Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/3). Lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan prospek suku bunga.
Mengutip Reuters pada Sabtu (14/3), ketiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan baik secara harian maupun mingguan. Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,26 persen ke level 46,558.47, sementara S&P 500 melemah 0,61 persen jadi 6,632.19, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,93 persen ke level 22,105.36.
Tekanan di pasar saham terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level USD 100 per barel. Kenaikan harga energi dipicu oleh gangguan pasokan minyak akibat konflik yang melibatkan Iran, serta ancaman penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bulan terdekat ditutup naik 3,11 persen ke level USD 98,71 per barel. Sementara minyak mentah Brent menguat 2,67 persen menjadi USD 103,14 per barel, menandai penutupan di atas USD 100 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan negaranya bakal meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Trump menyatakan AS akan menyerang Iran “sangat berat selama minggu depan,” tak lama setelah pemerintahannya memberikan keringanan parsial selama 30 hari bagi pembelian minyak Rusia yang terkena sanksi dengan harapan dapat meredam lonjakan harga energi.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencoba memperkirakan seberapa lama gangguan pasokan minyak global akan berlangsung.
"Berita-berita utama datang menghantam pasar seperti air dari selang pemadam kebakaran, yang berdampak pada harga minyak, dan akibatnya, pasar keuangan," ujar Group head of fixed income di Federated Hermes, Mitch Reznick.
Situasi semakin memanas setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, berjanji akan terus menutup jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia. Kondisi ini membuat investor mengantisipasi konflik yang lebih panjang dan potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Kenaikan harga energi juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Pasar pun mulai menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Pelaku pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran sekitar 20 basis poin dari Federal Reserve tahun ini, jauh lebih kecil dibandingkan ekspektasi pemangkasan 50 basis poin yang diperkirakan pada bulan lalu.
"Dengan pasar yang sangat fokus pada harga minyak dan geopolitik, angka-angka hari ini mungkin sebagian besar luput dari perhatian," kata Chief economic strategist Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner.
"Terlepas dari tanda-tanda perlambatan ekonomi, data inflasi yang lebih kaku justru memperkuat anggapan bahwa The Fed akan tetap berada di posisi netral," sambungnya.
Di pasar global, tekanan juga terlihat pada saham Eropa. Indeks STOXX 600 turun 0,5 persen, sementara indeks saham global MSCI melemah 0,9 persen. Sementara itu, dolar AS menguat dan kembali menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar global.
Investor kini menanti rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia pekan depan, termasuk Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.




