Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap fasilitas minyak Iran di Kharg Island atau Pulau Kharg.
Dalam wawancara dengan NBC News, Trump mengeklaim serangan Amerika Serikat telah sepenuhnya menghancurkan sebagian besar pusat ekspor minyak tersebut.
Trump bahkan menyatakan kemungkinan serangan tambahan terhadap Pulau Kharg yang disebut sebagai 'jantung ekonomi' Iran.
"Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” katanya dikutip melalui laman Aljazeera, Minggu (15/3/2026).
Pernyataan ini menandai peningkatan retorika dari sebelumnya, ketika dia mengatakan bahwa operasi militer Amerika hanya menargetkan instalasi militer di Kharg.
Pemerintah Iran segera mengecam ancaman tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Baca Juga
- Iran Izinkan Kapal Negara-negara Ini Melintasi Selat Hormuz
- Iran Disebut Bakal Izinkan Kapal Lewat Selat Hormuz Asal Transaksi Pakai Yuan
- RI Pilih Tidak Jadi Co-Sponsor Resolusi DK PBB Untuk Perang Iran Vs AS-Israel
Dalam wawancara dengan MS NOW, Araghchi menuduh serangan Amerika terhadap Kharg diluncurkan dari dua lokasi di United Arab Emirates, yakni dari Ras Al-Khaimah dan wilayah yang disebutnya sangat dekat dengan Dubai.
Komando Pusat militer AS, United States Central Command, menolak mengomentari klaim tersebut.
Sementara itu, penasihat diplomatik presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menyatakan melalui media sosial bahwa negaranya berhak mempertahankan diri, namun tetap mengutamakan akal sehat dan logika serta menahan diri.
Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Minggu mengumumkan telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap target di Israel serta tiga pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut.
IRGC menyebut serangan itu sebagai gelombang pertama balasan atas kematian pekerja di kawasan industri Iran.
Sebelumnya, serangan rudal pada Sabtu menghantam kawasan industri di kota Isfahan dan menewaskan sedikitnya 15 orang yang berada di dalam sebuah pabrik, menurut laporan media Iran.
Situasi semakin memicu kekhawatiran global karena Iran memiliki kemampuan untuk menghentikan lalu lintas kapal di Strait of Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia. Gangguan di selat tersebut telah menyebabkan salah satu disrupsi terbesar dalam pasokan minyak global, mengguncang pasar energi dan pemerintah di berbagai negara.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyerukan negara-negara yang bergantung pada minyak dari Selat Hormuz untuk membantu mengamankan jalur tersebut.
“Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan kami akan membantu — sangat banyak,” tulisnya.
Konflik yang dimulai pada 28 Februari oleh Trump bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, sebagian besar di Iran, menurut laporan pemerintah dan media negara.





