Masjid Merah Panjunan, Curahan Jiwa Seni Syekh Abdurakhman

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Masjid Merah Panjunan tersusun dari berlapis-lapis anomali. Sebagai tempat peribadatan Islam, fasadnya jauh lebih mirip pura Hindu. Puluhan piring keramik yang menempel di dindingnya juga nyaris tidak ada pada mayoritas masjid di Indonesia. Namun, sejumlah kejanggalan tersebut menjadi kekuatan masjid yang diperkirakan dibangun pada 1480 ini.

Keagungan Masjid Merah Panjunan bisa dipahami, salah satunya dari kacamata seni. Bagi orang yang baru pertama kali mengunjungi Masjid Merah Panjunan di Kota Cirebon, Jawa Barat, besar kemungkinan mereka akan kesulitan menemukan bangunannya secara sekilas.

Terletak di tengah permukiman padat penduduk, bentuk Masjid Merah Panjunan jauh berbeda dari masjid-masjid kebanyakan. Tiada kubah atau bangunan bercat putih maupun hijau yang umumnya menjadi ciri khas mayoritas masjid di Indonesia.

Alih-alih dicat hijau, warna kesukaan Nabi Muhammad, tembok luar Masjid Merah Panjunan terbuat dari bata yang dicat merah. Pintu masuk utamanya berupa gerbang candi bentar. Sementara pada dinding pagar luar terdapat ornamen relief bersimbolkan bunga matahari yang melambangkan pencerahan bagi seluruh umat manusia.

Dominasi warna merah tidak hanya pada dinding luar masjid. Dinding di selasar masjid pun terkesan meriah oleh warna merah. Pengaruh Hindu-Buddha juga terpancar dari desain ukiran pada tiang pilar masjid yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua. Ukiran padma pada bagian ujung atas dan bawah pilar melambangkan bunga teratai yang merupakan simbol kesucian pada ajaran Hindu-Buddha.

“Desain masjid lebih cenderung kepada budaya lokal. Saat itu sebelum Islam masuk ada agama yang sudah kokoh berdiri. Jadi jangan sampai kebiasaan masyarakat setempat yang sudah lahir sebelum ajaran Islam masuk itu hilang,” ujar Juru Kunci Masjid Merah Panjunan, Nasiruddin, saat ditemui langsung di Cirebon, Selasa (3/3/2026).

Baca JugaMasjid Kuno Menyimpan Jejak Peradaban dan Tradisi yang Hidup

Hermana dari Balai Pelestarian Kebudayan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat dalam jurnal bertajuk Arsitektur Masjid Masjid Merah Panjunan Kota Cirebon memaparkan bahwa Masjid Merah Panjunan didirikan pada 1480 oleh Pangeran Panjunan atau Syekh Abdurakhman.

Dalam jurnal tersebut dijelaskan, Syekh Abdurakhman merupakan ahli agama dari Baghdad, Irak, yang mendapat restu dari Pangeran Cakrabuana selaku penguasa Cirebon untuk mengembangkan Islam di wilayahnya. Pangeran Cakrabuana juga memerintakan Syekh Abdurakhman untuk mengembangkan suatu wilayah yang kini disebut Panjunan.

Dalam buku Potensi Wisata Kota Cirebon yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon tahun 2006 juga menyebut pada 1549 masjid ini pernah diperbaiki dengan membuat pagar kuta kosod melalui bantuan dari Panembahan Ratu (Raja Cirebon ke-2).

Nilai seni

Masjid Merah Panjunan juga memiliki sejumlah ornamen unik dengan nilai seni yang tinggi. Pada pintu masuk dibangun sepasang candi bentar dan panel pintu jati berukir. Sementara pada dinding luar dan dalam masjid terdapat hiasan dari piring keramik atau porselin.

Asal-usul hiasan piring keramik ini memiliki beberapa versi. Pertama, konon piring tersebut merupakan hadiah dari Sunan Gunung Jati yang menikah dengan putri China, yaitu Tan Hong Tien Nio. Versi kedua, sekaligus yang dipercaya masyarakat sekitar, menyebutkan piring-piring tersebut adalah hasil dari kerajinan yang dibuat oleh Syekh Abdurakhman.

Selain sebagai ahli agama, Syekh Abdurakhman juga dikenal sebagai seorang seniman. Ia menguasai berbagai macam kesenian, termasuk seni rupa dan seni brai atau seni tradisional sufistik tertua khas Cirebon yang memadukan tembang, shalawat, serta dzikir.

Menurut Nasiruddin, cerita yang berkembang menyebut bahwa Syekh Abdurakhman piawai dalam membuat kerajinan gerabah. Konon, perabot gerabah buatan Syekh Abdurakhman berkualitas sangat baik dan tidak mudah pecah. Oleh sebab itulah banyak orang berbondong-bondong belajar maupun memburu kerajinan gerabah karyanya.

