BRIN: Tingkat kepercayaan kepolisian tergantung budaya masyarakat

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syafuan Rozi menilai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap kepolisian merupakan budaya hukum masyarakat.

Dalam acara Speakup Kamtimbmas di Jakarta, Jumat (13/3), dia menuturkan apabila budaya hukum masyarakat tinggi, maka akan mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat ke pihak kepolisian.

"Data tren tingkat kepercayaan publik terhadap polisi di dunia masih dipegang oleh negara Belanda dengan urutan pertama sebagai negara yang minim kriminalitas. Hal tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakat di Belanda," ucap Syafuan, seperti dikutip dari keterangan di Jakarta, Sabtu.

Dikatakan, Belanda menerapkan sistem keadilan restoratif atau restorative justice yang menjadi mitigasi awal dalam kehidupan sosial masyarakat lokal. Sehingga, sebelum ke arah penegakan hukum masyarakat terlebih dulu menyelesaikan dalam internal kekeluargaan atau pendekat hukum adat (urban law).

Syaufan juga berpendapat kepolisian Indonesia bersyukur dengan adanya ilmuwan politik Prof. Hermawan Sulistyo, yang membantu mendesain reformasi struktural dan kultural di tubuh institusi Polri.

Ia menyebut Prof. Hermawan merupakan dosen di Universitas Bhayangkara yang bertugas melatih, mulai dari perwira Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) agar mempunyai kemampuan seperti polisi di Jepang, di Singapura, dan Belanda.

Baca juga: Hermawan Sulistyo ingatkan Polri jaga kepercayaan publik

"Yang tadinya, jaga jarak sama terus menangkap. Prof Herman bilang 'bukan itu tugas polisi', kasihan nanti penjara penuh," tutur dia.

Pada kesempatan itu, Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR) Fauzan Ohorella membeberkan data kinerja polisi yang tidak banyak masyarakat tahu selama bulan Ramadhan.

Dia menjelaskan ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok yang terjadi saat ini tidak terlepas dari peran aktif Polri.

"Bapak Kapolri instruksikan jajaran untuk membentuk satgas yang bertujuan memantau dan menekan distributor dan tengkulak, yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya ibu-ibu di bulan Ramadhan," ujarnya.

Fauzan menyampaikan banyak pengamat yang terus memperhatikan kinerja Polri selama Ramadhan. Dia merujuk pada tulisan dari pengamat politik senior Boni Hargens yang menilai Safari Ramadhan Polri sebagai wujud dari fasilitator sosial.

Polri sebagai fasilitator sosial, yang berperan aktif dan mengambil bagian penting di bulan Ramadhan, yaitu menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga bahan pokok.

Dia pun turut menyinggung layanan call centre 110 Polri yang dinilai sangat efektif dan langsung dirasakan masyarakat terkait respon cepat Polri.

Dia menunjukkan hal tersebut dirasakan oleh masyarakat di Batam yang resah dengan kegiatan balap liar, yang langsung direspons cepat oleh Polsek Batu Ampar, Kota Batam.

"Ini menunjukkan bahwa Polri komitmen menjaga kamtibmas tetap kondusif di tengah bulan Ramadhan," ucap dia.

Fauzan juga menekankan masyarakat Indonesia harus bisa menyaring setiap berita yang dikonsumsi, baik dari media sosial maupun media arus utama.

Baca juga: Kepala BRIN pastikan bantu Polri telusuri sumber kayu banjir Sumatera

Baca juga: Bareskrim telah periksa peneliti BRIN Thomas Djamaluddin sebagai saksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jangan Khawatir, Pemerintah Tegaskan Cadangan Bahan Bakar Nasional Aman Jelang Idul Fitri
• 15 jam laludisway.id
thumb
Kejagung Pertimbangkan Kasasi Usai Aktivis Lokataru Delpedro Marhaen Divonis Bebas
• 23 jam lalupantau.com
thumb
Hasil Sprint Race F1 GP China 2026: George Russell Bawa Mercedes Menang Lagi, Ferrari Catat Double Podium di Shanghai!
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Ajang Silaturahmi Bersama Bupati-DPRD Pinrang, KPMP Gelar Buka Puasa Bersama
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Menko Yusril: Sistem Profesi Kesehatan Butuh Keseimbangan, Bukan Dominasi Baru
• 21 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.