REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menahan diri untuk tidak membuat prediksi tentang kapan konflik dengan Iran akan berakhir. Namun, dia menyatakan kesiapan Washington untuk melanjutkan serangan selama diperlukan untuk mencapai semua tujuan.
"Saya tidak bisa memberi tahu Anda itu. Maksud saya, saya punya ide sendiri. (Konflik dengan Iran) itu akan berlangsung selama masih diperlukan," kata Trump kepada wartawan, Sabtu (14/3/2026).
Baca Juga
Trump Kini Mengemis Bantuan Negara Lain Amankan Selat Hormuz
Trump Berbaju Fir'aun
Turki Marah Besar Zionis Israel Tutup Masjid Al Aqsa, Serukan Negara-Negara Muslim Bertindak
Pada Selasa (10/3/2026), Trump berpikir bahwa perang melawan Iran "sudah sangat selesai" dan Washington "sangat jauh berada di depan" dari kerangka waktu awal perang selama empat pekan. Hal itu diutarakan Trump dalam wawancaranya dengan CBS News dilansir Reuters, Selasa (10/3/2026).
"Saya pikir perang sudah sangat selesai, sedikit banyak. Mereka tidak punya angkatan laut, tak ada komunikasi. Mereka tidak punya Angkatan Udara," kata Trump.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Saat ditanya soal Selat Hormuz, Trump mengatakan kapal-kapal sudah mulai melintasi selat itu, tapi dia sekarang "berpikir untuk mengambil alih."
Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan "preemtif" mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dirasakan dari program nuklir Iran, tetapi mereka segera memperjelas bahwa mereka ingin melihat penggantian kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur pada hari pertama operasi militer AS-Israel, sehingga pemerintahan Republik Islam Iran menyatakan 40 hari masa berkabung.