BANDUNG, DISWAY.ID– Suasana syahdu nan haru menyelimuti Masjid Ibnu Umi Maktum, SLB Negeri A Pajajaran Kota Bandung, Sabtu (14/3).
Di tengah dinginnya udara Bandung saat Ramadan, ratusan pasang jari siswa tunanetra bergerak lincah di atas lembaran kertas bintik.
Mereka bukan sekadar meraba, melainkan sedang menjemput cahaya melalui kegiatan Khotmul Qur’an Braille.
BACA JUGA:Alhamdulillah! 24 Ribu Jemaah Umrah RI Tiba di Tanah Air, Kemenhaj Kawal Ketat
Momentum spiritual ini melibatkan 300 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), 200 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Bandung Raya, serta 200 anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI).
Keberhasilan mereka mengkhatamkan Kalamullah dengan keterbatasan fisik menjadi bukti bahwa Al-Qur'an bisa diakses siapa saja tanpa batas.
“Kita boleh saja tidak melihat dengan mata, tetapi kita tidak boleh buta dalam hati dan semangat,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, memberikan motivasi yang membakar semangat para peserta.
Membaca Al-Qur’an dengan huruf Braille tentu bukan perkara mudah. Amien menilai prestasi ini adalah buah dari ketekunan luar biasa.
Menurutnya, negara melalui Kementerian Agama berkomitmen agar tidak ada lagi sekat dalam layanan pendidikan.
BACA JUGA:KM 57 Penuh! Rest Area Terfavorit, Pemudik Diimbau Geser ke Titik Selanjutnya
“Sebagaimana arahan Bapak Menteri, tidak boleh ada perbedaan layanan pendidikan antara anak berkebutuhan khusus dan anak pada umumnya. Seluruh anak Indonesia harus mendapatkan layanan pendidikan yang setara,” tegas Amien.
Direktur Pendidikan Islam, M. Munir, menambahkan bahwa guru-guru PAI di SLB adalah sosok istimewa.
Mereka dituntut memiliki kapabilitas ekstra dan kesabaran tanpa batas dalam mendidik siswa difabel.
Penasihat DWP Kementerian Agama, Helmy Halimatul Udhma, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bukti nyata inklusi di Indonesia.
Baginya, pendidikan inklusif membutuhkan kolaborasi "segitiga emas" antara keluarga, guru, dan masyarakat.
- 1
- 2
- »





