EtIndonesia. Serangan presisi militer Amerika Serikat pada Rabu (11/3/2026) kembali dilaporkan berhasil. United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa seluruh kapal perang kelas “Soleimani” milik Iran telah dihancurkan, sehingga kekuatan angkatan laut Iran pada kelas tersebut lumpuh sepenuhnya.
Namun pada hari yang sama, serangan drone Iran terhadap pelabuhan Salalah Port di Oman membuat penggunaan drone kembali menjadi fokus utama dalam konflik ini. Informasi intelijen menunjukkan bahwa Russia diduga mulai ikut campur dalam perang dengan membimbing Iran melancarkan serangan drone secara bergelombang, sementara dukungan dari Tiongkok juga menimbulkan kekhawatiran di pihak Amerika.
Armada Kapal Perang Iran Dihancurkan, Selat Hormuz Jadi Titik StrategisMiliter AS merilis video yang menunjukkan serangan terhadap beberapa kapal angkatan laut Iran serta kapal penebar ranjau di dekat Strait of Hormuz.
“Kemarin saja, hampir setiap jam kami melancarkan serangan udara terhadap Iran dari berbagai lokasi dan arah. Kami juga menghancurkan kapal terakhir dari empat kapal perang kelas Soleimani. Itu berarti seluruh kapal perang kelas ini kini telah keluar dari medan pertempuran,” ujar seorang perwira dari United States Central Command, Cooper.
CENTCOM pada Rabu juga memperingatkan masyarakat sipil bahwa pemerintah Iran menggunakan pelabuhan sipil di sepanjang Selat Hormuz untuk operasi militer.
Pada hari yang sama, tiga kapal dagang di Selat Hormuz dilaporkan diserang oleh objek terbang tak dikenal. Salah satunya adalah kapal kargo berbendera Thailand yang mengalami kerusakan, dengan tiga awak kapal dilaporkan hilang.
Selain itu, dua drone Iran jatuh di dekat Dubai International Airport di Dubai, menyebabkan empat orang terluka.
Video yang beredar di internet juga menunjukkan serangan terhadap Salalah Port, di mana sebuah gudang penyimpanan bahan bakar di pelabuhan tersebut meledak dan terbakar.
Militer Iran pada Rabu juga memperingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi kenaikan harga minyak hingga 200 dolar per barel, dan mengancam bahwa serangan akan terus dilakukan secara bertahap dan berulang.
Intelijen Barat: Rusia Membantu Iran Menggunakan DronePejabat intelijen Barat mengatakan kepada CNN bahwa Russia memanfaatkan pengalaman mereka dalam perang Rusia-Ukraina untuk membantu Iran menggunakan drone Shahed dalam serangan bergelombang.
Serangan tersebut dilakukan dengan mengirim banyak drone secara bersamaan dan sering mengubah jalur terbang, sehingga dapat menghindari sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk.
Sumber intelijen mengatakan bahwa bantuan Rusia tidak lagi hanya sebatas berbagi informasi, tetapi sudah mencakup strategi taktis penggunaan drone secara langsung.
Saat ini, Ukraine telah mengirim para ahli ke kawasan Teluk untuk membantu negara-negara di sana menghadapi drone Iran. Ukraina juga mengembangkan drone pencegat kecil dengan biaya hanya sekitar 5.000 dolar AS, yang dapat diproduksi dengan cepat dalam jumlah besar.
Terakhir, pejabat intelijen juga menyebut bahwa dukungan dari Tiongkok terhadap Iran “mengkhawatirkan”, meskipun rincian lebih lanjut belum diungkapkan.
Sementara itu, militer Israel pada Rabu menyatakan bahwa mereka siap menghadapi perang jangka panjang dengan Iran, hingga semua ancaman terhadap keberadaan negara tersebut dihapuskan. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter NTD Television Yi Jing.





