Isu mengenai vaksin masih kerap memunculkan berbagai respons di tengah masyarakat. Ada yang langsung menerima dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, ada pula yang masih ragu setelah membaca berbagai informasi yang beredar. Bahkan, sebagian kecil masyarakat secara tegas menolak vaksin.
Vaksinolog sekaligus internis, dr. Dirga Sakti Rambe, M.Sc, Sp.PD, FINASIM, FRSPH, FRCP, menjelaskan bahwa secara umum sikap masyarakat terhadap vaksin dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Hal ini ia sampaikan dalam acara buka puasa bersama yang digelar oleh Bumame di Jakarta Selatan, Kamis (12/3).
1. Kelompok yang Percaya pada Anjuran DokterKelompok pertama adalah masyarakat yang sangat percaya pada rekomendasi tenaga kesehatan. Jika dokter menyarankan vaksinasi, mereka akan langsung mengikuti anjuran tersebut tanpa banyak keraguan.
“Nomor satu itu yang yakin banget, ya. Kalau kita bilangnya sami’na wa atho'na. Jadi kalau dokternya bilang, ‘Pak, bu, vaksin’ Vaksin lah,” tuturnya.
Ia menyebut kelompok ini sebenarnya merupakan kelompok yang paling banyak di masyarakat.
2. Kelompok yang Masih RaguKelompok kedua adalah masyarakat yang masih berada di posisi ragu atau bimbang. Menurutnya, kelompok ini biasanya terdiri dari orang tua yang baru memiliki anak pertama sehingga masih mencari banyak informasi mengenai imunisasi.
Misalnya, mereka bisa merasa yakin saat anak menerima satu jenis vaksin, tetapi kembali ragu ketika akan menerima vaksin lain setelah membaca berbagai informasi di internet atau media sosial.
“Kadang-kadang vaksin A, dia yakin banget. Pak, nanti giliran vaksin B, aduh, abis baca kayak gitu, dia ragu lagi,” kata dr. Dirga.
Ia juga menegaskan bahwa kelompok ini tidak boleh langsung dilabeli sebagai antivaksin. Justru mereka membutuhkan edukasi yang tepat agar mendapatkan pemahaman yang benar mengenai vaksin.
3. Kelompok AntivaksinKelompok ketiga adalah masyarakat yang secara tegas menolak vaksin atau dikenal sebagai antivaksin. Namun, jumlah kelompok ini sebenarnya sangat kecil dibandingkan dua kelompok lainnya.
Sebagai dokter yang aktif di media sosial, ia pun mengaku cukup sering berhadapan dengan kelompok antivaksin. Menurutnya, sebagian dari mereka memiliki pandangan yang sudah sangat kuat sehingga sulit diubah.
“Jadi, antivaksin secara jumlah sangat sedikit, amat-amat sedikit. Tapi, ideologinya gak bisa diubah,” imbuhnya.
Meski begitu, fenomena antivaksin ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara lain pun terdapat kelompok serupa dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.





