Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku pasar dan industri perbankan mencermati tren pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Meski sempat melampaui batas psikologis, regulator maupun pelaku industri di sektor keuangan menilai tekanan nilai tukar sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kualitas kredit korporasi di industri perbankan.
Melansir data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp16.958 per dolar AS hingga pukul 15.28 WIB pada Jumat (13/3/2026). Merespons hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan nilai tukar rupiah sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kualitas kredit korporasi perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan eksposur langsung perbankan terhadap risiko nilai tukar relatif kecil, tercermin dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) yang berada pada level 1,16%, jauh di bawah ambang batas 20%.
“Hal ini menunjukkan bahwa eksposur langsung bank terhadap risiko nilai tukar relatif kecil sehingga pelemahan rupiah tidak banyak memengaruhi neraca bank secara langsung,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (13/3/2026).
Selain itu, sebagian besar kredit dalam valuta asing juga diberikan kepada sektor usaha berbasis ekspor yang memiliki penerimaan dalam bentuk valas sehingga secara alami telah memiliki lindung nilai.
Baca Juga
- Bahaya Penghapusan Ambang Batas Defisit 3%: SBN Dijauhi Pasar, Rupiah Tertekan
- Rupiah Ditutup Melemah, Sentuh Level Rp16.958 per Dolar AS
- Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat, 13 Maret 2026
Dari sisi penyaluran kredit, kredit korporasi tercatat tumbuh sebesar 16,07% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di level 1,24%. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh peningkatan pembiayaan pada sektor konstruksi, pertanian, dan sektor jasa keuangan.
Meski demikian, OJK mengingatkan ketidakpastian ekonomi global serta volatilitas nilai tukar tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi biaya produksi perusahaan serta kemampuan bayar debitur.
Untuk mengantisipasi potensi risiko tersebut, perbankan diminta memperkuat manajemen risiko, melakukan pemantauan portofolio kredit secara intensif, serta melakukan stress test dengan berbagai skenario makroekonomi.
Cermati Kondisi MakroekonomiSementara dari sisi industri, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menyampaikan tetap mencermati secara disiplin dinamika makroekonomi di dalam dan luar negeri.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menegaskan BCA berkomitmen untuk fokus pada fundamental bisnis perseroan, serta tetap pruden dalam menghadapi dinamika saat ini.
"BCA telah mempersiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi risiko pasar atas transaksi yang terkait risiko nilai tukar dan suku bunga. Hal ini dilakukan salah satunya melalui penetapan dan kontrol limit risiko pasar," jelas Hera kepada Bisnis.
Mengantisipasi risiko fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap valuta asing akibat tekanan ekonomi global, kata Hera, BCA menjaga rasio Posisi Devisa Neto (PDN) secara konservatif.
Dia bilang BCA senantiasa melakukan monitoring risiko konsentrasi kredit termasuk penggunaan limit pembiayaan dan kualitas portofolionya, menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terkena dampak.
Selain itu, BCA juga melakukan evaluasi sektor industri dengan pertimbangan prospek maupun kinerja usaha dan penetapan limit untuk pembiayaan tertentu menyesuaikan dengan potensi risiko.
Adapun, pencadangan LAR BCA tercatat 71,6% per akhir 2025. Sementara itu, pencadangan NPL BCA tercatat sebesar 183,8%, berada pada level yang memadai dalam menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dan bisnis debitur.
Cerminan Dinamika GlobalSementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat masih mencerminkan dinamika pasar global dan domestik, terutama dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Direktur Utama KB Bank Kurnady Darma Lie mengatakan ketegangan geopolitik global saat ini mendorong kenaikan harga komoditas energi, khususnya minyak, yang berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap perekonomian negara pengimpor energi seperti Indonesia.
“Isu terbesar di makro saat ini adalah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas energi, khususnya minyak. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor energi Indonesia dan memberi tekanan tambahan pada neraca transaksi berjalan,” ujarnya kepada Bisnis.
Menurut Kurnady, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik akibat kenaikan harga energi serta meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor dan kewajiban utang korporasi.
Situasi tersebut pada akhirnya dapat menambah volatilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Dia menambahkan pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk perkembangan geopolitik global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski demikian, pelemahan rupiah sejauh ini belum memicu lonjakan aktivitas transaksi valuta asing di KB Bank. “Volume transaksi valas di KB Bank relatif tidak terlalu besar dan belum terdapat lonjakan yang signifikan,” kata Kurnady.
Dari sisi kualitas kredit, KB Bank memastikan eksposur risiko nilai tukar tetap terjaga dengan baik. Perseroan menerapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk memperketat proses seleksi kredit serta melakukan pemantauan berkala terhadap portofolio kredit dalam valuta asing.
Selain itu, bank juga memastikan debitur memiliki mitigasi risiko yang memadai, termasuk melalui mekanisme lindung nilai atau hedging. “Eksposur kredit KB Bank yang berpotensi terdampak langsung oleh volatilitas nilai tukar tetap terjaga dengan baik dan berada pada level yang sangat terbatas,” ujarnya.





