JAKARTA, DISWAY.ID – Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan instruksi tegas bagi seluruh pejabat negara menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Dalam Sidang Kabinet yang digelar Jumat (13/3), Prabowo meminta jajarannya untuk tidak menggelar acara open house yang berlebihan atau bermewah-mewahan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk empati mendalam terhadap masyarakat di berbagai daerah yang saat ini masih berjuang menghadapi dampak bencana alam.
BACA JUGA:Prabowo Bersyukur Baru di Era Pemerintahannya Ojol Dapat BHR
Menurut Presiden, pejabat negara harus menjadi teladan dalam menunjukkan kesederhanaan di tengah situasi sulit yang dialami rakyat.
"Kita juga harus memberi contoh. Open house atau apa jangan terlalu mewah-mewahan. Saudara kita di daerah bencana (sedang prihatin), dan suasana ini kita kasih contoh ke rakyat," tegas Prabowo di hadapan para menteri kabinet.
Kendati melarang kemewahan, Prabowo menekankan bahwa instruksinya bukan berarti menutup total seluruh kegiatan seremonial.
Ia menyadari bahwa perputaran uang saat hari raya sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi nasional, mulai dari sektor katering hingga logistik.
"Tapi, kita juga jangan total istilahnya tutup semua acara. Kalau tidak, ekonomi kita juga enggak jalan," imbuh mantan Menteri Pertahanan tersebut.
BACA JUGA:Intip Momen Prabowo dan Gibran Bayar Zakat di Istana
Prinsipnya, perayaan harus dilakukan secara proporsional: tetap hangat dan menggerakkan ekonomi, namun jauh dari kesan pamer harta.
Di sisi lain, publik kini menanti kepastian tanggal jatuhnya 1 Syawal 1447 H. Sejauh ini, terdapat potensi perbedaan hari perayaan antara organisasi kemasyarakatan dengan ketetapan pemerintah.
- Muhammadiyah: Telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
- Pemerintah: Baru akan menggelar Sidang Isbat pada 19 Maret 2026.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan prediksi bahwa pemerintah kemungkinan akan menetapkan Idul Fitri sehari lebih lambat dari Muhammadiyah.
BACA JUGA:Gibran Rangkul Rismon Sianipar: Kita Saudaraan!
Hal ini didasarkan pada posisi hilal yang diprediksi belum memenuhi kriteria standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) saat sidang isbat digelar.
- 1
- 2
- »





