Mayoritas publik yakin atas kesiapan pemerintah dalam menjamin kelancaran mudik Lebaran tahun ini. Meski demikian, masih ada kekhawatiran terhadap kepadatan arus lalu lintas hingga potensi kenaikan harga barang akibat ketidakpastian kondisi geopolitik global saat ini.
Dalam menyambut rutinitas Lebaran tahun ini, pemerintah tampaknya telah mempersiapkan secara optimal guna menjamin keamanan dan kenyamanan para pemudik. Berbagai fasilitas, infrastruktur, hingga sumber daya manusia dikerahkan untuk menjamin kelancaran serta keselamatan selama masa Lebaran 2026.
Menurut Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada tahun ini secara nasional diperkirakan mencapai 143,9 juta orang. Artinya, sekitar separuh penduduk Indonesia akan melakukan perjalanan dalam waktu yang relatif bersamaan. Mobilitas ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan beragam. Hanya saja, secara mayoritas, sebagian besar aktivitas pemudik terjadi di wilayah Pulau Jawa.
Dilihat dari pilihan moda transportasi yang digunakan, kendaraan pribadi masih menjadi primadona bagi para pemudik untuk dikendarai menuju kampung halaman. Menurut survei Kemenhub, mayoritas pemudik sebesar 52,9 persen akan mengendarai mobil dan 16,7 persen akan mengendarai motor. Sisanya, pemudik memilih transportasi umum seperti kereta api, pesawat, bus, dan kapal untuk pulang kampung.
Besarnya jumlah pemudik serta beragamnya pilihan moda transportasi mendorong pemerintah untuk harus bersiap dengan situasi ini. Sejumlah persiapan sudah dikerahkan untuk menjamin kelancaran masyarakat saat mudik dan arus balik nanti, termasuk mendorong pemudik untuk menggunakan transportasi umum. Salah satu caranya dengan memberikan insentif diskon hingga 30 persen bagi para pemudik yang bepergian menggunakan moda kereta api dan kapal laut.
Selain itu, pemerintah dan sejumlah perusahaan swasta juga menawarkan program mudik gratis. Dengan program ini, para pemudik dapat menghemat biaya transportasi sekaligus mengurangi risiko kecelakaan. Ratusan bus hingga puluhan truk disiapkan untuk mengangkut pemudik dan juga sepeda motor para pemudik yang akan digunakan di tempat tujuan.
Selanjutnya, terkait manajemen arus lalu lintas, antisipasi kemacetan melalui rekayasa lalu lintas sudah disiapkan Korlantas Polri di beberapa titik kemacetan. Penerapan contraflow dan one way disiapkan dan akan diterapkan berdasarkan situasi di lapangan.
Melihat berbagai kesiapan pemerintah itu, publik merasa yakin bahwa usaha yang dilakukan pemerintah dapat menjamin kelancaran mudik tahun ini. Hal itu tercermin dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada awal Maret ini yang menjaring 415 responden di 11 kota besar di Indonesia. Sebanyak 65,5 persen responden merasa yakin atas kesiapan pemerintah dalam menjamin kelancaran arus mudik Lebaran.
Keyakinan tersebut diungkapkan tidak hanya berdasarkan atas persiapan yang dilakukan untuk menyambut mudik Lebaran tahun ini saja. Namun, juga atas akumulasi persepsi publik sebelumnya dalam melihat pengalaman mudik tahun-tahun sebelumnya. Berbagai kebijakan dan program mudik lebaran 2025 yang dikeluarkan pemerintah dirasa cukup membantu para pemudik untuk tetap aman dan nyaman ketika pulang ke kampung halaman.
Menurut Survei Kepuasan Penyelenggaraan Mudik 2025 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama Litbang Kompas pada 7–13 April 2025, sebanyak 90,9 persen pelaku perjalanan merasa puas atas penyelenggaraan mudik tahun lalu (Kompas, 30 April 2025). Sejumlah program dan kebijakan yang dinilai publik seperti program mudik gratis, diskon harga tiket angkutan, diskon tarif tol, Work From Anywhere (WFA), serta rekayasa lalu lintas mendapatkan respon positif dari masyarakat.
Hal serupa juga terjadi pada tahun ini, di mana publik juga berkeyakinan terhadap baiknya kualitas penyelenggaraan mudik pemerintah kali ini. Meskipun demikian, masih ada sebagian responden sebesar 30,3 persen menyatakan keraguannya. Ada sejumlah hal yang dikhawatirkan masa masa Lebaran tahun ini.
Berdasarkan hasil jajak pendapat Litbang Kompas, setidaknya ada lima hal yang paling dikhawatirkan masyarakat. Secara berurutan terdiri dari kepadatan arus lalu lintas mudik; biaya mudik dan kenaikan harga barang; keamanan perjalanan mudik; cuaca dan potensi bencana alam; dan kondisi infrastruktur.
Kekhawatiran tersebut muncul dari responden yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran maupun yang tidak mengikuti melakukan perjalanan. Dalam konteks mudik, arus lalu lintas; keamanan perjalanan ;dan kondisi infrastruktur sudah dapat dipastikan menjadi sumber kekhawatiran masyarakat selama mudik Lebaran. Namun, yang menarik adalah kekhawatiran publik juga ditujukan pada kondisi ekonomi mereka seperti kemungkinan biaya mudik yang membengkak hingga kenaikan harga-harga barang.
Di satu sisi, kekhawatiran tersebut muncul dari faktor personal seperti bertambahnya pengeluaran karena kebutuhan atau situasi mendadak saat mudik Lebaran. Namun, di sisi lainnya juga muncul sebagai dampak tidak langsung dari situasi saat ini.
Perang AS-Israel melawan Iran yang masih berlanjut membuat harga minyak dunia meningkat sehingga memicu sentimen ketidakpastian ekonomi. Narasi pemberitaan dan media sosial yang menginformasikan kemungkinan dampak negatif dari fenomena tersebut cukup menjadi perhatian publik. Beriringan dengan kenaikan harga barang jelang lebaran, kekhawatiran terhadap dampak perang di Timur Tengah terhadap kondisi ekonomi masyarakat menjadi ganjalan ketika menyambut perayaan Idul Fitri nantinya.
Selain kondisi global dan perekonomian, cuaca buruk dan sejumlah bencana hidrometeorologis yang terjadi beberapa bulan terakhir juga turut membuat masyarakat resah. Apalagi BMKG memperkirakan masa mudik Lebaran akan disertai dengan potensi hujan lebat di sejumlah daerah. Sejumlah titik di jalur mudik juga merupakan kawasan rawan bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Berbagai hal yang dikhawatirkan publik tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Kendati sejumlah antisipasi berkaitan dengan potensi kemacetan, kenaikan harga barang, hingga cuaca buruk dan bencana alam sudah dimitigasi oleh pemerintah, implementasi dari upaya tersebut perlu dilakukan dengan matang.
Apalagi masyarakat sudah menaruh harapan dan optimisme bahwa pemerintah mampu menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat di masa Lebaran kali ini. Manajemen mudik Lebaran yang optimal, baik oleh pemerintah ataupun dari para pelaku perjalanan sangat diharapkan mampu mendukung kelancaran dan keselamatan arus perjalanan perayaan Lebaran tahun ini. (LITBANG KOMPAS)





