Bisnis.com, JAKARTA – Pasokan minyak global yang masih terganggu imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran menahan harga minyak di level tinggi.
Kondisi ini dinilai akan menjadi sentimen positif terhadap emiten minyak Indonesia karena lonjakan harga komoditas akan menaikkan harga jual perusahaan. Adanya ekspektasi itu membuat para analis memasang target harga tinggi bagi emiten migas seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Harga kedua saham diramal punya peluang cuan lebih dari 20% dari harga sekarang.
Melansir Bloomberg Terminal, 20 analis (100%) merekomendasikan buy saham MEDC dengan target harga Rp2.135, mencerminkan potensial return 23,4% dari harga penutupan pasar Kamis (13/3) di Rp1.730.
Sejumlah riset sekuritas yang merekomendasikan buy itu antara lain seperti RHB Research dengan target harga Rp2.000, atau Macquarie yang memberi rekomendasi outperform dengan target harga Rp2.200, hingga UBS yang memberikan rekomendasi buy saham MEDC dengan target harga Rp2.500. Target harga UBS itu menjadi yang paling tinggi dibanding rating analis lainnya yang terbit sejak awal 2026.
Sementara untuk saham ENRG, sebanyak 6 analis (100%) merekomendasikan buy dengan target harga Rp1.992 atau mencerminkan potensial return 36% dari harga penutupan Kamis (12/3) di Rp1.465.
Beberapa riset terbaru yang dirilis antara lain Kiwoom Sekuritas yang menyematkan rekomendasi buy dengan target harga Rp2.100, lalu ada Verdhana Sekuritas dengan target harga Rp2.140, sampai UOB Kay Hian dengan target harga Rp1.700.
Pada penutupan Jumat (13/3) MEDC ditutup turun 1,73% ke Rp1.700 sedangkan ENRG turun 3,75% ke Rp1.410. Kondisi saham emiten hulu migas ini sejalan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup koreksi 3,05% ke Rp7.137.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata melihat topik komoditas minyak menjadi cerita utama di pasar saat ini. Meskipun ada ekspektasi lonjakan harga menjadi berkah sektoral, dampaknya terlalu besar untuk bisa diredam pasar, membuat IHSG jatuh termasuk saham emiten migas.
Saat ini harga minyak melonjak tajam akibat gangguan pasokan global dari konflik Iran. Brent sempat menembus US$101,57 per barel dan diperdagangkan sekitar US$99 sampai US$101 per barel. Sementara minyak mentah WTI naik sekitar 9% menjadi sekitar US$95 per barel.
"International Energy Agency (IEA) menyebut konflik ini berpotensi menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah. Aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik menjadi hampir berhenti, memaksa negara produsen Teluk memangkas produksi sekitar 10 juta barel per hari," jelas Liza.
Secara global, sambungnya, pasokan minyak diperkirakan turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. IEA merespons dengan pelepasan cadangan strategis sekitar 400 juta barel, sementara AS berencana melepas sekitar 172 juta barel dari cadangan daruratnya.
Menilik dampaknya ke pasar saham, Liza melihat bahwa sebenarnya pada koreksi IHSG di perdagangan Kamis (12/3) mencatat arus masuk asing cukup besar sampai Rp1 triliun ditambah indikator nilai tukar rupiah yang stabil di kisaran Rp16.886 per dolar AS. Masalahnya, dampak perang tak hanya berhenti sampai lonjakan harga minyak saja.
"Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko stagflasi global dan menekan ekspektasi pelonggaran moneter. Pasar yang sebelumnya memperkirakan 2-3 pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini kini hanya memperhitungkan sekitar 20 bps pelonggaran hingga akhir tahun," jelas dia.
Presiden AS Donald Trump juga kembali mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell untuk segera menurunkan suku bunga, namun pasar menilai lonjakan harga energi justru akan memperpanjang tekanan inflasi.
Untuk kondisi pasar sekarang Liza menilai IHSG akan sulit untuk bisa rebound kuat mengingat semua sentimen global yang memberatkan, di sisi lain dari dalam negeri ada faktor libur panjang Lebaran 2026.
"IHSG agak susah naik tinggi menimbang segala sentimen global yang terjadi, pun di kala menjelang libur panjang Idul Fitri di mana ini membuat banyak investor mengurangi posisi portfolio mereka demi terhindar dari gejolak pasar selama ditinggal liburan," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





