-
Lima pesawat pengisian bahan bakar Amerika Serikat rusak parah akibat serangan rudal Iran.
-
Konflik memanas setelah AS menyerang Pulau Kharg dan Iran melakukan aksi balasan militer.
-
Mojtaba Khamenei bersumpah akan membalas kematian ayahnya terhadap pasukan Amerika Serikat dan Israel.
Suara.com - Ketegangan di wilayah Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah serangan udara yang dilakukan oleh Teheran Iran.
Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi menjadi saksi bisu jatuhnya rudal-rudal yang menyasar aset Washington.
Dampaknya sebanyak lima unit pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerusakan.
Laporan dari media Wall Street Journal yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa pesawat-pesawat tersebut dalam kondisi rusak parah.
Meskipun mengalami hantaman yang cukup keras namun armada udara tersebut dikabarkan tidak sampai hancur sepenuhnya.
Dua pejabat tinggi Amerika Serikat telah memberikan konfirmasi mengenai insiden yang terjadi di wilayah Saudi tersebut.
Kejadian ini menambah daftar panjang kerugian material yang dialami oleh pihak militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Pihak otoritas terkait memastikan bahwa tidak ada personel yang kehilangan nyawa dalam serangan mendadak itu.
Hingga saat ini tim teknis militer masih melakukan evaluasi mendalam terhadap tingkat kerusakan lima pesawat tanker tersebut.
Baca Juga: Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi
Situasi keamanan di sekitar pangkalan kini diperketat guna mengantisipasi adanya serangan susulan dari pihak lawan.
Kondisi geopolitik di kawasan ini memang terus memanas akibat konflik terbuka yang belum menemui titik terang.
Bara peperangan semakin menyala setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan gempuran masif sejak akhir Februari lalu.
Iran kemudian mengambil langkah drastis dengan meluncurkan serangan balasan ke Israel dan berbagai pangkalan militer AS.
Banyak negara di kawasan Teluk menyatakan kemarahan mereka atas tindakan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan wilayah negara-negara tetangga yang terlibat secara geografis.



