Terlalu Sering Scroll, Remaja Bisa Jadi Rentan Cemas dan Nggak Pede

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog mengingatkan penggunaan media sosial secara berlebihan pada remaja dapat memicu sejumlah dampak psikologis, mulai dari perbandingan sosial hingga gangguan tidur. Salah satu dampak yang sering muncul adalah kecenderungan remaja membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial,” ujar Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, S Psi, M Psi, Sabtu (14/3/2026).

Baca Juga
  • Polda Metro Jaya Night Run 2026: Upaya Tekan Aktivitas Remaja Tak Bermanfaat
  • Catat, Akun Medsos Anak dan Remaja Mulai Dinonaktifkan 28 Maret
  • Polisi yang Menembak Mati Remaja di Makassar Jadi Tersangka, Begini Kronologi Kejadiannya

Ia menjelaskan konten di media sosial umumnya menampilkan sisi terbaik seseorang. Namun remaja yang sedang berada dalam fase pencarian identitas belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk memilah antara realitas dan representasi.

Akibatnya, perbandingan sosial yang terjadi terus-menerus dapat memengaruhi harga diri. “Jika validasi terlalu bergantung pada likes dan komentar, harga diri menjadi sangat eksternal. Artinya, rasa percaya diri bergantung pada respons orang lain,” katanya.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Selain itu, penggunaan media sosial yang intens juga berkaitan dengan munculnya fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal informasi atau tren sosial. Remaja dapat merasa cemas ketika tidak mengikuti perkembangan terbaru atau tidak terlibat dalam percakapan digital dengan teman sebaya.

Dampak lain yang kerap ditemukan adalah gangguan tidur. Penggunaan gawai hingga larut malam, terutama sebelum waktu istirahat, dapat menurunkan kualitas tidur dan memengaruhi konsentrasi pada keesokan harinya.

Meski demikian, Teresa menekankan media sosial tidak selalu berdampak negatif. Banyak remaja memanfaatkannya untuk belajar, membangun komunitas, serta mengekspresikan kreativitas. “Masalah muncul ketika penggunaannya tidak seimbang dan tidak terkelola,” ujar psikolog yang kerap dipanggil Tesya itu.

Ia menilai peran orang tua dan lingkungan menjadi penting untuk membantu remaja menggunakan media sosial secara sehat dan proporsional.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pejabat Kemkomdigi diminta percepat transformasi digital
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Potensi Rebut Gelar Juara di MotoGP 2026, Valentino Rossi Sebut Marco Bezzecchi Pembalap Terbaik VR46 Saat Ini
• 9 menit lalutvonenews.com
thumb
5 Arti Mimpi Atap Rumah Bocor, Pertanda Rasa Aman Terganggu hingga Kecewa
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Polresta Bandung Dirikan Pos Terpadu “Lembur Kaheman” di Nagreg Layani Pemudik
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Dinkes Kota Batu Gandeng BPJS Kesehatan Sosialisaikan Kepesertaan Aktif JKN Kota Batu
• 10 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.