JAYAPURA, KOMPAS - Dalam sepekan terakhir, polisi menangkap 13 orang simpatisan dan warga terkait jaringan pemasok logistik bagi kelompok kriminal bersenjata atau KKB di Papua. Ada senjata api rakitan hingga ratusan amunisi disita dalam operasi di Nabire, Papua Tengah, dan Jayapura.
“Orang-orang ini telah kami pantau sejak lama, bukan tiba-tiba dilakukan penangkapan. Berdasarkan jaringan intelijen yang kami peroleh, akhirnya kami dapat menyimpulkan adanya keterlibatan mereka,” kata Kepala Humas Satuan Tugas Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).
Di Nabire, lima orang ditangkap yang diduga terkait pemasok logistik bagi kelompok Aibon Kogoya. Pada Selasa dan Rabu (10-11/3/2026) empat orang ditangkap yang diduga sebagai simpatisan sekaligus pemasok bahan makanan bagi kelompok Aibon Kogoya.
Pada selasa, polisi terlebih dahulu penangkap PW, dan PNW. Keesokan harinya, polisi menangkap YW dan LW.
Rabu malam, polisi juga menangkap LA atau D, yang diduga sebagai penghubung dalam distribusi amunisi kepada kelompok Aibon Kogoya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, D mengaku pernah menjual sekitar 100 butir amunisi kepada seseorang berinisial SP dengan harga sekitar Rp 250.000 per butir. Transaksi tersebut disebut dilakukan melalui perantara seorang pria berinisial H, yang diduga berperan sebagai pihak yang menyediakan amunisi,” ujar Yusuf.
Sementara itu, di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, polisi juga menangkap delapan orang terkait jaringan logistik amunisi dan senjata bagi KKB Papua Pegunungan, Kamis (12/3/2026). Orang-orang ini terlibat dalam jaringan logistik KKB di Yahukimo dan Yalimo.
Dari delapan orang yang diamankan, lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan gelar perkara pada 13 Maret 2026. Adapun tiga lainnya masih berstatus sebagai saksi karena perannya masih didalami oleh penyidik.
“Aparat mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu pucuk senjata api rakitan laras panjang, 298 butir amunisi berbagai kaliber, lima buah magasin senjata, beberapa unit telepon genggam, serta dokumen identitas yang diduga berkaitan dengan aktivitas para pelaku,” ucap Yusuf.
Para tersangka ini yakni, SP (38) yang berperan sebagai pencari sekaligus pembeli senjata api rakitan dan amunisi. Ada pula MKM (39) dan DK (35) sebagai perantara pembelian senjata api dan amunisi.
Selain itu, tersangka lain, OB (22) dan YP (35) diketahui terkait dengan sumber dana pembelian senjata dan amunisi. Dari keduanya, tercatat ada transaksi pembelian senjata dan amunisi senilai Rp 122 juta dan Rp 13 juta.
Orang-orang ini telah kami pantau sejak lama, bukan tiba-tiba dilakukan penangkapan. Berdasarkan jaringan intelijen yang kami peroleh, akhirnya kami dapat menyimpulkan adanya keterlibatan mereka.
Serial Artikel
Jaringan dan Sumber Dana Perdagangan Senjata Api dan Amunisi di Papua Terungkap
Aliansi Demokrasi untuk Papua memublikasikan hasil investigasi penjualan senjata api dan amunisi ilegal di tanah Papua sejak tahun 2011 hingga 2022.
“Modus operandi yang digunakan para pelaku yakni dengan mengutus beberapa orang dari wilayah pegunungan menuju Jayapura untuk mencari jaringan atau pihak yang dapat menyediakan senjata api dan amunisi. Dana kemudian dikumpulkan secara bersama-sama untuk membeli persenjataan yang nantinya akan dibawa kembali ke wilayah operasi kelompok tersebut,” kata Yusuf.
Satgas Damai Cartenz mengimbau masyarakat sipil untuk tidak terlibat jaringan pemasok logistik KKB ini. Di sisi lain, polisi juga menyatakan akan segera mengungkap aktor pemasok senjata dan amunisi ilegal ini.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terlibat dalam aktivitas ilegal seperti perdagangan senjata api dan amunisi karena hal tersebut dapat berdampak serius terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat,” ujar Kepala Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal (Pol) Faizal Ramadhani.
Juru bicara Jaringan Damai Papua, Yan Christian Warinussy, mengingatkan, berbagai penyelundupan senjata bagi KKB agar diungkap secara jelas. Dia meminta agar aktor-aktor utama di balik ini bisa turut diungkap.
Selama ini, selain dari kelompok terkait KKB itu sendiri, penyelundupan terkadang melibatkan banyak pihak termasuk anak-anak muda di Papua.
“Biasanya banyak pemuda putus sekolah dimanfaatkan menjadi kurir. Biasanya kalau kurir ini ditangkap, justru aktor utama jarang terungkap dan hanya berakhir sebagai DPO (daftar pencarian orang). Sudah seharusnya diungkap sampai ke akar,” ucapnya.





