Serba-serbi Mudik Jelang Lebaran 2026

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Gelombang arus mudik 2026 dimulai sejak Jumat (13/3). Ribuan kendaraan berbondong-bondong tinggalkan Jakarta menuju kampung halaman di berbagai wilayah.

Berbagai persiapan untuk memastikan perjalanan mudik masyarakat aman telah dilakukan oleh Korlantas Polri hingga Kementerian Perbubungan. Adapun puncak arus mudik diperkirakan mulai terjadi pada tanggal 13-14 Maret dan 18-19 Maret 2026.

Berikut serba-serbi mudik 2026:

Operasi Ketupat Dimulai

Operasi Ketupat 2026 dalam rangka mengamankan perjalanan mudik lebaran dimulai pada 13 Maret 2026. Persiapan operasi tersebut sudah digelar dalam apel pada Kamis (12/3).

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan ada 161.243 personel gabungan dari unsur TNI-Polri dan pihak lainnya disiagakan selama operasi ini berlangsung.

"Polri telah menyiapkan 2.746 pos yang terdiri dari 1.624 pos pengamanan, 779 pos pelayanan, serta 343 pos terpadu," ujar Listyo.

Pos-pos tersebut akan berfungsi sebagai pusat informasi, pelayanan, sekaligus titik pengamanan bagi masyarakat selama masa perjalanan mudik.

"Sebagai pusat informasi dan pelayanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan, pengamanan juga akan difokuskan terhadap 185.607 objek berupa masjid, lokasi salat Idul Fitri, objek wisata, pusat perbelanjaan, terminal, pelabuhan, stasiun kereta api, dan bandara," jelasnya.

Sementara itu, Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menjelaskan, pengamanan mudik dilakukan untuk lima klaster, mulai dari jalan tol, jalan arteri, tempat penyeberangan pelabuhan, termasuk terminal, bandara, stasiun, tempat-tempat ibadah, dan tempat-tempat wisata.

“Kami akan pantau menggunakan ETLE, drone, dan bahkan ada bodycam yang nanti akan menempel untuk melayani masyarakat, baik yang ada di jalan tol, yang ada di arteri, termasuk tempat-tempat pelabuhan,” ucapnya.

Rekayasa Lalu Lintas Disiapkan

Rekayasan lalu lintas juga telah disiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi penumpukan volume kendaraan. Irjen Agus mengatakan rekayasa lalu lintas akan diterapkan berdasarkan parameter kondisi kendaraan di lapangan. Salah satu indikator yang dipantau yakni volume kendaraan melalui sistem penghitung lalu lintas di sejumlah titik, termasuk di KM 47.

Ia mencontohkan penerapan rekayasa lalu lintas di kawasan Cibadak yang terhubung dengan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).

“Termasuk juga di Cibadak, dari Bocimi yang Bogor-Sukabumi, itu juga akan dilakukan one way. Tetapi kalau untuk di jalan tol, rekayasa lalu lintas itu bukan karena prediksi, tetapi parameter-parameter jumlah traffic counting yang ada di jalan tol,” ujarnya.

Agus menjelaskan, jika volume kendaraan mencapai angka tertentu, maka akan diberlakukan contraflow secara bertahap.

“Kalau sudah 5.500, kami akan lapor Bapak Kapolri, akan kami lakukan eksekusi contraflow lajur satu. Kalau lajur satu ternyata satu jam berturut-turut ke depan itu 6.400, kami akan melakukan eksekusi contraflow lajur dua. Kalau lajur satu, lajur dua masih tidak nampung dari gate tol di kilometer 70, kami akan terbangkan drone memantau bagaimana flow-nya,” kata dia.

Mudik Lebih Awal

Sejumlah warga memilih berangkat mudik lebih awal usai enam tahun merantau di Jakarta. Salah satunya Sulistriani (38). Ia hendak mudik menggunakan kereta dari Stasiun Pasar Senen menuju kampung halamannya di Kebumen, Jawa Tengah.

Ia memilih mudik lebih awal demi menghindari kepadatan jelang puncak arus mudik yang diperkirakan jatuh pada 14 hingga 15 Maret 2026.

"Biar enggak macet tentunya. Terus kemarin juga nyari keretanya, dapatnya tanggal ini, tanggal 13," kata Sulis kepada kumparan.

