Lonjakan kendaraan menuju Kota Bandung diperkirakan akan terjadi selama periode libur panjang dan arus mudik Idulfitri 2026.
Data terbaru menunjukkan jumlah kendaraan dari Jakarta yang melintas menuju Bandung melalui Gerbang Tol Kalihurip Utama diprediksi mencapai ratusan ribu unit.
Senior General Manager Jasa Marga Tollroad Maintenance, Widyatmiko Nursejati, menyebutkan selama periode H-10 hingga H+10 Lebaran 2026 diperkirakan sekitar 786.000 kendaraan keluar dari Jakarta menuju Bandung melalui Tol Cipularang.
Jumlah tersebut mengalami kenaikan 3,3 persen dibandingkan periode Lebaran 2025, serta meningkat 15,8 persen dibandingkan lalu lintas normal.
“Selama periode H-10 sampai H+10 diperkirakan sekitar 786 ribu kendaraan menuju Bandung melalui Gerbang Tol Kalihurip Utama. Angka ini naik dibandingkan tahun lalu dan juga lebih tinggi dibandingkan kondisi normal,” ujar Widyatmiko, Jumat (13/3/2026).
Sementara itu, arus balik dari Bandung menuju Jakarta juga diprediksi mengalami lonjakan. Selama periode yang sama, kendaraan yang meninggalkan Bandung melalui gerbang tol tersebut diperkirakan mencapai 790.000 kendaraan.
Jumlah tersebut meningkat 16,1 persen dibandingkan kondisi normal dan naik sekitar 4,3 persen dibandingkan periode Lebaran 2025.
Menurut Widyatmiko, peningkatan volume kendaraan ini tidak lepas dari libur Lebaran yang lebih panjang serta kebijakan work from anywhere (WFA) yang membuat masyarakat memiliki waktu lebih fleksibel untuk bepergian.
Bandung sendiri menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan, terutama bagi masyarakat dari Jakarta dan sekitarnya.
“Libur Lebaran tahun ini relatif panjang, ditambah adanya kebijakan WFH dan WFA. Bandung juga dikenal sebagai kota wisata, baik wisata kuliner maupun tempat berkumpul bersama keluarga. Karena itu kemungkinan masyarakat bisa menggunakan Tol Cipularang lebih dari sekali selama periode liburan ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak menutup kemungkinan masyarakat melakukan perjalanan beberapa kali selama masa libur yang bisa berlangsung hampir tiga minggu.
“Bisa saja masyarakat datang untuk silaturahmi, kemudian kembali lagi untuk berwisata bersama keluarga. Frekuensi perjalanan ini yang berpotensi menambah peningkatan trafik,” katanya.
Dalam periode arus mudik, kepadatan lalu lintas biasanya terjadi di sekitar rest area, terutama ketika kapasitas tempat istirahat sudah penuh.
Di jalur menuju Bandung, terdapat dua rest area yang sering menjadi titik antrean kendaraan, yakni Rest Area KM 72 dan Rest Area KM 88.Ketika kapasitas rest area telah penuh, petugas biasanya melakukan pengalihan kendaraan sehingga tidak semua pengguna jalan dapat masuk. Karena itu, pengguna jalan diimbau untuk memantau kondisi antrean sebelum memutuskan berhenti.
“Jika rest area penuh, sebaiknya pengguna jalan tetap melanjutkan perjalanan. Jarak menuju Bandung sebenarnya hanya sekitar 20 sampai 30 kilometer lagi,” kata Widyatmiko.
Ia juga mengingatkan agar pengendara tidak berhenti di bahu jalan hanya untuk menunggu masuk rest area karena dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.
Sementara pada periode arus balik menuju Jakarta, terdapat beberapa titik rest area yang diprediksi mengalami kepadatan, yakni Rest Area KM 97B dan Rest Area KM 125B.
Selain itu, simpul lalu lintas di kawasan Dawuan juga diperkirakan menjadi salah satu titik kepadatan kendaraan.
Kepadatan biasanya mulai terjadi setelah waktu Asar, bertepatan dengan jam check-out hotel dan aktivitas wisatawan yang mulai meninggalkan Bandung.
“Biasanya sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 orang mulai keluar dari hotel, membeli oleh-oleh, lalu masuk tol sekitar sore hari. Setelah itu arus kendaraan akan semakin meningkat,” ujarnya.
Selain itu, aktivitas masyarakat yang ingin beristirahat, makan malam, atau menjalankan ibadah juga turut memicu antrean panjang di rest area.
Untuk menghindari kepadatan, masyarakat disarankan keluar dari Bandung lebih awal, terutama sebelum pukul 15.00 WIB.
“Periode yang relatif aman adalah antara pukul 12.00 sampai 15.00. Setelah itu biasanya arus kendaraan mulai meningkat,” kata Widyatmiko.
Sementara itu, dalam rangka menjaga kelancaran arus lalu lintas, pemerintah juga akan memberlakukan pembatasan kendaraan angkutan barang pada periode 13 hingga 29 Maret 2026.Pembatasan ini bertujuan mengurangi kepadatan selama arus mudik dan arus balik Lebaran.
Namun demikian, kendaraan yang mengangkut kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) tetap diperbolehkan melintas.
“Pembatasan ini diharapkan memberikan ruang bagi kendaraan pribadi yang melakukan perjalanan mudik atau silaturahmi,” jelasnya.
Selain mengantisipasi kepadatan lalu lintas, pengguna jalan juga diingatkan untuk memperhatikan faktor keselamatan selama perjalanan. Pengemudi diminta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, mulai dari rem, ban, lampu, hingga wiper.
Saat terjadi hujan deras atau kabut, pengendara juga diimbau menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan.
“Pandangan terbatas saat hujan bisa meningkatkan risiko kecelakaan. Karena itu pengemudi harus menyesuaikan kecepatan dan menjaga jarak aman,” ujarnya.
Menghadapi lonjakan kendaraan selama libur Lebaran, PT Jasa Marga telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan kelancaran perjalanan di Tol Cipularang.
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Kantongi Pendapatan Rp29,89 Triliun Sepanjang 2025
Di antaranya dengan mengoptimalkan kapasitas gerbang tol, menyiagakan petugas layanan transaksi dan top up uang elektronik, serta menempatkan personel operasional di sejumlah titik strategis.
Selain itu, armada patroli dan kendaraan derek juga disiagakan untuk mempercepat penanganan jika terjadi gangguan kendaraan di jalan tol.
Jasa Marga juga meningkatkan fasilitas di beberapa rest area, khususnya di Rest Area KM 88A dan 88B, termasuk peningkatan kualitas toilet, taman, dan fasilitas ibadah.
“Semua langkah ini kami lakukan agar pengguna jalan dapat melakukan perjalanan dengan lebih nyaman dan aman selama periode libur Lebaran,” pungkasnya





