Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengungkap alasan di balik rencana pembagian dividen interim hingga tiga kali pada tahun 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai upaya memberikan arus kas yang lebih rutin kepada para pemegang saham, khususnya investor ritel.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pembagian dividen interim lebih dari sekali dalam setahun merupakan terobosan baru yang dirancang perseroan. Rencananya, dividen interim akan dibagikan secara berkala setiap kuartal.
“Pembagian dividen interim setiap kuartal ini diharapkan dapat menambah cashflow bagi pemegang saham yang selama ini senantiasa bersama kami,” ujar Hendra dalam keterangan resmi, Jumat (13/3/2026).
Dia menjelaskan rencana tersebut tetap mempertimbangkan kondisi keuangan perseroan dan telah memperoleh persetujuan dari Dewan Komisaris.
Adapun keputusan terkait pembagian dividen tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BCA yang digelar di Menara BCA Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (12/3).
Dalam rapat tersebut, pemegang saham juga menyetujui penggunaan laba bersih perseroan tahun buku 2025 sebesar Rp57,5 triliun, termasuk untuk pembagian dividen tunai sebesar Rp336 per saham.
Baca Juga
- Cek Kurs Rupiah di Bank Mandiri, BRI, BNI dan BCA Hari Ini, Jumat (13/3)
- Aliran Dividen BCA (BBCA) ke Anthoni Salim hingga Vanguard
- Indeks Bisnis-27 Hari Ini (13/3) Dibuka Menguat, Saham ADMR, BBCA, AMRT Melaju
BCA juga mencatat peningkatan nilai dividen final dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk tahun buku 2025, perseroan membagikan total dividen final sebesar Rp41,3 triliun dengan dividend payout ratio (DPR) mencapai 72%. Angka tersebut meningkat dibandingkan DPR tahun buku 2024 yang berada di kisaran 67,4%.
Hendra menegaskan perseroan tetap berfokus menjaga fundamental bisnis dan menjalankan strategi secara prudent di tengah dinamika ekonomi pada 2026.
Kinerja BCA Sepanjang 2025Adapun BCA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025. Selain itu, BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% secara year on year menjadi Rp993 triliun per Desember 2025.
Sepanjang 2025, rata-rata pertumbuhan kredit BCA bahkan mencapai 10,8%, dengan penyaluran tersebar ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga. Kredit usaha menjadi kontributor utama, tumbuh 9,9% YoY mencapai Rp756,5 triliun pada akhir 2025 .
Di sisi pembiayaan konsumer, BCA membukukan outstanding sebesar Rp224,1 triliun. Penyaluran tersebut ditopang oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun. Sementara itu, pinjaman konsumer lainnya, yang mayoritas berasal dari kartu kredit, tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp25,2 triliun
"Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA. Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen untuk hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” kata Presiden Direktur BCA Hendra Lembong dalam konferensi pers kinerja BCA sepanjang 2025, Selasa (27/1/2026).
BCA juga mulai mendukung penyaluran KPR subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) bagi sektor swasta sejak Oktober 2025, sebagai bagian dari dukungan terhadap program perumahan nasional.
Dari sisi kualitas kredit, rasio loan at risk (LAR) BCA membaik menjadi 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap terjaga di level 1,7%, dengan pencadangan yang dinilai memadai . Selain kredit konvensional, pembiayaan ke sektor berkelanjutan juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Kredit berkelanjutan tumbuh 11,7% YoY menjadi Rp255 triliun atau setara 25,8% dari total portofolio pembiayaan.
Pembiayaan energi baru terbarukan tercatat melonjak hingga dua kali lipat menjadi Rp6,2 triliun, sementara kredit kendaraan listrik naik 53% YoY menjadi Rp3,6 triliun . Per Desember 2025, total DPK BCA tumbuh 10,2% YoY mencapai Rp1.249 triliun. Total frekuensi transaksi BCA pada 2025 naik 17% YoY mencapai 42 miliar.
Pada puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari. Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY.
Pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY. Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4% YoY. Lalu, rasio cost to income (CIR) membaik dan turut menopang kinerja dan pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun.





