Pencairan Es Kutub Bikin Hari di Bumi Lebih Panjang, Ini Penjelasan Ilmuwan

mediaindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

PARA ilmuwan menemukan bahwa rotasi Bumi saat ini melambat sehingga membuat panjang hari bertambah, meski hanya dalam hitungan milidetik. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan tersebut terjadi pada laju yang belum pernah tercatat setidaknya selama 3,6 juta tahun terakhir.

Secara teori, satu hari di Bumi berlangsung selama 24 jam, yakni waktu yang dibutuhkan planet ini untuk menyelesaikan satu putaran penuh pada porosnya. Namun, dalam kenyataannya, durasi tersebut bisa sedikit lebih panjang atau lebih pendek. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tarikan gravitasi Bulan hingga proses geofisika yang terjadi di dalam Bumi, di permukaannya, maupun di atmosfer.

Sebagai contoh, pada Juli dan Agustus 2025 lalu, posisi Bulan yang relatif dekat menyebabkan rotasi Bumi sedikit melambat. Akibatnya, panjang hari saat itu tercatat sekitar satu milidetik lebih lama dari hari-hari pada biasanya.

Baca juga : Benturan Meteorit 6,3 Juta Tahun Lalu Ciptakan Hamparan Kaca Alami Raksasa di Brasil

Perubahan Iklim Ikut Perlambat Rotasi Bumi

Selain pengaruh gravitasi Bulan, para peneliti juga menemukan adanya tren jangka panjang yang berkaitan dengan perubahan iklim. Pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia menyebabkan lapisan es di kutub dan gletser di berbagai wilayah dunia mencair lebih cepat.

Air yang sebelumnya terperangkap dalam bentuk es selama ribuan hingga jutaan tahun kemudian mengalir ke lautan, sehingga meningkatkan permukaan laut. Proses ini secara tidak langsung mengubah distribusi massa Bumi.

Ketika massa Bumi berpindah dari wilayah kutub menuju lautan yang lebih luas, rotasi planet ini menjadi sedikit lebih lambat. Fenomena ini sering dianalogikan dengan seorang atlet seluncur es yang berputar lebih lambat saat merentangkan kedua tangannya.

Baca juga : Asal-usul Air Bumi: Studi Terbaru Ungkap Cadangan Hidrogen Raksasa di Inti Planet

Saat es masih menumpuk di wilayah kutub, massanya terkonsentrasi dekat dengan sumbu rotasi Bumi. Namun ketika es mencair dan menyebar ke samudra, massa tersebut bergerak lebih jauh dari sumbu rotasi, terutama menuju wilayah khatulistiwa. Perubahan distribusi massa inilah yang menyebabkan rotasi Bumi melambat.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan dari University of Vienna, Austria dan ETH Zurich, Swiss menganalisis perubahan panjang hari dengan menelusuri sejarah rotasi Bumi sejak akhir periode Pliosen Akhir.

Penelitian tersebut dipimpin oleh Mostafa Kiani Shahvandi, peneliti dari Departemen Meteorologi dan Geofisika di University of Vienna. Ia menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa pencairan lapisan es kutub pada abad ke-21 meningkatkan permukaan laut dan memperlambat rotasi Bumi.

Namun, para ilmuwan masih ingin mengetahui apakah fenomena serupa pernah terjadi sebelumnya dengan laju yang sama cepatnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa saat ini panjang hari di Bumi bertambah sekitar 1,33 milidetik setiap abad. Perubahan ini terutama disebabkan oleh naiknya permukaan laut akibat mencairnya lapisan es yang kemudian mengubah distribusi massa Bumi.

Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa laju pertambahan panjang hari saat ini belum pernah terjadi dalam setidaknya 3,6 juta tahun terakhir.

Profesor geodesi antariksa dari ETH Zurich, Benedikt Soja, mengatakan bahwa peningkatan panjang hari yang begitu cepat menunjukkan bahwa perubahan iklim modern berlangsung pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak akhir periode Pliosen.

Ia menambahkan bahwa pada akhir abad ke-21, dampak perubahan iklim terhadap rotasi Bumi bahkan diperkirakan bisa lebih besar dibandingkan pengaruh gravitasi Bulan.

Meskipun perubahan panjang hari hanya terjadi dalam hitungan milidetik, fenomena ini tetap memiliki dampak penting, terutama bagi teknologi yang membutuhkan pengukuran waktu yang sangat presisi.

Sistem seperti satelit navigasi, termasuk Global Positioning System, sangat bergantung pada data rotasi Bumi yang akurat. Bahkan perubahan waktu yang sangat kecil dapat memengaruhi sistem navigasi, komunikasi, hingga jaringan keuangan global.

Meski demikian, bagi manusia secara langsung, perubahan sekitar 1,33 milidetik per abad tersebut hampir tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan dan permukaan laut, tetapi juga berdampak pada dinamika fundamental planet Bumi, termasuk cara planet ini berputar. (IFL Science/P-3)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
• 36 menit lalusuara.com
thumb
Jadwal Liga Inggris Pekan Ini: Arsenal dan MU Main
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Singgung Kasus Novel Baswedan, Komisi XIII DPR Minta Otak Teror Aktivis KontraS Diungkap
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Airlangga Siapkan Skenario Harga Minyak hingga 130 Dolar per Barel
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Jalin Sinergi, Bank Mandiri Region X Pererat Kolaborasi dengan Pimpinan Media
• 6 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.