Perang Iran 2026 dan Keretakan Solidaritas Aliansi BRICS

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah menjadi ujian geopolitik terbesar bagi aliansi BRICS sejak blok tersebut diperluas keanggotannya. Konflik ini tidak hanya memicu eskalasi perang di Timur Tengah, tetapi juga membuka wajah asli BRICS sebagai koalisi yang belum memiliki soliditas strategis dalam menghadapi krisis keamanan global. Ketika salah satu anggotanya diserang secara langsung oleh kekuatan eksternal, BRICS justru gagal menunjukkan solidaritas kolektif yang tegas.

BRICS selama ini diproyeksikan sebagai alternatif tatanan dunia multipolar yang mampu menandingi dominasi Barat. Namun realitas perang Iran justru memperlihatkan bahwa di balik narasi solidaritas Selatan Global, terdapat perbedaan kepentingan nasional yang sangat tajam di antara para anggotanya. Ketika krisis militer meletus, identitas geopolitik nasional terbukti lebih dominan dibandingkan komitmen terhadap blok.

Pada tahun 2026, posisi presidensi BRICS dipegang oleh India. Dalam teori diplomasi blok, negara yang memegang presidensi memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menjaga kohesi internal serta merespons krisis yang menimpa salah satu anggotanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. India tidak tampil sebagai pemimpin kolektif yang menyatukan sikap BRICS.

Beberapa hari sebelum serangan pertama terhadap Iran terjadi, Perdana Menteri India Narendra Damodardas Modi melakukan kunjungan diplomatik ke Israel pada 25–26 Februari 2026. Kunjungan tersebut menghasilkan peningkatan kerja sama strategis di bidang kecerdasan artifisial, teknologi pertahanan, dan alih teknologi nuklir sipil. Di mata komunitas internasional, langkah ini mengirimkan sinyal bahwa India justru semakin mendekat secara terbuka kepada Israel.

Dari perspektif politik internasional, momentum diplomatik tersebut sangat problematik. Kunjungan tersebut terjadi hanya dua hari sebelum operasi militer terhadap Iran dimulai. Dalam konteks hubungan blok, tindakan ini menimbulkan persepsi bahwa kepemimpinan India di BRICS tidak bersifat netral, melainkan condong pada konfigurasi geopolitik yang berlawanan dengan kepentingan salah satu anggota blok.

Ironi geopolitik semakin terasa ketika pada 4 Maret 2026 sebuah kapal perang Iran yang mengikuti latihan militer bersama di Visakhapatnam, India, dihantam torpedo kapal selam Amerika Serikat di perairan internasional. Serangan tersebut menewaskan 87 awak kapal dari total 130 personel yang berada di kapal tersebut. Peristiwa ini menjadi simbol dramatis dari rapuhnya koordinasi keamanan di dalam BRICS.

Serangan terhadap kapal tersebut menunjukkan bagaimana konflik regional dapat menembus ruang latihan militer multilateral sekalipun. Dalam kerangka perang simetris modern, kekuatan militer negara besar mampu memproyeksikan kekuatan bahkan terhadap aset militer negara lain yang berada dalam lingkungan kerja sama internasional. Situasi ini menempatkan Iran dalam posisi rentan sekaligus menyoroti keterbatasan proteksi kolektif dari bloknya sendiri.

Berbeda dengan India, Rusia dan China justru mengambil posisi yang jauh lebih tegas. Melalui kementerian luar negeri masing-masing, kedua negara mengecam keras agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sikap ini mencerminkan konsistensi strategis kedua negara dalam menolak intervensi militer Barat terhadap negara-negara yang berada dalam orbit kerja sama geopolitik mereka.

Brasil juga menyampaikan kecaman terhadap serangan tersebut. Namun pernyataan Brasil di bawah kepemimpinan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva disampaikan dengan nada diplomatik yang sangat hati-hati. Brasil berusaha menyeimbangkan antara solidaritas terhadap Iran sebagai anggota BRICS dengan kepentingan ekonomi terhadap Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama.

