Lingga di Tengah Kota: Jejak Kekuasaan, Identitas, dan Ingatan Kolektif Sumedang

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jika Sahabat Kumparan datang ke Alun-Alun Kota Sumedang, akan melihat sebuah tugu yang berdiri tenang tetapi sarat makna. Tugu itu adalah Monumen Lingga. Monumen Lingga bukan sekadar penanda ruang kota. Ia menyimpan lapisan sejarah, politik, budaya, dan filosofi yang membentuk identitas masyarakat Sumedang. Bagi banyak orang, monumen ini mungkin hanya latar foto atau titik temu warga. Namun jika dilihat lebih dalam, Lingga sebenarnya adalah pintu masuk untuk memahami perjalanan sejarah lokal yang kompleks.

Dalam kajian sejarah dan budaya, objek seperti Monumen Lingga sering disebut sebagai medium memori kolektif. Sejarawan Prancis Pierre Nora menjelaskan bahwa masyarakat modern membutuhkan “tempat ingatan” untuk menjaga hubungan dengan masa lalu (Nora, Between Memory and History, 1989). Monumen, situs makam, atau bangunan bersejarah berfungsi sebagai pengikat antara sejarah dan identitas masyarakat. Sumedang memiliki banyak ruang ingatan seperti itu. Kompleks Makam Gunung Puyuh, Masjid Agung Sumedang, dan Monumen Lingga membentuk satu lanskap sejarah yang saling terhubung.

Monumen Lingga berdiri tepat di pusat kota, di kawasan alun-alun yang sejak masa kolonial menjadi pusat administrasi dan ruang publik. Tugu ini diresmikan pada 25 April 1922 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock sebagai penghormatan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suria Atmadja yang memimpin pada 1883 sampai 1919. Pangeran Aria Suria Atmadja dikenal sebagai tokoh penting dalam modernisasi Sumedang dan dikenal luas dengan julukan Pangeran Mekah karena wafat di Mekkah pada 1921 (Detik.com, “Mengungkap Biaya Pembangunan Monumen Lingga Sumedang”, 3 Oktober 2022).

Pada masa pemerintahannya, Pangeran Suria Atmadja dikenal aktif membangun pendidikan, pertanian, dan sistem ekonomi lokal. Ia mendirikan bank desa serta sekolah pertanian untuk membantu petani meningkatkan kesejahteraan. Upaya tersebut menjadikan Sumedang relatif maju dibanding beberapa wilayah Priangan lain pada awal abad ke-20. Tidak mengherankan jika setelah wafatnya, berbagai kalangan pribumi dan Eropa di Priangan menginisiasi pembangunan monumen sebagai penghormatan atas jasanya.

Namun sejarah monumen ini tidak sepenuhnya sederhana. Dalam konteks kolonial, pembangunan monumen juga memiliki dimensi politik. Pemerintah Hindia Belanda sering menggunakan simbol visual di ruang kota untuk menegaskan stabilitas kekuasaan kolonial. Sejarawan Benedict Anderson menjelaskan bahwa monumen dan simbol negara berperan membangun legitimasi kekuasaan melalui representasi ruang publik (Anderson, Imagined Communities, 1983). Monumen Lingga berada dalam logika yang sama. Ia tidak hanya mengenang seorang bupati, tetapi juga menegaskan hubungan antara elite lokal dan pemerintahan kolonial.

Istilah “lingga” sendiri memiliki makna simbolik yang jauh lebih tua daripada monumen ini. Dalam tradisi Hindu-Buddha, lingga melambangkan kekuatan, kesinambungan, dan legitimasi kekuasaan. Filosofi ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk tugu yang menjulang vertikal di tengah kota. Beberapa interpretasi lokal bahkan melihat struktur monumen sebagai simbol filosofi kehidupan Sunda yang menggambarkan keseimbangan manusia, alam, dan kekuatan spiritual (Cipaku Darmaraja, “Sejarah Lingga dan Simbul Logo Pemkab Sumedang”, 2017).

Secara arsitektural, Monumen Lingga mencerminkan perpaduan antara simbolisme Nusantara dan estetika kolonial. Struktur dasar monumen berbentuk persegi dengan tangga di sekelilingnya, lalu bertingkat hingga mencapai puncak berbentuk bulat. Pada beberapa sisi terdapat inskripsi dengan huruf Latin dan huruf Jawa yang menjelaskan tujuan pendirian monumen. Menurut catatan sejarah lokal, inskripsi tersebut memuat penghormatan kepada Pangeran Suria Atmadja sebagai bupati yang berjasa bagi Sumedang (Sumedang Tandang, “Monumen Lingga”, 2014).

