Liputan6.com, Jakarta - Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna menilai, penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dapat menjadi opsi yang lebih hemat untuk menekan ketergantungan Indonesia pada minyak bumi dibandingkan dengan pemanfaatan biodiesel maupun bioetanol.
"Kendaraan listrik lebih irit dalam biaya operasi dan tidak menjadi beban besar bagi subsidi negara," kata Putra, melansir Antara, Rabu 11 Maret 2026.
Advertisement
Menurut Putra, elektrifikasi menjadi arah utama dalam pengembangan transportasi ke depan. Hal ini juga menjadi salah satu alasan China sangat agresif mengembangkan industri kendaraan listriknya, mengingat sekitar 70 persen kebutuhan minyak negara tersebut masih bergantung pada impor.
"Saat ini, Indonesia menggantikan setidaknya 3 ribu barel minyak per hari dengan kendaraan listrik," ucapnya.
Ia menekankan, ketahanan energi itu sangat penting, namun yang harus menjadi perhatian dari pemerintah adalah perbandingan biaya antara opsi yang telah ada.
"Apabila perbandingan harga tidak dihitung dengan jelas, maka terdapat risiko Indonesia terjebak di dalam ekonomi yang berbiaya tinggi (high cost economy). Risiko tersebut dapat menjadi beban bagi masyarakat Indonesia dan mengurangi daya saingnya di pasar global," kata Putra.
Dengan itu, lanjut dia, meskipun biodiesel menggantikan setidaknya 270 ribu barel minyak per hari, ia menilai industri kendaraan listrik perlu lebih didorong lagi. Putra menambahkan, biodiesel bergantung kepada topangan subsidi berlipat, karena harganya yang lebih mahal daripada diesel biasa.
"Subsidi tambahan biodiesel sudah melejit menjadi sekitar Rp35–40 triliun dan akan naik terus bila pemerintah mendorong terus," terang Putra.




