jpnn.com, JAKARTA - Selama lebih dari satu dekade, Rudi (bukan nama sebenarnya) harus datang ke rumah sakit dua kali dalam sepekan untuk menjalani terapi cuci darah atau hemodialisis (HD).
Setiap kunjungan berarti menghadapi antrean panjang, jarum yang kembali menusuk akses pembuluh darahnya, serta waktu kerja yang terpaksa ia tinggalkan.
BACA JUGA: Gagal Ginjal, Pasang CAPD atau Transplantasi?
Sebagai tulang punggung keluarga, ia kerap dihantui kecemasan bahwa kondisi kesehatannya dapat memengaruhi pekerjaan dan penghasilannya.
“Saya pikir memang hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup,” ujarnya.
BACA JUGA: Menkes: Per Tahun Ada 60 Ribu Pasien Cuci Darah Baru
Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi yang cukup mengenai pilihan terapi lain yang sebenarnya tersedia bagi pasien gagal ginjal. Baginya, menjalani terapi HD secara rutin adalah satu-satunya pilihan yang ia pahami saat itu untuk bertahan hidup.
Rudi baru mengetahui tentang terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas pasien yang rutin melakukan cuci darah.
BACA JUGA: Heru Tjahjono DPR: Negara Jangan Abai, Berikan Akses Cuci Darah Bagi Pasien Gagal Ginjal
Saat itulah ia menyadari ada metode dialisis mandiri yang bisa dilakukan di rumah, dengan kontrol rutin sebulan sekali.
“Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” katanya dengan nada menyesal. Kisah Rudi bukan satu-satunya.
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan banyak pasien baru mengetahui pilihan terapi lain setelah bertahun-tahun menjalani HD.
“Di Indonesia hampir 98% pasien gagal ginjal langsung masuk ke hemodialisis, sementara pilihan terapi lain seperti CAPD atau transplantasi sering tidak dijelaskan secara utuh kepada pasien. Bagi kami di KPCDI, ini bukan sekadar soal metode terapi, tetapi soal hak pasien untuk
mendapatkan informasi yang lengkap dan menentukan pilihan terapinya sendiri,” ujar Tony.
Penyakit ginjal kronik (PGK) sendiri kerap dijuluki silent killer. Gejalanya sering tidak terasa di tahap awal dan baru muncul ketika sudah memasuki stadium lanjut (stadium 4-5).
Pada tahap ini, pasien biasanya membutuhkan dialisis atau transplantasi untuk bertahan hidup. Data menunjukkan sekitar 90% pasien tidak menyadari penyakit ginjalnya hingga memasuki stadium lanjut.
Jumlah pasien GGK sendiri telah mencapai 1,5 juta pasien pada 2023 dan diprediksi terus meningkat pada 2025.
Di tengah lonjakan tersebut, terapi dialisis di Tanah Air masih didominasi HD dengan jumlah pasien sebanyak 134.057 selama periode 2022-2024.
Seiring meningkatnya jumlah pasien, beban pembiayaan dialisis yang ditanggung BPJS Kesehatan turut melonjak signifikan dari Rp6,5 triliun pada 2019 menjadi Rp11 triliun pada 2024.
Mengenal Terapi CAPD
CAPD menawarkan pendekatan berbeda. Pasien memasukkan cairan dialisat atau pembersih darah melalui kateter di perut, mendiamkannya beberapa jam, lalu menggantinya 3-4 kali sehari secara mandiri di rumah.
Terapi ini memungkinkan pasien tetap bekerja dan mengatur aktivitasnya lebih fleksibel. Sementara dari sisi pembiayaan, CAPD telah diatur dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai Tarif Non-Indonesian-Case Based Group (non INA-CBG) atau tarif di luar pembayaran
klaim oleh BPJS Kesehatan ke faskes rujukan tingkat lanjut dengan besaran Rp 8 juta per bulan.
Tarif tersebut mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta biaya distribusi logistik terapi ke rumah pasien.
Sementara itu, klaim BPJS untuk hemodialisis melalui skema INA-CBG berkisar Rp 820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.
Jika dilakukan dua kali per minggu, kisaran klaim dapat mencapai sekitar Rp 6,5 juta hingga Rp9,6 juta per bulan, belum termasuk biaya non-medis seperti transportasi.
Bagi Rudi, mengenal CAPD bukan sekadar perubahan metode terapi, tapi kesempatan untuk kembali merasa memiliki kendali atas hidupnya.
Mengapa Pemanfaatan CAPD Masih Rendah?
Meski telah dijamin dalam sistem kesehatan nasional, pemanfaatan CAPD masih rendah. Pemerintah menargetkan minimal 10% pasien dialisis menggunakan CAPD sebagai bagian dari transformasi layanan rujukan untuk mengurangi ketergantungan pada mesin HD dan meningkatkan efisiensi sistem kesehatan.
Tony mengatakan, di sejumlah negara pasien sudah diberikan edukasi mengenai pilihan modalitas terapi bahkan sebelum menjalani dialisis. Di Malaysia, misalnya, pasien dijelaskan secara rinci mengenai pilihan hemodialisis (HD) maupun peritoneal dialysis (PD), sehingga dapat menentukan terapi yang paling sesuai. Sementara di Indonesia, edukasi serupa belum umum.
Setelah kondisi pasien stabil setelah beberapa kali menjalani hemodialisis (HD), pilihan untuk mempertimbangkan CAPD sebagai terapi lanjutan sering kali tidak lagi disampaikan. Akibatnya, banyak pasien terus menjalani HD karena itulah satu-satunya terapi yang mereka ketahui.
“Kami sering mendengar kalimat yang sama dari pasien: ‘Kenapa tidak dari dulu saya tahu CAPD?’. Banyak pasien baru mengenal terapi ini justru dari komunitas pasien, bukan dari sistem layanan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai pilihan terapi gagal ginjal belum disampaikan secara utuh sejak awal kepada pasien,” ucapnya.
Selain memungkinkan pasien menjalani terapi secara mandiri di rumah, CAPD juga memiliki risiko infeksi nosokomial yang lebih rendah karena tidak memerlukan kunjungan rutin ke rumah sakit. Terapi ini juga mengurangi risiko penularan penyakit seperti hepatitis serta tidak
memerlukan penusukan akses pembuluh darah secara berulang seperti pada hemodialisis.
Tony menambahkan bahwa edukasi mengenai pilihan terapi harus menjadi bagian dari pelayanan standar bagi pasien gagal ginjal.
“Pasien gagal ginjal akan menjalani terapi ini seumur hidup. Karena itu, pasien tidak boleh hanya menjadi objek pengobatan, tetapi harus menjadi subjek yang memahami dan memilih terapinya sendiri,” tambah Tony.
Tony berharap edukasi mengenai pilihan terapi dialisis menjadi bagian dari standar pelayanan pasien gagal ginjal, sehingga setiap pasien memahami opsi terapi yang tersedia sebelum memutuskan menjalani dialisis jangka panjang.
Momentum World Kidney Day 2026 dengan tema “Kidney Health for All: Caring for People, Protecting the Planet” dinilai menjadi waktu yang tepat untuk mendorong deteksi dini, edukasi komprehensif mengenai pilihan terapi, serta pemerataan akses layanan.
Semangat “Protecting the Planet” juga menekankan pentingnya keberlanjutan dalam layanan kesehatan. Penguatan layanan berbasis rumah (home-based care) dan efisiensi kunjungan dinilai dapat mengurangi beban mobilitas pasien dan pendamping serta mengurangi antrean
di fasilitas kesehatan.(ray/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




