Airlangga Beberkan Skenario Terburuk Dampak Perang di Iran: Defisit 4,06 Persen

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan beberapa skenario dampak kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap defisit APBN 2026, di tengah memanasnya perang di Iran. Skenario terburuk bisa menimbulkan defisit lebih dari 3 persen.

Dalam asumsi makro APBN 2026, Indonesia Crude Price (ICP) ditetapkan USD 70 per barel dan kurs rupiah Rp 16.500 per dolar AS. Airlangga menyebut perbedaan harga Brent dengan ICP biasanya sekitar USD 3.

Pada penutupan Kamis (12/3), minyak mentah Brent ditutup pada level USD 100,46 per barel, naik USD 8,48 atau 9,2 persen. Hal ini disebabkan langkah retaliasi Iran yang menyerang fasilitas minyak dan transportasi di seluruh Timur Tengah, serta menutup Selat Hormuz.

Airlangga menjelaskan ada tiga skenario yang disiapkan pemerintah, yakni jika konflik di Timur Tengah berlangsung selama 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan. Prediksinya, harga minyak mentah mencapai USD 107 per barel pada 6 bulan, kemudian tembus USD 130 per barel pada bulan ke-10, dan turun jadi USD 125 per barel pada akhir Desember.

Sementara itu, realisasi harga minyak mentah Indonesia sepanjang Januari sampai Februari 2026 berada di rata-rata USD 64,41 dan USD 68,79 per barel, sehingga masih di bawah USD 70 per barel.

"Kalau kita buat skenario yang tadi 5 bulan itu kita rata-rata menjadi USD 90 per barel. Kemudian yang 6 bulan USD 97, dan 10 bulan USD 115 Pak Presiden," ungkap Airlangga saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3).

Airlangga melanjutkan, skenario pertama dampaknya kepada beban APBN yakni jika ICP menembus USD 86 per barel dan kurs Rp 17.000 per dolar AS, defisit APBN bisa mencapai 3,18 persen.

"Jadi ini yang kita pertahankan growth di 5,3. Surat Berharga Negara angkanya lebih tinggi Pak 6,8 persen, maka defisitnya adalah 3,18 persen," jelasnya.

Kemudian skenario moderat kedua, jika ICP tembus USD 97 per barel, kurs mencapai Rp 17.300 per dolar AS, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2 persen dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN bisa menembus 3,53 persen.

"Kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga (ICP) USD 115, kurs rupiah kita Rp 17.500, growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2 persen, defisitnya 4,06 persen," ungkap Airlangga.

Airlangga menilai, skenario moderat pertama sangat sulit dicapai jika pemerintah tidak memotong belanja negara dan memangkas target pertumbuhan.

"Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden," tegasnya.

Dia menuturkan, kenaikan harga minyak mentah beberapa kali terjadi ketika situasi krisis global. Dalam 25 tahun terakhir, harga minyak tertinggi mencapai USD 139 per barel pada Juni 2008 ketika krisis subprime mortgage di AS.

Kemudian pada 2011, harga minyak menembus USD 125 per barel saat konflik Arab Spring. Selanjutnya, saat perang Rusia-Ukraina harga minyak juga sempat menyentuh USD110 per barel, kemudian turun ke USD 78 per barel pada September 2022.

"Nah kali ini, cadangan relatif Amerika aman dan mereka punya cadangan nasional mereka, belum strategic petroleum reserve-nya dari berbagai negara itu belum ada yang dikeluarkan," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Maafkan Rismon Sianipar, Serahkan Urusan Hukum ke Pengacara-Polisi
• 10 jam laludetik.com
thumb
Purbaya Buka Suara Soal Pelebaran Defisit APBN di Atas 3%
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kata-kata Ko Hee-jin Sebelum Red Sparks Tersungkur di Kandang oleh Hyundai Hillstate
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Pentingnya Perlindungan Perjalanan saat Mudik Lebaran
• 12 menit lalumedcom.id
thumb
Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah Terimpit Saham INCO dan BRPT
• 6 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.