Dudi Sudibyo, salah satu jurnalis dirgantara terbaik Indonesia, berpulang di Jakarta pada Senin (16/3/2026) pukul 01.00 WIB di Jakarta setelah menjalani perawatan karena sakit. Almarhum yang memiliki nama lengkap Roesdiono Soedibyo bin Soedibyo Wirjowerdojo wafat di kediamannya di Kompleks Kompas, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Kepergian sosok yang dikenal luas sebagai wartawan, penulis, dan pengamat penerbangan itu meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, dan komunitas jurnalisme serta dunia aviasi yang selama puluhan tahun menjadi bidang yang ia tekuni.
Dudi dikenal luas sebagai wartawan yang konsisten menulis dan meliput isu penerbangan dan pertahanan. Ia pernah berkiprah sebagai wartawan Harian Kompas serta majalah dirgantara Angkasa.
Dudi lahir di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, pada 19 Maret 1944. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menjembatani isu-isu teknis penerbangan dengan pemahaman publik yang lebih luas, sekaligus mengingatkan pentingnya keselamatan dan transparansi dalam industri aviasi nasional.
Ia juga dikenal sebagai narasumber yang kerap dimintai keterangan tentang berbagai persoalan penerbangan di Indonesia. Dalam dunia literasi dirgantara, ia menulis buku Aviapedia 1 dan Aviapedia 2, dua buku rujukan tentang dunia penerbangan yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Dudi juga pernah menjadi juri dalam ajang Bandara Awards 2017.
Pengakuan terhadap kapasitas Dudi sebagai jurnalis dirgantara datang dari berbagai kalangan. Kepala Staf TNI Angkatan Udara pada 2002-2005, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, dalam artikel “Dirgahayu ‘Kompas’, Sebuah Catatan Pribadi” di Harian Kompas edisi 1 Juli 2025, menyebut Dudi sebagai “salah satu jurnalis dirgantara terbaik Indonesia.”
Chappy Hakim menyebut Dudi sebagai “salah satu jurnalis dirgantara terbaik Indonesia.”
Chappy juga mengenang peran Dudi sebagai sahabat yang membantu memuat artikel penting tentang intersepsi pesawat tempur F-16 TNI AU terhadap F-18 milik Angkatan Laut Amerika Serikat pada awal Juli 2003. Menurut Chappy, publikasi tersebut menjadi salah satu momen penting ketika Kompas membuka ruang informasi mengenai peran Angkatan Udara dalam menjaga kedaulatan wilayah udara nasional.
Dedikasi Dudi juga tercermin dari tulisannya yang berusaha menjelaskan persoalan teknis penerbangan secara jernih kepada publik. Dalam artikel “Sinyal ‘Ping’ Kotak Hitam Terdeteksi, Awal Terkuak Jatuhnya SJ-182” yang dimuat di Harian Kompas edisi 14 Januari 2021, misalnya, ia mengulas secara mendalam proses pengungkapan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021.
Dalam tulisannya, Dudi menekankan bahwa temuan sinyal “ping” dari kotak hitam merupakan langkah awal penting, tetapi penyebab kecelakaan hanya dapat dipastikan setelah data flight data recorder dan cockpit voice recorder dianalisis oleh tim investigasi resmi.
Dalam analisis tersebut, Dudi mengingatkan bahwa kecelakaan pesawat hampir selalu dipicu oleh kombinasi banyak faktor—mulai dari cuaca, kondisi teknis pesawat, hingga faktor manusia. Ia juga menyinggung kemungkinan fenomena cuaca seperti downdraft yang dapat membuat pesawat kehilangan ketinggian secara drastis dalam hitungan detik.
Di balik analisis teknis itu, ia menegaskan pentingnya menjaga standar keselamatan penerbangan Indonesia, terutama di tengah tantangan industri penerbangan yang menghadapi tekanan besar pada masa pandemi.
Di mata keluarga, Dudi bukan hanya wartawan dan penulis, tetapi juga sosok ayah, suami, dan kakek yang hangat. Ia meninggalkan seorang istri, Tati Hartati, serta anak-anaknya Intan Agustina, Aditya Pribadi, dan keluarga besar yang mencintainya. Ia juga meninggalkan cucu-cucu yang menjadi bagian dari kehidupannya: Fira Disyacita, Hana Khansa Putri, dan Athaya.
Jenazah almarhum akan dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Senin (16/3/2026) siang.
Kepergian Dudi Sudibyo menutup perjalanan panjang seorang jurnalis yang menaruh perhatian besar pada dunia kedirgantaraan Indonesia. Namun, gagasan dan catatan yang ia tinggalkan tetap menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang bagaimana keselamatan penerbangan, teknologi dirgantara, dan kedaulatan udara seharusnya dipahami oleh publik.





