Selat Hormuz Masih Ditutup, Harga Minyak Dunia Naik 11 Persen dalam Sepekan

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (13/3) karena Selat Hormuz masih ditutup akibat perang di Timur Tengah. Saat ini, perang telah memasuki pekan kedua.

Dikutip dari Reuters pada Minggu (15/4), kontrak minyak mentah Brent crude untuk pengiriman Mei ditutup di USD 103,14 per barel atau naik USD 2,68 atau 2,67 persen.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April ditutup di USD 98,71 per barel atau naik USD 2,98 atau 3,11 persen.

Kenaikan harga terjadi setelah sebelumnya sempat turun akibat laporan keliru yang menyebut kapal tanker berbendera India berhasil melintasi Selat Hormuz.

Belakangan diketahui kapal tersebut berlayar dari Oman dan tidak melewati selat tersebut sehingga harga minyak kembali naik sebelum tengah hari Jumat.

Secara mingguan, Brent telah naik 11,27 persen sejak harga penutupan 6 Maret, sementara WTI menguat sekitar 8 persen dibandingkan sepekan lalu.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan lisensi selama 30 hari yang memungkinkan sejumlah negara membeli minyak Rusia. Kebijakan ini diambil untuk menekan harga bahan bakar bagi konsumen.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut bertujuan menstabilkan pasar energi global yang terguncang oleh perang antara AS dan Israel dengan Iran.

Utusan presiden Rusiax Kirill Dmitriev mengatakan kebijakan itu akan memengaruhi sekitar 100 juta barel minyak mentah Rusia atau setara hampir satu hari produksi minyak global.

Analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, mengatakan minyak Rusia sebenarnya sudah memiliki pembeli sehingga kebijakan tersebut tidak menambah pasokan baru ke pasar tetapi dapat mengurangi hambatan distribusi.

“Pasar mulai sangat khawatir perang ini akan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran terbesar adalah kerusakan besar pada infrastruktur minyak yang bisa menyebabkan kehilangan pasokan secara permanen,” ujarnya.

Langkah terkait minyak Rusia itu diumumkan sehari setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve untuk membantu menekan lonjakan harga.

Rencana tersebut dikoordinasikan dengan International Energy Agency (IEA) yang sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global termasuk kontribusi dari AS.

Namun sentimen positif dari pelepasan cadangan minyak tersebut kembali memudar setelah risiko geopolitik di Timur Tengah meningkat.

Di sisi Iran terhadap konflik, pemimpin tertinggi baru Iran yakni Mojtaba Khamenei mengatakan Iran akan terus berperang dan tetap menutup Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalur Cileunyi-Nagreg Ramai Lancar, Didominasi Pemudik Motor
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Waspada Cuaca Panas Ekstrem di Jakarta, Dinkes DKI: Hati-hati Risiko Heatstroke
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sembilan SPPG di Gresik Dihentikan karena Sajikan Kelapa Utuh pada Program MBG
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gapki Ramal Minyak Sawit Bisa Tembus US$ 1.300 per Ton Imbas Perang dan B50
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
AS Tetapkan Organisasi Muslim Ini Masuk ke Daftar Kelompok Teroris
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.