"Kementerian Agama saat ini ingin mentransformasi cara beragama agar menjadi lebih produktif dan lebih berdampak. Artinya, beragama tidak hanya berkaitan dengan persoalan akidah, moral, atau syariah semata," ujar Kamaruddin, dikutip Minggu, 15 Maret 2026.
Menurutnya, selama ini agama sering dipersempit hanya pada persoalan-persoalan eskatologis seperti surga, neraka, malaikat, dan kehidupan setelah mati. Padahal, agama memiliki dimensi yang jauh lebih luas dalam kehidupan manusia.
"Sering kali agama dipersempit hanya pada persoalan surga, neraka, malaikat, atau urusan eskatologis. Padahal agama tidak boleh direduksi hanya pada hal-hal tersebut," jelasnya. Beragama Harus Memberdayakan Ekonomi dan Sosial Kamaruddin menegaskan bahwa keberagamaan seharusnya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Dalam pandangannya, praktik beragama perlu mampu memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia menyebutkan bahwa beragama harus mampu memberdayakan secara sosial, memberdayakan secara ekonomi, dan mencerahkan secara spiritual. "Dengan kata lain, agama harus dirasakan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat," ungkapnya.
Kamaruddin menegaskan bahwa upaya ini bukan untuk mengubah ajaran agama, melainkan mendorong perubahan orientasi dalam praktik keberagamaan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Kita tidak mengubah agama. Yang kita dorong adalah perubahan orientasi dalam beragama agar praktik keagamaan benar-benar memberi dampak dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan sosial, dan dalam kehidupan masyarakat secara luas," tegasnya. Kualitas Keberagamaan Dilihat dari Dampak Nyata Menurutnya, kualitas keberagamaan masyarakat dapat dilihat dari sejauh mana nilai-nilai agama mampu menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan bersama. "Jika keberagamaan kita ingin lebih bermutu dan berkualitas, maka keberagamaan itu harus menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan," tandas Kamaruddin.
Transformasi ini diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat bahwa beragama tidak hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia dan lingkungan. Dengan pendekatan ini, Kemenag optimistis nilai-nilai agama dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat Indonesia. Baca juga: Auto Kena Sanksi! Menag Larang Keras ASN Pakai Mobil Dinas Buat Mudik Lebaran
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




