Kanker Kolorektal Terus Naik, Kini Usia Pasien Makin Muda

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Penyakit kanker kian banyak ditemukan menyerang pasien di bawah usia 50 tahun. Salah satu yang makin marak adalah kanker kolorektal atau kanker usus besar.

Menurut dokter spesialis bedah digestif dari Primaya Hospital Semarang, Dr. dr. Albertus Ari, Sp.B, Subsp.BD(K), penderita kanker digestif berubah dari usia lansia menjadi usia muda. Sejumlah kasus yang ia temui merupakan pasien kanker kolorektal, perempuan berusia 19 tahun.

“Kalau dulu kita kenal ada kanker leher rahim ya, kanker serviks, nah itu sekarang angkanya sudah mulai turun karena sekarang sudah ada vaksin HPV, human papillomavirus. Kanker payudara sekarang juga sudah mulai turun di Indonesia karena ada screening awal, SADARI, periksa payudara sendiri,” jelas Ari kepada wartawan di National Cancer Centre Singapore (NCCS) pada Rabu (11/3/2026).

“Kanker kolorektal ini belum. Sebenarnya yang perlu digalakkan adalah screening awal. Screening awal itu penting, di mana screening awal itu kita bisa menentukan kanker atau menemukan kanker dalam stadium yang sedini mungkin,” imbuhnya.

Ari menjelaskan, mayoritas pasiennya datang saat kanker mencapai stadium lanjut. Ia pun optimis bahwa screening kanker kolorektal bisa digalakkan, terlebih bisa dilakukan di Puskesmas melalui pemeriksaan feses.

Meski belum semua Puskesmas menggalakkan layanan screening ini, namun menurut Ari, orang-orang mulai aware periksa di faskes. Ari berharap semakin banyak lagi yang memeriksakan diri, sehingga kanker kolorektal bisa ditangani saat masih stadium 1 atau 2.

“Kalau stadium dua, angka kesembuhannya sangat tinggi, bisa 80-90 persen. Tapi kalau sudah stadium empat, tinggal 45-50 persen angka harapan hidupnya,” ujar Ari.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai, kata Ari, di antaranya adalah nyeri perut, sembelit berulang, dan diare berulang. Menjaga gaya hidup sehat dengan makan berserat, mengurangi junk food, dan olah raga, menjadi penting untuk menurunkan faktor risiko.

“Enggak BAB berhari-hari lebih dari dua hari BAB itu sudah suatu hal yang harus dicari. Kenapa? Karena yang ditoleransi adalah dua hari sekali BAB. Kalau sudah tiga hari sekali empat hari sekali lima hari sekali, wah itu pasti ada something,” kata Ari.

Pada pasien kanker kolorektal, kolonoskopi akan dilakukan untuk melihat perkembangan kanker. Melalui kolonoskopi, dokter bedah juga dapat membuang polip atau tumor di dalam usus. Pasien bisa mengakses kolonoskopi ini menggunakan BPJS.

Kanker yang sudah menyebar atau bahkan mengenai selaput pelindung perut, dapat ditangani menggunakan HIPEC atau Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy.

Penggunaan HIPEC sejauh ini belum banyak dilakukan di Indonesia, namun bisa menjadi alternatif yang dapat memberi harapan hidup bagi pasien. Sejauh ini, Singapura termasuk yang menerapkannya. Ari berharap ada kerja sama ilmu pengetahuan kedokteran yang berkelanjutan antara Indonesia dan Singapura.

“Kolaborasi yang berkelanjutan antara kami di Indonesia dengan NCCS baik itu transfer of patients or transfer of knowledge. Ya itu yang saya inginkan,” pungkas Ari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap Kurir 52 Kg Ganja Asal Karo di Medan
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Melenggang ke Final Swiss Open 2026, Alwi Farhan Susul Langkah Putri KW
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Bentuk Posko Pengaduan Kasus Andrie Yunus, Janji Laporkan Rutin ke Publik
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Sahur Tak Lagi Sekadar Makan, Ternyata Aktivitas Digital Ikut Naik Lho!
• 2 jam laluherstory.co.id
thumb
Libur Lebaran, Pengunjung Candi Borobudur Ditargetkan Capai 83.000 Orang
• 45 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.