Bisnis.com, JAKARTA — Minat masyarakat terhadap investasi emas digital terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas harga komoditas. Aktivitas transaksi pun melonjak seiring kenaikan harga emas dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Nursalam mengatakan pergerakan harga emas yang fluktuatif justru mendorong investor untuk lebih aktif bertransaksi di pasar komoditas. "Ketika harga bergerak naik turun, banyak investor memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan transaksi."
Ia menambahkan bahwa peningkatan tidak hanya terjadi pada harga, tetapi juga pada volume perdagangan emas digital. Data ICDX menunjukkan sepanjang 2025 total volume emas digital mencapai sekitar 58 juta ton atau naik 25 persen dibandingkan 2024 yang tercatat 46,84 juta ton. Sementara itu, hanya dalam dua bulan pertama 2026 atau hingga Februari, volume transaksi telah mencapai sekitar 21 juta ton.
Dengan tren tersebut, ICDX memproyeksikan transaksi emas digital sepanjang tahun ini berpotensi melonjak tajam. “Kami perkirakan volume transaksi emas digital tahun ini bisa dua kali lipat dari yang tahun lalu, sekitar 100 juta ton," ujarnya dikutip, Jumat (13/3/2026).
Peningkatan transaksi tersebut antara lain didorong oleh popularitas emas digital yang semakin besar di kalangan generasi muda. Digitalisasi membuat investasi emas semakin mudah diakses karena investor tidak perlu membeli emas fisik dan dapat melakukan transaksi dengan nominal kecil. Fenomena ini membuat semakin banyak anak muda mulai menjadikan emas sebagai instrumen investasi.
Bahkan, saat ini komposisi investor muda di pasar emas digital diperkirakan telah mencapai lebih dari 50 persen dari total transaksi. Selain mudah diakses, emas digital juga dinilai cocok bagi investor pemula karena memiliki underlying asset yang jelas berupa emas fisik, berbeda dengan sejumlah instrumen digital lain yang kerap dipertanyakan dasar asetnya.
Baca Juga
- Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Hari Ini Jumat, 13 Maret 2026 di Pegadaian
- Harga Emas Antam Hari Ini Jumat, 13 Maret 2026 di Pegadaian
- Produsen Prochiz (KEJU) Umumkan Buyback Rp28,12 Miliar
Selain mencatat peningkatan transaksi emas digital, ICDX juga melaporkan aktivitas perdagangan multilateral kontrak berjangka komoditas minyak mentah dan emas yang dimanfaatkan pelaku usaha untuk lindung nilai. Produk derivatif yang diperdagangkan secara multilateral tersebut antara lain GOFX yang mencakup kontrak spot dan berjangka emas, kontrak berjangka minyak mentah, serta kontrak spot forex mini.
Sepanjang 2025, transaksi multilateral kontrak komoditas berbasis minyak mentah di ICDX mencapai 61.260 lot, sedangkan transaksi kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot. Untuk kontrak minyak mentah, perdagangan didominasi kontrak COFRMic dengan volume 51.548 lot yang menggunakan harga acuan West Texas Intermediate (WTI). Sementara kontrak emas didominasi produk GOLDUDMic dengan transaksi 682.310 lot.
Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia menambahkan bahwa sejumlah lembaga keuangan global mulai menaikkan proyeksi harga emas memasuki 2026. Peningkatan proyeksi tersebut dipicu oleh tingginya risiko geopolitik serta permintaan struktural dari bank sentral di berbagai negara.
Menurut dia, dalam jangka pendek pergerakan harga emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, serta perkembangan konflik global. "Diperkirakan berada di kisaran US$5.500 hingga US$6.000 per troy ounces pada akhir 2026 dengan volatilitas diperkirakan tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global," katanya.




