REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Iran menegaskan penolakannya yang tegas terhadap segala pembicaraan mengenai gencatan senjata dalam konfrontasi saat ini dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ini dengan pertimbangan bahwa setiap upaya meredakan ketegangan saat ini dapat membuka jalan bagi serangan-serangan lebih lanjut terhadap wilayahnya di masa depan.
Baca Juga
Benarkah Netanyahu Tewas? Ini Penelusuran Kantor Berita Turki dan Misteri yang Belum Terjawab
Ada Jejak Almarhum Muamar Gaddafi Libya di Balik Kedigdayaan Rudal-Rudal Iran Masa Kini
Diakui Militer Dunia, Ini Tabir 'Bapak Rudal’ Sosok Utama di Balik Dahsyatnya Senjata Iran
Dalam konteks ini, kepada Aljazeera, secara khusus, dikutip Senin (16/3/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya tidak meminta gencatan senjata apa pun dan tidak membahas penghentian perang.
Dia menegaskan posisi tersebut disepakati bersama antara kepemimpinan politik dan militer, dan didasarkan pada pertimbangan strategis yang jelas.
/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%} .rec-desc {padding: 7px !important;}
Manajer Kantor Aljazeera di Teheran, Nuruddin Al-Daghir, mengutip sumber-sumber Iran yang mengetahui masalah ini bahwa alasan utama penolakan tersebut adalah keyakinan bahwa gencatan senjata saat ini dapat melemahkan kemampuan Iran untuk melakukan pencegahan di masa depan.
Pimpinan militer Iran berpendapat bahwa meningkatkan biaya perang bagi Israel dan Amerika Serikat—menurut sumber-sumber tersebut—adalah cara untuk memastikan serangan tidak terulang dan bahwa penghentian sementara apa pun dapat memberi ruang bagi lawan untuk menekan secara politik dan ekonomi.
Selain itu, sumber-sumber Iran berpendapat bahwa pembicaraan tentang gencatan senjata dimanfaatkan oleh media Amerika untuk tujuan politik dan ekonomi, terutama untuk mempengaruhi pasar energi.
Hal ini karena Iran berusaha melalui Selat Hormuz untuk menciptakan ketegangan yang menaikkan harga minyak ke level rekor, yang mungkin mendorong Washington dan Israel untuk menerima penghentian perang dengan syarat tertentu atau untuk mencapai semacam keseimbangan dalam negosiasi.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)