Paparan Radiasi di Mamuju Tembus Sembilan Kali Lipat Rata-rata Dunia, Ternyata Ini Penyebabnya

harianfajar
12 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR, JAKARTA – Wilayah Mamuju di Sulawesi Barat tercatat memiliki tingkat paparan radiasi alam yang hampir sembilan kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia, mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun.

Kondisi ini menempatkan Mamuju sebagai salah satu High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) yang penting secara ilmiah untuk penelitian dampak radiasi jangka panjang terhadap kesehatan manusia.

Apa Penyebabnya?

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN sekaligus perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR, Nur Rahmah Hidayati, menjelaskan bahwa tingginya paparan radiasi di Mamuju terutama disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi dalam tanah.

Konsentrasi uranium-238 dan thorium-232 di beberapa lokasi mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000 Bq/kg, jauh melampaui rata-rata global yang masing-masing sekitar 33 Bq/kg dan 45 Bq/kg.

“Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia,” kata Nur Rahmah.

Kadar Gas Radon Tinggi

Selain itu, kadar gas radon di udara luar Mamuju juga tergolong tinggi, berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³ dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³. Gas radon merupakan salah satu penyumbang utama paparan radiasi alami.

Meski demikian, kondisi bangunan dan gaya hidup masyarakat setempat membantu mengurangi penumpukan radon di dalam rumah. Ventilasi alami serta struktur rumah tradisional membuat konsentrasi radon di dalam ruangan tidak meningkat drastis dibandingkan di lingkungan luar.

Nur Rahmah menegaskan, “Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia.”

Kontribusi Indonesia dalam Studi Radiasi Global

Temuan ini tercantum dalam UNSCEAR 2024 Report – Annex B yang dirilis oleh Komite Ilmiah PBB untuk Efek Radiasi Atom (UNSCEAR), yang mengevaluasi paparan radiasi pengion terhadap masyarakat di berbagai negara.

Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN, Heru Prasetio, mengatakan variasi tingkat radiasi alam di berbagai wilayah dunia merupakan fenomena geologi yang wajar.

“Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia melalui BRIN berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam lewat studi di Mamuju,” jelas Heru.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa data penelitian dari Mamuju menjadi bagian penting dalam kajian internasional mengenai variasi radiasi latar belakang di berbagai belahan dunia sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam riset global di bidang keselamatan radiasi.

Radiasi Alam Jadi Kontributor Utama Paparan Global

Secara global, UNSCEAR menegaskan bahwa sumber radiasi alami tetap menjadi kontributor terbesar paparan radiasi bagi masyarakat dunia. Sebagian besar paparan berasal dari radon yang terhirup melalui pernapasan serta radionuklida alami di tanah dan material bangunan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Lebaran 2026, Rute Commuter Line Merak Dibatasi Hanya Sampai Stasiun Cilegon
• 8 jam lalusuara.com
thumb
BPI KPNPA RI Desak Polda Metro Jaya Transparan dalam Proses Hukum Richard Lee
• 7 menit lalugrid.id
thumb
BGN Suspend Dua SPPG di Sulsel akibat Keterlambatan Distribusi Program MBG
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Xiaomi Pad 8 Series Dorong Produktivitas Kerja Setara PC
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Supersemar: Antara Stabilitas Negara dan Etika Kekuasaan
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.