Phapros (PEHA) Pacu Efisiensi Energi Demi Daya Saing dan Target Industri Hijau

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SEMARANG — PT Phapros Tbk. (PEHA) terus memacu implementasi manajemen energi dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) demi meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini diambil di tengah pergeseran konsumsi energi yang kini didominasi oleh sektor industri seiring dengan masifnya penggunaan transportasi massal oleh masyarakat.

Utility & Energy Manager Phapros, Arie Wicaksono, mengungkapkan bahwa biaya energi merupakan komponen krusial dalam struktur biaya perusahaan. Saat ini, porsi biaya energi menyumbang sekitar 20%—30% dari total Harga Pokok Penjualan (HPP) perusahaan.

"Sebagai industri tidak menampik bahwa fokus utama kami adalah mencari keuntungan, sehingga fokus utamanya ada di daya saing, agar kita bisa menjual produk, menghasilkan profit sebanyak-banyaknya. Peran efisiensi energi dan EBT ada di HPP, 20%—30% adalah biaya energi, di kami bayar PLN sebulan Rp1,2 miliar—Rp1,5 miliar," ujar Arie dalam diskusi yang digelar di Kota Semarang pada Kamis (12/3/2026).

Menurut dia, jika komponen operasional bisa diefisienkan, harga produk dapat lebih kompetitif dan profitabilitas perusahaan akan meningkat signifikan.

Adapun, strategi yang diterapkan perseroan mengacu pada empat prinsip utama: reduce, reuse, recover, dan replace. Prinsip reduce berfokus pada pengurangan konsumsi sejak awal, sementara reuse memanfaatkan kembali energi terbuang seperti panas uap (steam).

Sementara itu, recover mengolah limbah menjadi energi pendukung proses produksi, dan replace dilakukan dengan mengganti teknologi lama ke sistem yang lebih baru dan efisien.

Baca Juga : Akselerasi Transisi Energi di Desa Banjarsari Demak Terganjal Efisiensi Anggaran

Secara teknis, efisiensi dilakukan melalui pemantauan kebocoran pipa boiler, pemanfaatan sisa panas cerobong, hingga optimasi sistem pendingin. Phapros juga telah mengintegrasikan panel surya setelah melalui studi kelayakan atau feasibility study yang komprehensif guna memastikan aspek keekonomian, biaya, dan penghematannya.

Arie menambahkan bahwa efisiensi ini dijalankan tanpa mengorbankan standar kualitas obat. Melalui panduan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), salah satunya melalui validasi ketat pada sistem HVAC yang harus beroperasi 24 jam untuk menjaga mutu produk.

"Itu perannya BPOM, ada CPOM, ada panduan yang irisannya kualitasnya tetap terjamin artinya produknya tetap berkualitas tapi efisiensinya tetap dapat. Contohnya, kita untuk pembuatan sediaan injeksi atau obat noninjeksi, HVAC itu harus nyala 24 jam. Jadi BPOM punya panduan validasi, kalau itu berhasil baru kita terapkan," jelas Arie.

Selain penghematan biaya secara riil, manajemen energi sangat erat kaitannya dengan aspek lingkungan. Mengingat pembangkit listrik nasional masih didominasi batu bara yang tinggi emisi, langkah penghematan energi secara otomatis akan menurunkan jejak karbon perusahaan.

Upaya berkelanjutan ini telah membuahkan hasil berupa peringkat Hijau dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) selama tiga tahun berturut-turut. Perseroan kini membidik peringkat Emas melalui konsistensi dalam penurunan penggunaan energi dan emisi.

Sinergi di bawah holding farmasi PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) turut memperkuat posisi PEHA. Sejak bergabung dengan holding, inisiatif lingkungan yang telah dimulai sejak 2018 menjadi lebih terarah dan selaras dengan target pusat. Setiap periode, data emisi dan efisiensi dilaporkan secara rutin untuk menjaga transparansi kepada pemegang saham dan bursa melalui laporan keberlanjutan.

Arie menekankan bahwa komitmen manajemen adalah kunci utama keberhasilan transisi energi ini. "Kalau manajemen sudah komit, kita mau minta apa saja pasti dikasih, asal feasible. Prinsipnya, manajemen energi ini campuran penerapan EBT sama praktik yang mengurangi konsumsi energi," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Diproyeksi Capai 3,01 Juta pada Lebaran 2026
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kakorlantas Polri: Ada Penambahan Arus di Hari Pertama Operasi Ketupat 2026
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 14 Maret 2026: Turun ke Rp2.997.000 per gram
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Koperasi Pesantren Dinilai Berpotensi Jadi Motor Ekonomi Syariah
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Kronologi Aurel Hermansyah Dikritik Gegara Promosi Kue Lebaran, Sebut Coklat Premium Harga Murah sampai Dituding Overclaim
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.