderal Gapki Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, kinerja industri sawit pada 2025 sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan dari sisi produksi, ekspor, maupun konsumsi domestik.

Gapki mencatat produksi CPO pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, lebih tinggi 7,26% dibandingkan dengan produksi tahun 2024 yang mencapai 48,16 juta ton.

Produksi PKO juga naik 6,41% menjadi 4,89 juta ton dari 4,59 juta ton pada 2024. Secara total, produksi CPO dan PKO 2025 mencapai 56,55 juta ton, lebih tinggi 7,18% dari produksi 2024 sebesar 52,76 juta ton.

Namun, Sugeng menilai produksi sawit pada 2026 tidak akan tumbuh signifikan. Hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk potensi El Nino pada pertengahan 2026 serta perbaikan tata kelola kebun sawit yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri.

“Kemudian di tahun 2026, sebenarnya kami ini juga sangat khawatir ya, tapi tetap berusaha untuk naik. Kalaupun [produksi sawit] naik itu enggak lebih dari 5%, mungkin 1-2% lah. Dengan beberapa alasan, yang pertama kita juga adanya musim kemarau yang diprediksi akan datang di tahun ini, dengan tata kelola sawit kita yang terus terang perlu pembenahan,” kata Sugeng dalam konferensi pers dan buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga

  • Produksi Sawit Stagnan 5 Tahun, Gapki Waswas Ekspor CPO Jadi Korban
  • Gapki Usul Mandatory Peremajaan Sawit Rakyat untuk Antisipasi B50
  • Konflik Timteng, Pengusaha Sawit Teriak Biaya Logistik Naik & Ekspor Turun

Selain faktor produksi, peningkatan konsumsi dalam negeri untuk program biodiesel juga berpotensi memengaruhi pasokan ekspor. Saat ini, pemerintah masih menjalankan program bauran biodiesel B40. Sugeng memperkirakan serapan biodiesel pada 2026 akan relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Untuk konsumsi biodiesel, sampai hari ini masih B40 sehingga kemungkinan juga masih sama dengan tahun lalu serapannya, 13–14 juta, kemudian untuk ekspornya juga demikian,” terangnya.

Sebagai gambaran, konsumsi biodiesel pada 2025 naik menjadi 12,70 juta ton atau 10,97% dari tahun sebelumnya sebesar 11,44 juta ton. Adapun, kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35% (B35) menjadi 40% (B40).

Lebih lanjut, Sugeng juga mengingatkan rencana peningkatan bauran biodiesel menjadi B50 dapat berdampak pada penurunan volume ekspor sawit Indonesia.

“Ada bicara katanya mau B50, nah ini tentunya akan terdampak lagi kalau B50 diterapkan, volume ekspor akan menurun, nah nanti takut saya nanti itu ada tambahan-tambahan, biaya yang levy dan sebagainya,” ujarnya.

Adapun, untuk harga minyak sawit diperkirakan masih bertahan tinggi hingga kuartal I/2026, dengan kisaran sekitar US$1.050–US$1.125 per ton.

Gapki tetap optimistis industri sawit masih mampu mencatat pertumbuhan pada 2026, meskipun tipis dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gapki Eddy Martono memperkirakan total produksi sawit nasional pada 2026 akan berada di kisaran 57 juta ton, tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.

“Produksi tahun ini kemudian masih mendekati, kalau ada kenaikan pun kira-kira masih di bawah 5%. Tapi masih mendekati tahun 2025,” kata Eddy.

Selain itu, Eddy juga mengingatkan potensi dampak fenomena iklim El Nino yang diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut Eddy, dampak El Nino pada 2026 kemungkinan belum terlalu terasa. Namun, efek kekeringan berpotensi memukul produksi pada 2027–2028.

“Kalau El Nino seperti kejadian tahun 2015 dan 2019, itu di tahun ini mungkin tidak terlalu kelihatan dampaknya sekali karena yang terjadi hanya pelambatan panen. Tetapi di tahun 2027 dan 2028 itu akan terjadi dampak daripada kekeringan tadi,” ujarnya.

Adapun, untuk menjaga produktivitas, industri juga tengah mengembangkan program pelepasan serangga penyerbuk baru yang diharapkan dapat meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS). Program ini masih dilakukan terbatas oleh konsorsium anggota Gapki di sejumlah wilayah di Sumatra.

Selain itu, Gapki juga menyoroti lambatnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang menjadi salah satu hambatan peningkatan produktivitas kebun sawit nasional.

“PSR itu sebenarnya sekarang bisa dikatakan stagnan, jalan tapi lambat sekali. Nah, kemarin saya sampaikan di Pak Menteri [Andi Amran Sulaiman], kalau perlu Pak Menteri dibuat jadi mandatori PSR, tetapi tetap harus diberikan jalan keluarnya,” sambungnya.

Menurutnya, banyak petani enggan melakukan peremajaan karena khawatir kehilangan sumber pendapatan selama masa tunggu tanaman baru berproduksi yang bisa mencapai sekitar 2,5–3 tahun.

Selain persoalan pendapatan, hambatan lain dalam pelaksanaan PSR adalah masalah legalitas lahan yang sebagian masih berada di kawasan hutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gubernur Papua Barat temui Mentan, bahas penguatan sektor pangan
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Iran Buru 11 Ribu Tentara AS, Tuduh AS Pakai Negara Arab sebagai Perisai Manusia
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG: 7 Wilayah Harus Waspada Hujan Petir hingga Lebat-Sangat Lebat Jumat 13 Maret
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Siaran FIBA 3x3 Champions Cup 2026 tersedia di berbagai platform
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Pamor Persib Bandung Melejit hingga di Negeri Bundesliga! Perusahaan Jerman Dikabarkan Ingin Investasi Rp1,5 Triliun
• 14 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.