JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah memprediksi gelombang pertama pergerakan pemudik mulai terjadi pada Jumat (13/3/2026) malam, seiring pemberlakuan kebijakan bekerja dari mana saja dan waktu libur. Untuk mengantisipasi titik-titik kemacetan dari potensi pergerakan 143,9 juta orang, pengendalian lalu lintas kini dipantau secara langsung melalui Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memperkirakan bangkitan pergerakan pemudik mulai meningkat signifikan setelah waktu berbuka puasa. Hal ini didorong oleh penerapan kebijakan bekerja dari mana saja (work from anywhere/WFA) yang berlangsung mulai 15 hingga 17 Maret 2026.
”Jadi kita mengantisipasi bahwa dari tanggal 13 ini sudah mulai ada pergerakan atau bangkitan. Kita bisa lihat mungkin bagaimana dinamikanya setelah berbuka puasa,” ujar Dudy saat membuka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Posko yang bakal mengevaluasi menyeluruh terhadap volume pergerakan arus mudik gelombang pertama ini akan langsung dilakukan pada Sabtu pagi pukul 06.00. Pengawasan titik rawan kemacetan menjadi fokus utama. Adapun posko akan beroperasi hingga 30 Maret 2026.
Titik-titik krusial yang dipetakan meliputi ruas jalan tol yang rawan kepadatan akibat peningkatan volume kendaraan maupun potensi kecelakaan. Kemudian titik krusial lainnya yakni simpul penyeberangan utama seperti Pelabuhan Merak dan Ketapang.
Berdasarkan pantauan langsung Dudy pada Jumat siang, arus lalu lintas menuju Pelabuhan Merak masih relatif landai. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat pelabuhan selalu menjadi titik kumpul utama pergerakan masyarakat.
Dudy menegaskan bahwa instansi terkait, termasuk Korlantas Polri dan pengelola penyeberangan, telah menyiapkan langkah antisipatif untuk mengurai kepadatan di lapangan secara cepat dan tepat.
Jadi kita mengantisipasi bahwa dari tanggal 13 ini sudah mulai ada pergerakan atau bangkitan. Kita bisa lihat mungkin bagaimana dinamikanya setelah berbuka puasa.
Tantangan mengurai kemacetan pada gelombang pertama ini tidak hanya terpusat di jalan tol atau pelabuhan, tetapi juga di jalur arteri. Menurut laporan koordinasi posko daerah di Banten, kepadatan juga diantisipasi selepas pintu keluar Tol Cilegon Timur, khususnya di Simpang Seruni dan Simpang PCI. Kendaraan pribadi dan angkutan barang bersumbu tiga kerap mendominasi jalur tersebut dan memicu perlambatan arus.
Sebagai langkah mitigasi lalu lintas, pemerintah telah memberlakukan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang membatasi operasional kendaraan angkutan barang bersumbu tiga ke atas. ”Pembatasan ini dilakukan untuk memberikan jaminan rasa nyaman dan aman bagi para pengguna jalan khususnya, sehingga mereka dapat melakukan perjalanan tanpa perlu merasa khawatir,” tutur Dudy.
Melalui Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu ini, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat berkoordinasi dan bersinergi mengatasi kendala di lapangan. ”Posko ini bersifat nasional sehingga kita akan mengcover seluruh wilayah Nusantara selama masa mudik Lebaran,” tambahnya.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Agus Suryo Nugroho memastikan skenario penanganan di Pelabuhan Merak telah tersusun matang. Merak bahkan sudah siap untuk menghadapi cuaca ekstrem.
”Mekanisme skenario daripada kondisi normal, kondisi kuning, dan merah sudah siap. Apabila terjadi cuaca ekstrem, kita sudah bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah dipersiapkan, baik cara bertindak di jalan, delay system kita, tempat-tempat buffer zone sudah siap semuanya,” katanya.
Lebih lanjut, Kakorlantas menekankan bahwa pengamanan mudik kali ini tidak sebatas pada rekayasa lalu lintas fisik di lapangan. Melalui Operasi Ketupat yang mengusung slogan ”Mudik Aman, Warga Bahagia”, Polri menempatkan kegiatan ini sebagai operasi kemanusiaan.
”Mabes Polri meyakinkan bahwa kondisi selama operasi ini di bulan suci Ramadhan, Idul Fitri, dan bahkan hari raya ini harus aman kondusif, baik di bidang kriminalitas dan di bidang safety kelancaran,” tegas Agus.





