Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan Indonesia bisa saja mengimpor minyak mentah dari Rusia, seiring dengan melonggarnya sanksi dari Amerika Serikat (AS).
Pemerintah AS memberi izin sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini masih berada di laut. Kebijakan ini untuk menambah pasokan global dan menekan kenaikan harga di tengah konflik Timur Tengah.
Pada penutupan Kamis (12/3), harga minyak mentah dunia ditutup melonjak sekitar 9 persen, mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di seluruh Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada level USD 100,46 per barel, naik USD 8,48 atau 9,2 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada USD 95,70 per barel, juga naik USD 8,48 atau 9,7 persen.
Yuliot mengatakan, belum ada pembahasan dari pemerintah terkait hal itu. Selain itu, keputusan bisnis juga merupakan kewenangan PT Pertamina (Persero) yang juga perlu mencari alternatif sumber pasokan.
"Itu, kan, keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan sepanjang ada relaksasi, ya, tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya," ungkapnya.
Mengutip Bloomberg pada Jumat (13/3), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut hanya bersifat terbatas dan sementara. Dalam unggahan di X, dia menegaskan kebijakan ini tak dimaksudkan untuk memberikan keuntungan besar bagi Rusia.
"Langkah jangka pendek yang dirancang secara khusus ini hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia," kata Scott.
Kebijakan ini berlaku hanya untuk minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal sebelum 12 Maret 2026. Sebelumnya, pemerintah AS juga memberikan pengecualian selama satu bulan kepada India untuk mengambil minyak Rusia yang dimuat sebelum 5 Maret.
Dengan aturan baru ini, izin pembelian tidak lagi terbatas untuk India, namun tetap melarang Iran membeli minyak tersebut.
Scott menjelaskan, strategi ini bagian dari upaya pemerintah AS menstabilkan pasar energi global yang tengah menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik.
"@POTUS mengambil langkah-langkah tegas untuk mempromosikan stabilitas di pasar energi global dan berupaya menjaga harga tetap rendah seiring kita mengatasi ancaman dan ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh rezim teroris Iran," katanya.





