Jakarta (ANTARA) - Kurang disiplin dalam proses pemulihan (recovery) fisik setelah pertandingan, menjadi faktor utama penyebab atlet rentan terkena cedera.
Menurut Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sport Injury Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, dr. Petrasama, SpOT, Subs.CO (K), seorang atlet profesional tidak boleh lalai dalam menaati protokol recovery fisik, guna menjaga ketahanan tubuh dan meminimalkan risiko terjadinya cedera serius.
"Recovery yang terkadang terlewatkan adalah kurangnya istirahat setelah melalui pertandingan yang sengit," kata Petrasama dalam kegiatan Grand Opening Sport Clinic dengan tema "Integrated Sports Medicine: From Injury To Recovery", yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, di Jakarta, Sabtu.
Baca juga: RS Atma Jaya buka klinik khusus untuk dukung ekosistem olahraga
Dia menjelaskan, atlet profesional memiliki aktivitas fisik yang intens dan tuntutan untuk tampil dengan performa terbaik di setiap pertandingan.
Oleh sebab itu, protokol recovery tentu lebih ketat dari masyarakat umum yang gemar berolahraga.
Selain ketaatan terhadap protokol kesehatan, lanjut dia, disiplin dalam menjaga asupan gizi atau nutrisi juga menjadi faktor penting lainnya.
"Saat ini, cedera yang paling banyak ditemui baik masyarakat umum maupun atlet ada di bagian lutut, bahu, dan punggung," ujar dokter spesialis ortopedi itu.
Baca juga: Keluarga jadi sumber motivasi Ginting kembali ke semifinal usai cedera
Petrasama menambahkan, masyarakat awam yang gemar berolahraga juga diimbau untuk menaati protokol recovery yang benar, serta melakukan teknik dengan benar.
Selain itu, peregangan dalam proses pemanasan (warming up) harus dilakukan dengan tepat dan cukup, sehingga bisa meminimalkan risiko cedera.
Dia menyarankan, pemanasan bisa dilakukan selama 15 sampai 30 menit sesuai intensitas olahraga yang akan dilakukan.
"Kemudian pastikan olahraga tidak dalam kondisi sudah lelah baik karena bekerja maupun kelelahan yang lain," tambah dia.
Baca juga: Eala melaju ke 16 besar Indian Wells usai Gauff mundur karena cedera
Menurut Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sport Injury Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, dr. Petrasama, SpOT, Subs.CO (K), seorang atlet profesional tidak boleh lalai dalam menaati protokol recovery fisik, guna menjaga ketahanan tubuh dan meminimalkan risiko terjadinya cedera serius.
"Recovery yang terkadang terlewatkan adalah kurangnya istirahat setelah melalui pertandingan yang sengit," kata Petrasama dalam kegiatan Grand Opening Sport Clinic dengan tema "Integrated Sports Medicine: From Injury To Recovery", yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit (RS) Atma Jaya, di Jakarta, Sabtu.
Baca juga: RS Atma Jaya buka klinik khusus untuk dukung ekosistem olahraga
Dia menjelaskan, atlet profesional memiliki aktivitas fisik yang intens dan tuntutan untuk tampil dengan performa terbaik di setiap pertandingan.
Oleh sebab itu, protokol recovery tentu lebih ketat dari masyarakat umum yang gemar berolahraga.
Selain ketaatan terhadap protokol kesehatan, lanjut dia, disiplin dalam menjaga asupan gizi atau nutrisi juga menjadi faktor penting lainnya.
"Saat ini, cedera yang paling banyak ditemui baik masyarakat umum maupun atlet ada di bagian lutut, bahu, dan punggung," ujar dokter spesialis ortopedi itu.
Baca juga: Keluarga jadi sumber motivasi Ginting kembali ke semifinal usai cedera
Petrasama menambahkan, masyarakat awam yang gemar berolahraga juga diimbau untuk menaati protokol recovery yang benar, serta melakukan teknik dengan benar.
Selain itu, peregangan dalam proses pemanasan (warming up) harus dilakukan dengan tepat dan cukup, sehingga bisa meminimalkan risiko cedera.
Dia menyarankan, pemanasan bisa dilakukan selama 15 sampai 30 menit sesuai intensitas olahraga yang akan dilakukan.
"Kemudian pastikan olahraga tidak dalam kondisi sudah lelah baik karena bekerja maupun kelelahan yang lain," tambah dia.
Baca juga: Eala melaju ke 16 besar Indian Wells usai Gauff mundur karena cedera