Setelah Indonesia merdeka, makna monumen ini mengalami perubahan penting. Simbol yang awalnya lahir dalam konteks kolonial tidak dihapus dari ruang kota. Sebaliknya, masyarakat dan pemerintah daerah memilih menafsirkannya kembali sebagai bagian dari identitas lokal. Proses reinterpretasi ini sering terjadi dalam sejarah kota-kota di dunia. Sosiolog memandangnya sebagai transformasi makna simbolik, ketika masyarakat baru memberi arti berbeda pada peninggalan masa lalu.

Di Sumedang, perubahan makna itu terlihat jelas. Monumen Lingga tidak lagi dipandang sebagai simbol administrasi kolonial, tetapi sebagai ikon daerah. Bahkan bentuk lingga kemudian dijadikan lambang resmi Kabupaten Sumedang pada 1959. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal mengadopsi simbol sejarah menjadi bagian dari identitas budaya yang baru.

Namun perubahan makna tersebut juga membawa tantangan. Di tengah perkembangan kota modern, banyak monumen bersejarah kehilangan konteks sosialnya. Orang melihatnya sebagai objek dekoratif, bukan sebagai ruang pembelajaran sejarah. Monumen Lingga pun menghadapi situasi yang sama. Bagi sebagian generasi muda, tugu ini hanyalah penanda lokasi di tengah alun-alun.

Padahal jika dilihat secara kritis, Monumen Lingga menyimpan cerita penting tentang perubahan kekuasaan di Indonesia. Ia merekam perjalanan dari masa kolonial menuju era kemerdekaan. Ia juga menunjukkan bagaimana elite lokal berperan dalam administrasi kolonial sekaligus dalam pembangunan masyarakat daerah. Dengan memahami sejarah monumen ini, masyarakat sebenarnya dapat membaca dinamika politik dan sosial yang membentuk Sumedang modern.

Karena itu, pelestarian monumen tidak cukup hanya menjaga bentuk fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah menjaga makna yang terkandung di dalamnya. UNESCO menekankan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga nilai, cerita, dan praktik sosial yang menyertainya (UNESCO, Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage, 2003). Tanpa narasi yang kuat, sebuah monumen mudah kehilangan fungsi edukatifnya.

Di sinilah pentingnya pendekatan kreatif dalam mengenalkan sejarah kepada masyarakat. Film dokumenter, pameran publik, tur sejarah, dan konten digital dapat menjadi cara efektif menghidupkan kembali cerita di balik monumen. Media visual memiliki kekuatan untuk menghubungkan data sejarah dengan pengalaman emosional penonton. Ketika sejarah disampaikan dengan cara yang menarik, generasi muda lebih mudah memahami relevansinya dengan kehidupan sekarang.

Monumen Lingga bukan sekadar tugu batu di tengah kota. Ia adalah simbol perjalanan panjang Sumedang, dari masa kerajaan, kolonialisme, hingga Indonesia modern. Ia menyimpan jejak kekuasaan, ingatan kolektif, dan filosofi kehidupan masyarakat Sunda. Selama maknanya terus dipahami dan diceritakan, Lingga akan tetap berdiri bukan hanya sebagai monumen sejarah, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya sebuah kota.

Daftar Pustaka

Anderson, Benedict. 1983. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Detik.com. 2022. “Mengungkap Biaya Pembangunan Monumen Lingga Sumedang.” 3 Oktober 2022.

Nora, Pierre. 1989. “Between Memory and History: Les Lieux de Mémoire.” Representations, No. 26.

Sumedang Tandang. 2014. “Monumen Lingga.” Pemerintah Kabupaten Sumedang.

UNESCO. 2003. Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kesengsem dengan Magis Ryo Matsumura, Bhayangkara FC Ingin Permanenkan Statusnya dari Persija
• 22 jam lalubola.com
thumb
Kementerian Pariwisata Siapkan Layanan dan Promosi Wisata Sambut Lonjakan Wisatawan Saat Libur Lebaran
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Taman Bendera Pusaka Buka 24 Jam, Bukan Tempat untuk Tidur
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
Cara Mengenali Orang yang Benar-Benar Baik Hati
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Prof Bus Jadi Dekan FK Unusa, Perkuat Mutu Pendidikan dan Riset
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.