JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi setiap elemen masyarakat dalam melakukan pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Sumatera.
Secara khusus, Prabowo juga mengapresiasi kinerja dan kerja keras semua unsur, termasuk Satgas Jembatan, yang berhasil membangun 218 jembatan dalam waktu 2,5 bulan.
"Ini menunjukkan reaksi cepat, tanggap, kehadiran pemerintah," kata Prabowo, dalam Sidang Kabinet yang digelar di Kompleks Istana, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
"Tetapi, semua unsur terutama dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah-daerah bencana juga menunjukkan kesinggapan kerja keras, pengorbanan yang besar secara fisik," sambung dia.
Baca juga: Prabowo soal Batu Bara dan Sawit: Penuhi Kebutuhan Bangsa Dulu, Baru Izinkan Ekspor
Terlebih, menurut Prabowo, ada juga para petugas yang berkorban jiwa dan raga demi melakukan penanganan pascabencana.
"Atas nama negara, bangsa dan sebagai Presiden, saya ucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah bekerja keras," tutur dia.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang selama beberapa waktu ini mengemban tugas sebagai Ketua Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
"Menteri Dalam Negeri sebagai Ketua Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi, sampaikan penghargaan saya dan terima kasih kepada semua unsur di lapangan yang telah bekerja keras," ujar Prabowo.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Februari 2026, jumlah pengungsi di tiga provinsi turun signifikan dari 2.108.582 menjadi 11.250 orang.
Baca juga: Prabowo Ungkit Pakistan Potong Gaji Anggota DPR dan Menteri Imbas Perang AS-Iran
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian sebelumnya mengungkapkan dari total 11.250 pengungsi yang masih bertahan, sebanyak 10.400 orang berada di Aceh, sedangkan 850 lainnya di Sumatera Utara (Sumut).
“Kemudian, di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) alhamdulillah tidak ada lagi pengungsi dalam catatan kami. Tidak ada lagi pengungsi yang ada di tenda, semuanya sudah ada di hunian sementara (huntara),” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (27/2/2026).
Dalam rapat tersebut, Tito melaporkan lima desa di dua provinsi perlu ditata ulang akibat terdampak bencana, yakni tiga desa di Aceh dan dua desa di Sumatera Utara.
Sementara itu, di Sumatera Barat tidak ada desa yang perlu ditata ulang.
Selanjutnya, ia menyampaikan dari 52 kabupaten/kota terdampak bencana, 38 di antaranya telah kembali normal.
Tiga kabupaten/kota lainnya dalam kondisi mendekati normal, sedangkan 11 daerah masih membutuhkan atensi khusus.
Baca juga: Prabowo Dorong Penghematan Imbas Konflik Timur Tengah, Pertimbangkan WFH ASN
Tito menjelaskan, indikator normalnya suatu daerah ditentukan oleh beberapa variabel, antara lain pemerintahan, layanan publik, akses darat, ekonomi, dan sosial.
Selain itu, terdapat indikator dasar lain yang perlu diperhatikan, yakni stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), listrik, perusahaan daerah air minum (PDAM), internet, liquefied petroleum gas (elpiji), tempat pemrosesan akhir atau tempat pengolahan sampah terpadu (TPA-TPST), bank sampah, serta normalisasi sungai.
“Sebelumnya, ada satu lagi masalah persawahan dan perkebunan yang juga terdampak, serta tambak dan perikanan,” kata Tito.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