“Dari sana orang berbondong-bondong belanja dan belajar. Nah, dalam proses belanja dan belajar ini beliau menyisipkan beberapa ajaran-ajaran Islam,” ucap Nasiruddin.

Jiwa seni Syekh Abdurakhman tidak hanya tercurahkan ke kerajinan gerabah, tetapi juga pada desain Masjid Merah Panjunan yang ia dirikan. Setiap jengkal bangunan masjid itu bak bernapaskan seni. Selain ukiran pada kayu tiang masjid dan membenamkan piring keramik di dinding, desain Masjid Merah Panjunan terkesan unik, terutama pada bagian candi bentar.

Baca JugaMasjid Kuno Bondan, Panggung Kayu yang Menaklukkan Waktu

Ukiran-ukiran dengan relief bunga matahari hanya terdapat pada sisi kanan candi bentar, sementara sisi lainnya dibiarkan polos tanpa ukiran. Pada bagian tembok mihrab masjid, hanya sisi kanan yang tidak lurus atau sedikit melengkung ke bawah. Padahal, pada sisi sebaliknya desain tembok lurus sempurna.

Seorang seniman kecenderungannya mempunyai gaya serta interpretasi makna sendiri dalam berkarya. Mengenai satu sisi tembok mihrab yang sengaja dibuat bengkok atau melengkung ke bawah, masyarakat sekitar masjid memaknainya sebagai sifat alami manusia yang terkadang bisa berbelok alias tidak senantiasa berjalan lurus.

Sementara itu, pada bagian kubah masjid berbentuk piramida dengan genteng dari kayu trembesi. Kemudian di ujung kubah terdapat memolo dengan gaya mahkota raja yang menambah kesan anggun sekaligus menjadi penanda khas arsitektur masjid kuno tersebut.

Pengukuhan para wali

Selain sebagai tempat peribadatan, catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon menyebutkan bahwa Masjid Merah Panjunan juga menjadi lokasi penting bagi Wali Songo untuk berkumpul dan merancang strategi dalam menyebarkan ajaran Islam.

Di balik mihrab terdapat ruangan semacam aula. Menurut cerita rakyat, ruangan tersebut merupakan tempat para wali dikukuhkan. Ruangan itu hingga kini masih terawat sekaligus menjadi simbol tradisi unik Masjid Merah Panjunan saat hari-hari besar Islam.

Antara mihrab dan ruangan utama masjid terpisahkan pintu kayu berukir. Pada hari-hari biasa, pintu tersebut terkunci dan tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Hanya ada dua momentum penting saat pintu dibuka, yaitu pada Idul Fitri dan Idul Adha.

Malam jelang Idul Fitri dinilai sebagai momen sakral saat-saat umat Islam menyambut hari kemenangan. Pintu ruang utama masjid yang dulunya menjadi saksi bisu pengukuhan para wali itu dibuka sejak malam takbiran hingga usai Shalat Ied.

Setelah berpuasa selama sebulan penuh, artinya umat Islam sudah kembali pada fitrah. Menjadikan diri suci kembali. Oleh karenanya hanya pada momen-momen penting seperti itu pintu ruang utama dibuka. Saat pintu terbuka, semua jemaah termasuk wisatawan dari luar kota diperbolehkan masuk ke dalam ruangan untuk berdoa maupun berdzikir.

Baca JugaKopi Arab Panjunan, Mengalirkan Hangatnya Keberagaman

“Ini sebuah simbolik bahwa pelantikan para wali itu betul-betul dilakukan dan dikukuhkan di Masjid Merah Panjunan. Tradisi membuka pintu ruang utama sebagai perlambang dibukanya dalam waktu satu tahun dua kali itu yaitu bulan Syawal, atau saat malam takbir Idul Fitri dan bulan Dzulhijah tepatnya saat malam Idul Adha,” kata Nasiruddin.

Dari salah satu ruang dinding bata merah dan ragam ornamen yang menghiasi Masji Merah Panjunan, para wali pernah meneguhkan langkah dalam menyebarkan ajaran Islam. Nilai sejarah dan seni yang melekat menjadikan masjid ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga saksi bisu dari denyut sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
4 Ide Aktivitas Ngabuburit di Bulan Ramadan Sambil Menunggu Waktu Berbuka, Cocok Buat Kaum Mageran
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Meski Tidak Terlihat Publik, Iran Sebut Mojtaba Sehat dan Pegang Kendali
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Anomali Lelang KPK, Mengapa Dua HP OPPO Harga Rp73 Ribu Bisa Terjual Rp59 Juta?
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Ini Bukti Transfer Pemerasan oleh Dirresnarkoba Polda NTT 
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Ramadhan Penuh Berkah, Grup PT Pelindo Sinergi Lokaseva Salurkan Lebih dari 4.000 Bantuan Sosial bagi Masyarakat PT Pelindo Siner
• 5 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.