Ketidakmampuan BRICS mengeluarkan pernyataan resmi bersama menjadi indikasi paling jelas dari retaknya solidaritas internal blok tersebut. Dalam diplomasi multilateral, pernyataan kolektif adalah instrumen utama untuk menunjukkan posisi politik bersama. Ketika pernyataan tersebut tidak muncul, pesan yang sampai ke dunia internasional adalah bahwa BRICS tidak memiliki konsensus strategis.

Krisis Iran kemudian memicu perdebatan serius mengenai masa depan BRICS. Sejumlah analis geopolitik mulai mempertanyakan apakah BRICS benar-benar merupakan aliansi strategis, atau sekadar forum ekonomi yang longgar tanpa mekanisme keamanan kolektif. Dalam istilah populer hubungan internasional, muncul pertanyaan apakah BRICS hanyalah “macan kertas”.

Perang Iran pada akhirnya membelah BRICS ke dalam dua spektrum geopolitik. Di satu sisi terdapat negara yang secara tegas menentang agresi militer Barat seperti Rusia dan China. Di sisi lain terdapat negara yang mengambil posisi ambigu atau bahkan cenderung mendekat pada konfigurasi kekuatan Barat seperti India.

Krisis ini semakin kompleks dengan bergabungnya beberapa anggota BRICS seperti Indonesia, Mesir, dan Uni Emirat Arab ke dalam inisiatif Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang dipromosikan oleh Amerika Serikat untuk mendukung kebijakan stabilisasi di Timur Tengah. Langkah ini menciptakan dinamika baru di dalam blok, karena beberapa anggota justru berpartisipasi dalam mekanisme keamanan yang dipimpin Washington.

Bagi Amerika Serikat dan Israel, operasi militer terhadap Iran awalnya diperkirakan akan berlangsung cepat. Strategi yang dibayangkan adalah melemahkan struktur militer Iran sekaligus membuka peluang perubahan rezim. Namun hingga pekan kedua konflik berlangsung, kalkulasi tersebut belum terbukti berhasil.

Iran justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang signifikan dalam perang simetris modern. Teheran memainkan ritme eskalasi dengan meluncurkan rudal balistik, rudal hipersonik, serta gelombang drone tempur yang menyasar berbagai target strategis. Strategi ini bertujuan menciptakan tekanan berkelanjutan tanpa membuka ruang bagi dominasi udara penuh oleh lawan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat adalah pihak yang memulai konflik, namun Iran yang akan menentukan bagaimana perang tersebut diakhiri. Pernyataan ini mencerminkan doktrin strategis Iran yang memadukan perang konvensional dengan ketahanan politik domestik.

Upaya perubahan rezim juga menghadapi kegagalan serius. Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tidak menghasilkan kekosongan kekuasaan seperti yang diperkirakan oleh sebagian analis Barat. Kepemimpinan justru segera dilanjutkan oleh Mojtaba Khamenei, figur yang dianggap sebagai penerus biologis sekaligus ideologis dari garis revolusi Iran.

Dalam perspektif studi perdamaian, perang Iran 2026 menjadi pelajaran penting tentang keterbatasan aliansi geopolitik tanpa fondasi solidaritas keamanan yang jelas. BRICS mungkin tetap relevan sebagai blok ekonomi global, tetapi konflik ini memperlihatkan bahwa tanpa mekanisme keamanan kolektif yang kuat, aliansi tersebut akan terus rapuh ketika menghadapi krisis militer yang nyata.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dunia Siaga Energi, Harga Batu Bara Menguat Imbas Perang Timur Tengah
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ribuan warga Spanyol demo, tuntut konflik Timur Tengah dihentikan
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
325 Bus Mudik Gratis Pemprov Jateng Bakal Diberangkatkan Senin Pagi dari TMII
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Alwi Farhan Ungkap Alasan Selebrasi Emosional Usai Kalahkan Li Shi Feng di Semifinal Swiss Open 2026
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Gibran Prihatin Atas Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.