Jalur Mudik Lintas Sumatera Padat

Kepadatan arus lalu lintas saat musim mudik Lebaran tidak hanya terjadi di Trans Jawa, tapi juga di Lintas Sumatera. Kepadatan arus mudik terjadi di jalur utama Lintas Timur Sumatera, tepatnya di jalan yang menghubungkan Palembang-Betung, Sumatera Selatan. Kendaraan nyaris tak bergerak karena padatnya kendaraan.

Hal ini dialami oleh seorang pemudik, Aldo. Dia sudah melakukan perjalanan dari Jakarta sejak Kamis, 12 Maret 2026. Dia memilih jalan tol lintas Sumatera, lalu melewati tol fungsional dan keluar di jalan penghubung Palembang-Betung.

Di sinilah, kemacetan parah langsung terasa. Jumat (13/3) siang, Aldo keluar dari tol fungsional. Sejak saat itu, arus lalin sudah tersendat.

"Ini sudah jalan 2,5 jam baru dapat 19 km," kata Aldo.

Aldo mengatakan, jalan di situ terbilang sempit. Hanya ada 2 lajur untuk masing-masing arah. Lalu, masih banyak truk-truk besar yang beroperasi.

Lebih parah lagi, sejumlah pengendara nakal yang nekat mengambil lajur berlawanan alias ngeblong. Kepadatan semakin parah saat kendaraan yang ngeblong bertemu dengan kendaraan dari arah berlawanan.

"Jadi mereka akhirnya banting setir ke kanan, di bahu jalan. Jalurnya sempit. Arah berlawanan truk-truk besar. Ketika jalanan sudah kosong, mobil langsung lawan arah lagi," jelas dia.

Prabowo Minta Tingkatkan Layanan Rest Area

Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh kementerian dan lembaga meningkatkan kualitas pelayanan di berbagai titik transportasi menjelang arus mudik Lebaran.

Dalam arahannya, Prabowo menekankan pentingnya memastikan pelayanan publik berjalan optimal, terutama di lokasi-lokasi yang dipadati masyarakat selama musim mudik seperti rest area, pelabuhan, bandara, hingga stasiun.

"Selanjutnya, saya minta kualitas pelayanan di rest area, di pelabuhan, di bandara, dan di semua stasiun ditingkatkan. Usahakan tidak ada antrean yang tidak terkendali. Ketersediaan BBM, pasokan listrik, dan jaringan internet diupayakan terus stabil. Ini adalah lebaran kedua pemerintahan kita," kata Prabowo.

Warga yang Mudik Diimbau Lapor RT/RW

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau warga yang akan mudik Lebaran agar lapor ke pengurus RT dan RW setempat. Gunanya, agar pejabat lingkungan setepamt bisa mengetahui dan mengantisipasi potensi kebakaran atau bencana lain pada rumah yang ditinggal mudik.

Menurutnya, koordinasi dengan lingkungan sekitar penting agar ada pihak yang dapat memantau rumah warga yang kosong.

“Saya sudah meminta kepada jajaran Pemerintah DKI Jakarta sampai dengan tingkat RW, RT melakukan sosialisasi bagi semua warga yang akan mudik untuk melaporkan supaya ada yang bertanggung jawab kalau kemudian ini ditinggal pulang kampung,” ujar Pramono saat melakukan kunjungan kerja dan safari Ramadan di wilayah Kepulauan Seribu, Jumat (13/3).

Ia menekankan, pelaporan tersebut penting untuk mencegah kejadian tidak diinginkan, seperti kebakaran ataupun banjir ketika rumah ditinggalkan pemiliknya.

“Jangan sampai seperti waktu yang lalu, kebetulan ada kebakaran atau juga banjir karena ini masih ada potensi untuk hujan, ” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puluhan Orang Termasuk Bupati Cilacap Terjaring OTT KPK, Diduga Terkait Kasus Proyek
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Pelatih Sebut Komentar Presenter TV Picu Tekanan Bagi Pemain Timnas Putri Iran
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polisi bagikan tips aman berkendara di jalur Puncak saat libur Lebaran
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Mahkamah Agung Tolak Kasasi Nikita Mirzani, Tetap Dihukum 6 Tahun Penjara
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kakorlantas Tegaskan Larangan Operasikan Kendaraan Over Dimension Saat Operasi Ketupat 2026
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.