Iran menegaskan Selat Hormuz tidak ditutup untuk pelayaran internasional. Namun kawasan tersebut berada di bawah kendali penuh Teheran.
Pernyataan ini disampaikan Alireza Tangsiri Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim, Tangsiri membantah klaim Amerika Serikat yang menyebut telah menghancurkan kemampuan angkatan laut Iran atau mampu menjamin keamanan penuh kapal tanker minyak di kawasan tersebut.
“Selat Hormuz tidak ditutup secara militer, melainkan hanya berada di bawah kendali,” ujar Tangsiri.
Ia menegaskan, jalur laut strategis tersebut tetap dapat dilalui kapal-kapal internasional, namun Iran akan memantau secara ketat aktivitas yang dianggap mengancam kepentingan nasionalnya.
Pernyataan senada juga disampaikan Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran. Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran global, kecuali bagi kapal yang berasal dari negara yang dianggap sebagai musuh Iran.
“Selat Hormuz terbuka. Selat itu hanya tertutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kami, bagi mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka. Yang lain bebas melintas,” kata Araghchi dilansir dari Antara, Minggu (15/3/2026).
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Karena itu, setiap ketegangan di wilayah ini berpotensi memicu gejolak pasar energi global.
Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran dalam pesan perdananya menegaskan komitmen untuk mempertahankan pengaruh Iran atas Selat Hormuz sebagai bagian dari kepentingan strategis negara. (ant/mar/saf/ham)




