EtIndonesia. Laporan Joint Chiefs of Staff (South Korea) pada Sabtu (14 Maret) menyebutkan Korea Utara sekitar pukul 13.20 meluncurkan sekitar 10 rudal balistik tak dikenal dari wilayah Sunan menuju perairan timur.
Ini merupakan peluncuran ketiga Korea Utara tahun ini, dan juga kasus langka di mana lebih dari 10 rudal balistik ditembakkan sekaligus.
Menurut laporan Yonhap News Agency, pihak militer Korea Selatan telah memperkuat pengawasan dan kesiapsiagaan terhadap Korea Utara, serta berbagi informasi peluncuran rudal dengan Amerika Serikat dan Jepang sambil mempertahankan tingkat kewaspadaan tinggi. Badan intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat saat ini sedang menganalisis parameter rinci rudal tersebut, termasuk jarak tempuh dan data penerbangannya.
Di masa lalu, Korea Utara biasanya hanya menguji coba beberapa rudal dalam satu kali peluncuran. Oleh karena itu, peluncuran lebih dari 10 rudal balistik sekaligus kali ini tergolong sangat jarang. Analisis awal menyebutkan bahwa langkah ini kemungkinan merupakan demonstrasi kekuatan militer.
Peluncuran rudal ini juga menarik perhatian karena terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan keinginan untuk berdialog dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Beberapa jam sebelum peluncuran rudal, Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok mengatakan bahwa Presiden Trump menganggap pertemuan dengan Kim Jong Un sebagai “hal yang baik”. Trump menyampaikan hal tersebut ketika menerima kunjungan Kim Min-seok di Gedung Putih pada 13 Maret 2026.
Dilaporkan bahwa sejak kembali menjabat sebagai presiden Amerika Serikat setelah memenangkan pemilu tahun lalu, Trump telah beberapa kali menyatakan keinginannya untuk memulai dialog dengan Korea Utara. Namun, kurang dari sehari setelah sinyal dialog tersebut disampaikan, Korea Utara justru merespons dengan demonstrasi militer melalui peluncuran rudal.
Selain itu, para analis menilai provokasi Korea Utara hari itu kemungkinan juga bertujuan memprotes latihan militer gabungan Amerika Serikat–Korea Selatan yang berlangsung dari l 9 hingga 19 Maret dengan nama sandi Freedom Shield.
Selama latihan tersebut, jumlah latihan manuver lapangan (FTX) sebenarnya telah dikurangi menjadi setengah dari tahun lalu, namun Korea Utara tetap mengecamnya sebagai “latihan invasi terhadap Korea Utara.”
Peluncuran ini merupakan provokasi terbaru Korea Utara setelah 47 hari, sejak peluncuran rudal ke perairan timur pada 27 Januari, sekaligus peluncuran ketiga sejak musim dingin tahun ini. (Hui)





