JAKARTA, KOMPAS.com - Gangguan mental hoarding disorder sering kali membuat rumah seseorang berada dalam kondisi sangat berantakan.
Sebab, salah satu gejala gangguan mental ini adalah kesulitan ekstrem bagi seseorang untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang yang dimilikinya, terlepas dari nilai maupun kegunaan sebenarnya.
Banyak orang yang mengalami hoarding disorder tanpa menyadari bahwa mereka menumpuk barang-barang bekas yang sebenarnya sudah tidak lagi terpakai di rumah.
Baca juga: Ada 446 Lapangan Padel di Jakarta, Hanya 2 yang Punya Sertifikat Laik Fungsi
Bukan hanya barang bekas. Pada tahap gejala yang sudah parah, seseorang dengan hoarding disorder bahkan tidak mempermasalahkan jika harus hidup di dalam rumah yang dipenuhi sampah.
Imbasnya, orang-orang yang mengalami hoarding disorder juga membuat anggota keluarganya harus dapat hidup berdampingan dengan benda-benda tak terpakai yang menumpuk, rumah berantakan, dan lain sebagainya.
Tak jarang, kondisi ini membuat pengidap hoarding disorder berkonflik dengan keluarganya yang tinggal di satu rumah.
Belasan tahun hidup dengan barang tak terpakaiKondisi yang demikian pernah dialami oleh salah satu warga Manggarai, Jakarta Selatan, Ahmad (bukan nama sebenarnya, 27).
Ia bercerita bahwa dahulu kondisi rumahnya sangat berantakan karena dipenuhi barang-barang yang sudah tidak terpakai dan seharusnya dibuang.
"Dari pertama pindah ke Manggarai sampai zaman Covid-19, hampir masa kecil saya sampai gede hidup dengan kondisi rumah berantakan dan hampir hidup sama barang enggak penting kayak sampah juga dulu pernah, pas masih ada orangtua," ungkap Ahmad saat diwawancarai di sekitaran Manggarai, Jumat (20/3/2026).
Ahmad mengatakan, kondisi rumah yang selalu berantakan itu terjadi karena mendiang kedua orangtuanya tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk merapikan rumah sejak kecil.
Sejak dulu, kata Ahmad, dirinya dan keempat kakaknya tidak pernah mendapatkan edukasi dari orangtua mengenai barang mana yang harus dibuang dan mana yang seharusnya disimpan.
Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak terbiasa memilah barang dan cenderung menumpuknya di rumah, meskipun barang tersebut sudah tidak lagi digunakan.
Baca juga: Pelukan Orangtua untuk Anak Lebih Bermakna Dibanding Gadget
"Enggak bisa buat memilah barang, sampai tingkat paling parah menyimpan sampah di rumah dan tumpukan baju dan barang yang enggak layak pakai," sambung dia.
Tak bisa berbuat banyakAhmad mengaku bahwa sebenarnya sudah merasa terganggu dengan kondisi rumahnya yang sangat berantakan dan kotor sejak ia masih kecil.
Ia kerap bertanya dalam hati mengapa kondisi rumahnya sangat berbeda dengan rumah teman-temannya yang terlihat lebih rapi dan bersih.
Akibatnya, Ahmad menjadi pribadi yang sangat tertutup dan tidak pernah mengajak teman bermain ke rumahnya.
Ia khawatir kondisi rumah yang kotor dan penuh barang tidak terpakai itu justru akan memunculkan komentar negatif dari teman-temannya.
"Cuma saya enggak bisa apa-apa dulu karena anggota rumah juga enggak bisa milah barang," tutur dia.





